Universitas Mpu Tantular Gelar Seminar Nasional dan Deklarasi Kampus Bhinneka Tunggal Ika

Berita1492 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Universitas Mpu Tantular (UMT) Jakarta gelar acara seminar nasional mengusung tajuk “Mengaktualisasikan Kembali Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Jatidiri Bangsa Indonesia” di Aula Hiobadja lantai 8 Kampus Universitas Mpu Tantular di bilangan Cipinang, Jakarta Timur,  Rabu (12/7/ 2017).

Seminar dihadiri ratusan peserta itu berlangsung cukup semarak dan dinamis. Hadiri dalam kesempatan itu, Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, Guru Besar Ilmu Manajemen, Warek IV Ubhara Jakarta, Diah Ayu Permatasari, ST, SIP, M.IR, Monang Sitorus (mantan Bupati Tobasa), Yayasan Budi Murni Jakarta, jajaran Universitas Mpu Tantular, yakni: BPH, Rektorat, Dekanat, Struktural, serta para mahasiswa, dan perwakilan unsur siswa sekolah setingkat Menengah Atas atau SMA kawasan Jakarta Timur dan Bekasi, kemudian tetamu undangan perwakilan ormas, baik dari luar kampus, tokoh masyarakat, tokoh agama, undangan dari kampus di Jakarta dan Bekasi, undangan dari unsur lain juga.

Terkait tema yang diusung dalam seminar tersebut,”Mengaktualisasikan Kembali Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Jatidiri Bangsa Indonesia,” seirama situasi maraknya terkait issue radikalisme dan isu khilafah beberapa waktu belakangan disinyalir mencoba-coba menggugat ideologi Negara, Pancasila.

Disamping itu, tokoh pujangga ‘Mpu Tantular’ sendiri yang memunculkan konsep tatanan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ seperti yang termuat dalam buku Sutasoma, maka itulah sekaligus diteguhkan di Universitas Mpu Tantular.

Ketua Yayasan Budi Murni Jakarta,yang menaungi Universitas Mpu Tantular, Budi P. Sinambela, BBA, saat menjadi Keynote speaker mengulas kembali ‘flash back’ kisah munculnya kata ‘Bhinneka Tunggal Ika’ pertama kali, di kitab Sutasoma. Dirinya mengatakan,”Nama besar Mpu Tantular pula yang menjadi inspirasi pendirian Universitas Mpu Tantular pada tahun 1984, yang digawangi Prof. DR. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT waktu itu) Tarnama Sinambela Kusumonagoro, bersama partnernya Dr. M.O Tambunan, Jasudin Panjaitan dan beberapa lainnya,” paparnya.

Menurutnya, sejatinya, semboyan Bhineka Tunggal Ika tersebut ditemukan dalam kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad XIV pada masa Kerajaan Majapahit. Di dalam kitab sutasoma tersebut Mpu Tantular menuliskan kalimat yang intinya bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina(Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua.

Selain itu, selaku narasumber terundang Prof. Dr. Yudi Latif, yang menjabat Ketua Unit Kerja Presiden, Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila, dan Yenni Wahid, sebagai Aktivis Kebhinnekaan/ Direktur Wahid Institute, turut terundang guna mengupas Term of Reference (TOR).

Dalam sesi acara Seminar Nasional diawali upacara Nasional menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, disusul dengan hening cipta, pembacaan Teks Pancasila oleh Dekan Fakultas Maritim, Alfais Amin, S.Sos, MM.PIA. Kemudian Ketua Panitia, Dr. Rr. Dijan Widijowati, SH, MH menyampaikan laporannya, dilanjutkan sambutan Rektor Universitas Mpu Tantular, Dr. Ir. Mangasi Panjaitan, ME.

Bambang Suroso, SH, MH, selaku moderator saat sesi seminar mengundang tampil Dr. Anas Saidi, yang menjabat Deputi I Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden- Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) sebagai pengganti narasumber Prof. Dr. Yudi Latif.

Sedangkan Yenni Wahid, digantikan oleh Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, Sosiolog dan Budayawan NU dan Dosen Pasca Sarjana IAIN Yogyakarta, yang dulu dikenal sebagai jurubicara pribadi Alm. Presiden Gus Dur.

Dalam paparannya, Anas Saidi mengatakan, enam bulan terakhir berkembang politik primordialisme, yang bisa menimbulkan perpecahan.“Sebab mencoba-coba mengganti ideologi, itu sudah tergolong subversi ideologi. Sebab Indonesia, bukan negara agama,” ucapnya.

Oleh karena itu, paparnya mengemukakan siapapun yang berkeinginan menentang ideologi Negara, patut diambil tindakan keras.

Sementara itu, Zastrouw mengatakan, sejak dulu, Nusantara itu sejak ada, sudah kodratnya beragam.“Beragam suku, agama, ras, dengan segala latar belakangnya. Oleh sebab itu, siapapun harus menerimanya. Tidak bisa yang satu menindas yang lain, yang satu menyakiti lainnya,” bebernya.

Perihal Universitas Mpu Tantular ingin menjadikan kampus Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pusat Studi Kajian Kebhinnekaan, Zastrow sangat mendukung.

“Saya sangat mendukung, apabila Universitas Mpu Tantular ingin mendeklarasikan kampus ini sebagai Kampus Bhinneka Tunggal Ika, dan membuat Pusat Studi Kebhinnekaan. Namun harus serius mengkaji kitab Sutasoma yang berjilid-jilid itu,” tandasnya.

Selanjutnya, usai pemaparan para narasumber, dilanjutkan sesi tanya-jawab, para mahasiswa cukup antusias menanyakan berbagai hal dijelaskan.

Usai sesi seminar, acara dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Kampus Bhinneka Tunggal Ika-Universitas Mpu Tantular, yang dibacakan oleh Rektor, Mangasi Panjaitan, dan pemukulan gong oleh Ketua Yayasan, Budi P. Sinambela diatas panggung, lalu saat gong berbunyi ketiga kali, dalam gerakan cepat, beberapa mahasiswa membentangkan spanduk ‘Kampus Bhinneka Tunggal Ika-Universitas Mpu Tantular’ disentak bunyi party poppers (kertas tembak selebration) keatas. Disambut langsung lagu ‘Kebyar-kebyar’ oleh Danny PH Siagian, SE, MM, Sekretaris Panitia.

Pasca acara seminar dilakukan prosesi penyerahan plakat pada pembicara diwakili oleh Bendahara Yayasan, Dewi Christina Sitorus, SE dan Rektor, dan penutupan acara dengan doa, dipimpin Wakil Rektor III, Suyitno, SE, MM.[Nicholas]

Comment