73 Santri SHQ Diwisuda, Ustaz Bachtiar Nasir: Al-Qur’an Harus Diamalkan Sepanjang Hayat

Pendidikan54 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sebanyak 73 santri dan santriwati Sekolah Hafizh Quran (SHQ) mengikuti Wisuda dan Haflah SHQ 1448 H di Ballroom Nyi Ageng Serang, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Para wisudawan berasal dari SHQ Tebet Jakarta, SHQ Zamrud Bekasi, SHQ Galaxy Bekasi, SHQ Ciputat, SHQ Bintaro, dan SHQ Bandung. SHQ merupakan unit pendidikan Al-Qur’an di bawah AQL Islamic Center.

Acara tersebut dihadiri Pendiri sekaligus Pembina SHQ Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), Syekh Dr. Muhammad Al-Dasuqi Amin Muhammad Kahila, pakar tafsir dan ilmu Al-Qur’an dari Al-Azhar Mesir sekaligus Direktur Markaz Kahila li-Dirasati Qur’aniyyah, para orang tua santri, serta tamu undangan.

Dalam sambutannya, Ustaz Bachtiar Nasir mengatakan SHQ dibangun sejak 11 tahun lalu dengan visi menghadirkan pendidikan tahfiz Al-Qur’an yang dapat diakses keluarga tanpa harus memondokkan anak sejak usia dini.

Menurut dia, banyak orang tua menginginkan anak menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi tetap dapat tumbuh bersama keluarga. Karena itu, SHQ berupaya menghadirkan model pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

UBN menilai berbagai dinamika yang dihadapi selama perjalanan SHQ justru memperlihatkan bahwa kekuatan utama lembaga tersebut terletak pada keberkahan Al-Qur’an.

Ia menyebut keberhasilan para santri tidak hanya berasal dari peran pengelola dan guru, melainkan dari proses pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an.

Ia juga menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan hasil dari doa dan ikhtiar panjang para orang tua, guru, serta keluarga dalam membentuk generasi Qurani yang berakhlak mulia.

Sementara itu, Syekh Dr. Muhammad Al-Dasuqi Amin Muhammad Kahila mengingatkan bahwa tujuan menghafal Al-Qur’an bukan hanya menjaga hafalan, tetapi juga mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut ulama Al-Azhar tersebut, persoalan yang lebih besar bukan sekadar lupa terhadap hafalan, melainkan lalai mengamalkan ajaran Al-Qur’an.

Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk dipahami, kemudian diamalkan dalam setiap aspek kehidupan.

Ia juga mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW adalah perintah membaca (Iqra’), yang menjadi landasan pentingnya menuntut ilmu dan terus berinteraksi dengan Al-Qur’an sepanjang hayat.

Suasana haru mewarnai prosesi wisuda ketika sejumlah orang tua menyampaikan pengalaman mereka mendampingi anak selama menempuh pendidikan di SHQ.

Wali santri asal Jakarta, Revi Sulistiorini, mengaku bersyukur kedua putrinya dapat menempuh pendidikan di SHQ.

Putri sulungnya telah belajar sejak usia tiga tahun selama 10 tahun dan kini melanjutkan pendidikan di pesantren berasrama.

Menurut Revi, SHQ tidak hanya membekali santri dengan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan kebiasaan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai pembiasaan salat tepat waktu, kedisiplinan, serta adab menjadi capaian yang sama pentingnya dengan jumlah hafalan.

Kesaksian serupa disampaikan Gufron Baehaki, ayah dari Haifa Fakhrani, santri SHQ Bandung penyandang Down syndrome. Ia mengaku sempat ragu ketika mendaftarkan putrinya hampir tujuh tahun lalu.

Namun, ia menyaksikan perubahan positif pada putrinya yang menjadi lebih santun, mandiri, dan semakin mencintai Al-Qur’an berkat bimbingan para ustaz dan ustazah.

Gufron berharap para wisudawan tidak berhenti menghafal setelah menyelesaikan pendidikan di SHQ. Menurut dia, keberhasilan pada hari wisuda merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar, yakni menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang kehidupan.

Wisuda dan Haflah SHQ 1448 H menjadi momentum apresiasi atas perjuangan para santri, guru, dan orang tua dalam membangun generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sehari-hari.[]

Comment