Prof. Biyanto: Ganti Menteri Bukan Berarti Ganti Kurikulum

Pendidikan10 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Prof. Dr. Biyanto, M.Ag, menegaskan pergantian menteri tidak identik dengan pergantian kurikulum.

Menurut dia, Kemendikdasmen saat ini tetap menggunakan Kurikulum Merdeka, sementara yang diperkuat adalah pendekatan pembelajarannya.

Hal itu disampaikan Prof. Biyanto dalam Sajid Friday Morning Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) di AQL Islamic Center, Jakarta, Jumat (17/7/2026).

“Yang kami lakukan itu istilahnya menyempurnakan, terutama dari sisi pembelajaran. Pak Menteri mengenalkan yang disebut dengan deep learning, pembelajaran mendalam. Nah, pembelajaran mendalam itu bukan kurikulum baru, itu adalah pendekatan dalam hal pembelajaran,” kata Prof. Biyanto.

Ia menjelaskan, pendekatan tersebut mengajak para guru untuk lebih sering melakukan refleksi terhadap proses belajar mengajar yang telah dilakukan.

“Nah, ini yang sering kali tidak dilakukan oleh guru-guru kita. Bercermin itu kalau dalam bahasa deep learning adalah refleksi. Jadi ketika literasi, numerasi anak-anak kita rendah, itu mestinya guru bercermin. Karena guru itu ujung tombak pendidikan, ujung tombak pembelajaran,” ujarnya.

Menurut Prof. Biyanto, kualitas pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh kualitas guru, bukan semata-mata oleh kurikulum.

“Sebaik apa pun kurikulum itu dirancang, sebaik apa pun regulasi itu dibuat oleh pakar ahli sekali pun, ujung tombaknya guru. Karena itu guru segalanya. A teacher is anything. Guru adalah segalanya,” katanya.

Ia mengatakan, deep learning memiliki tiga pilar utama, yakni mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning.

“Mindful learning mengajak anak-anak berkesadaran bahwa belajar itu penting untuk masa depannya. Kemudian meaningful learning, mengaitkan pembelajaran dengan dunia nyata. Supaya yang dipelajari anak-anak tidak terpisah dari kehidupan,” ujarnya.

Prof. Biyanto mencontohkan, pembukaan jurusan di sekolah kejuruan harus disesuaikan dengan potensi daerah.

“Kadang-kadang ada SMK di pegunungan membuka jurusan teknik jaringan komputer. Mestinya bisa kehutanan atau pertanian. Jadi yang dipelajari anak-anak itu dekat dengan dunia nyata. Yang penting bukan sekadar selama anak berada di sekolah, tetapi sekolah menyiapkan mereka menghadapi kehidupan,” katanya.

Pilar ketiga, lanjut dia, adalah joyful learning atau pembelajaran yang menggembirakan agar peserta didik tidak merasa jenuh selama belajar.

Prof. Biyanto menegaskan, Kurikulum Merdeka tetap menjadi kurikulum yang digunakan saat ini. Selain memperkuat pendekatan pembelajaran, Kemendikdasmen juga menambahkan materi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KAK), serta menyiapkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai 2027.

“Jadi poin pertama yang saya sampaikan, kami tidak mengubah kurikulum. Kurikulumnya tetap Kurikulum Merdeka. Yang kami lakukan adalah memperkuat pembelajarannya, deep learning. Ditambah dengan Koding dan Kecerdasan Artifisial, serta Bahasa Inggris yang kami wajibkan mulai 2027 karena ingin menjawab tantangan dunia global,” ujar Prof. Biyanto.

Ia pun berpesan agar para guru tidak takut menghadapi perubahan.

“Kalau kami berpesan pada guru-guru, jangan anti perubahan. Lebih baik menyiapkan diri. Mesti ada yang diganti, mesti ada yang berubah. Sehingga kalau ada perubahan, siap, enggak ada masalah,” katanya.[]

Comment