by

Adi Victoria*: Pentingnya Dakwah Fikriyah Untuk Membangun Kesadaran Umat

 Adi Victoria
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seseorang yang sakit,  namun ia tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit,  maka ia tidak akan minum obat, karena merasa dirinya sehat-sehat saja.  Oleh karena itu,  perlu diberitahu tahu kalau ia sedang sakit,  sehingga ia menjadi sadar,  dan mau minum obat tersebut.
Begitu pula dengan ummat ini. Umat Islam sekarang sedang sakit. Namun, masih banyak kaum muslim yang belum sadar bahwa dirinya sedang sakit. Karena tidak adanya kesadaran bahwa sedang sakit tersebut, maka tidak ada yang mau meminum obat untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Tentu hal ini adalah wajar. Seseorang yang sedang tidak merasa sedang sakit, tentu tidak akan mau meminum obat, karena merasa dirinya sehat atau baik-baik saja.
Kalau boleh menggunakan salah satu dari empat (4) type manusia yang dibuat oleh hujjatul Islam yakni Imam al-Ghazali bahwa Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak Tahu, dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu). Yakni bisa kita samakan dengan  seseorang yang tidak sadar bahwa dia sedang sakit.
Dengan dakwah pemikiran, ummat diajak untuk berfikir mengenai realitas yang sedang terjadi terhadap umat Islam. Sehingga kemudian mereka menjadi sadar bahwa ternyata memang sedang ada masalah yang terjadi, khususnya masalah yang menimpa umat Islam.
Dakwah Fikriyah adalah aktivitas dakwah untuk mengubah pola pikir masyarakat, yakni mengubah pola pikir masyarakat yang awalnya tidak berpikir secara Islam menjadi pola pikir secara Islami. Karena pemikiran hanya bisa diubah dengan memberikan pemikiran yang baru karena faktanya pemikiran hanya bisa diubah dengan pemikiran pula, bukan dengan aktivitas yang lain (baca : fisik).
”الظلم ليس مدعاة للثورة ولكن الاحساس بالظلم هو المدعاة لذلك“(العلامة أحمد عيد عطيات, الطريق)
“Kedzaliman itu bukanlah faktor pendorong terjadinya perubahan mendasar (revolusi), tetapi kesadaran akan adanya kedzalimanlah yang mendorong hal tersebut (revolusi)”[Syaikh Ahmad ‘Id ‘Athiyaat, al-Thariiq]
إنالانسانلايفكربالتغييرإلاإذاأدركانهناكواقعافاسداأوسيئاأوأقلجودةمماينبغي, وحتىيحصلهناالإدراكفلابدمنالإحساسبفسادالواقع. إلاأنمجردالوعيعلىالفسادأوالواقعالفاسدلايكفيللعملمنأجلالتغييربللابد–بالإضافةالىذلك- منالوعيعلىالواقعالبديلللواقعالفاسد
“Sesungguhnya, manusia tidak akan berfikir tentang perubahan, kecuali jika ia menyadari bahwa di sana ada realitas yang rusak, buruk, atau paling sedikit tidak sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Agar di sana terjadi kesadaran (untuk berubah), maka harus ada penginderaan terhadap rusaknya realitas. Hanya saja, sekedar sadar terhadap kerusakan atau realitas yang rusak, tidak cukup untuk melakukan perubahan. Di samping sadar terhadap kerusakan realitas hidupnya, harus ada pula kesadaran terhadap realitas pengganti (realitas yang dicita-citakan) yang digunakan untuk mengganti realitas yang rusak tersebut”.[Syaikh Ahmad ‘Athiyaat, At Thariiq, hal. 21-22].[]
*  Aktivis dakwah

Comment

Rekomendasi Berita