Penulis: Nurul Soraya Saragih | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Generasi muda merupakan penentu arah masa depan bangsa. Di pundak merekalah harapan untuk melanjutkan estafet pembangunan dan menghadirkan perubahan yang lebih baik. Namun, di balik berbagai potensi yang dimiliki, kondisi kesehatan mental generasi muda justru memunculkan keprihatinan.
Hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menunjukkan hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sebanyak 116 kasus bunuh diri pada anak usia 10–18 tahun selama periode 2023–2025.
Data Kepolisian Negara Republik Indonesia juga menunjukkan kasus bunuh diri pada anak usia 0–15 tahun meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 604 kasus pada 2022 menjadi 1.498 kasus pada 2024.
Adapun pada 2025, Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat dari total 1.343 kasus bunuh diri, sekitar 7,66 persen di antaranya melibatkan anak berusia di bawah 17 tahun, sebagaimana dikutip Tirto.id edisi 12 Maret 2026.
Survei yang dipublikasikan GoodStats pada 8 April 2026 juga memperlihatkan bahwa kekhawatiran terhadap masa depan menjadi penyebab terbesar gangguan kesehatan mental di kalangan generasi muda, yakni mencapai 60 persen.
Faktor lainnya meliputi tekanan finansial (57 persen), ekspektasi sosial (42 persen), serta perasaan tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali (36 persen).
Adapun dampak yang paling banyak dirasakan ialah perubahan suasana hati (mood swing) sebesar 62 persen, gangguan tidur 50 persen, kecemasan berlebih 38 persen, serta kesulitan mengelola emosi sebesar 38 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental di kalangan Generasi Z bukan lagi isu pinggiran, melainkan fenomena yang semakin nyata. Bahkan, kondisi serupa juga terjadi di berbagai negara sehingga menjadi perhatian dunia.
Kecemasan yang dialami Generasi Z tidak lahir begitu saja. Berbagai krisis yang melanda kehidupan modern menjadi faktor yang saling berkaitan. Persoalannya bukan sekadar masalah individu, melainkan juga menyangkut aspek sosial, ekonomi, hingga krisis nilai.
Dalam pandangan penulis, peradaban sekuler-kapitalistik telah melahirkan budaya materialisme dan kompetisi yang menjadikan keberhasilan semata-mata diukur dari pencapaian materi.
Media sosial turut memperkuat tekanan agar setiap individu selalu tampak sempurna, sukses, dan diterima lingkungan. Akibatnya, banyak anak muda merasa tertinggal ketika realitas hidup tidak sejalan dengan gambaran ideal yang mereka lihat setiap hari.
Di sisi lain, berbagai persoalan seperti biaya pendidikan yang semakin tinggi, lapangan pekerjaan yang terbatas, meningkatnya biaya hidup, hingga kebijakan ekonomi yang dinilai memberatkan masyarakat semakin memperbesar beban psikologis generasi muda.
Alih-alih memperoleh dukungan, tidak sedikit di antara mereka justru menerima stigma negatif dari generasi sebelumnya sehingga memperparah tekanan mental yang mereka alami.
Pada akhirnya, krisis yang dihadapi Generasi Z bukan hanya persoalan kesehatan mental ataupun ekonomi, tetapi juga krisis makna hidup.
Ketika kebahagiaan hanya diukur melalui pencapaian materi dan pengakuan di media sosial, kegagalan memenuhi standar tersebut mudah memunculkan kecemasan, bahkan keputusasaan.
Di balik berbagai tantangan tersebut, muncul pula fenomena positif. Banyak anak muda mulai mempertanyakan arah kehidupan, sistem pendidikan, dunia kerja, hingga nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Sikap kritis ini dapat menjadi modal perubahan apabila diarahkan kepada nilai yang benar.
Islam memberikan landasan yang kokoh mengenai tujuan hidup manusia. Kehidupan tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar kesuksesan dunia, melainkan untuk beribadah kepada Allah Swt. sekaligus menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Dengan tujuan hidup yang jelas, seseorang memiliki pijakan dalam menghadapi berbagai ujian. Allah Swt. berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Sejarah Islam juga membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi motor perubahan peradaban. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Al-Fatih, Muhammad bin Qasim, dan Usamah bin Zaid memikul amanah besar sejak usia muda.
Mereka dibentuk melalui akidah yang kokoh, akhlak yang mulia, serta semangat menuntut ilmu sehingga mampu memberikan kontribusi besar bagi umat.
Dalam Islam, pembinaan generasi bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga negara. Negara berkewajiban menjamin pendidikan yang berkualitas, memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, menciptakan lapangan kehidupan yang layak, serta menghadirkan lingkungan yang mendukung lahirnya generasi yang beriman, berilmu, dan berdaya.
Karena itu, di tengah berbagai tantangan zaman, generasi muda Muslim perlu kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup.
Dengan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh serta memiliki kepedulian terhadap kondisi umat, Generasi Z tidak hanya mampu keluar dari krisis yang mereka hadapi, tetapi juga berpeluang menjadi generasi yang menghadirkan perubahan serta mengembalikan kejayaan peradaban Islam.[]









Comment