by

Ahok Sangat Tidak Tepat Diumpamakan Dengan Seekor Ikan Nemo

Finding Nemo.[Google]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam pledoi persidangan penista agama yang digelar di Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (25/4) Ahok yang menjadi tersangka penista agama dan melanggar pasal 156a itu membacakan pledoi dengan mengumpamakan seekor ikan kecil bernama Nemo dalam film Finding Nemo.
Film dengan tokoh utama seekor ikan kecil bernama Nemo yang diproduksi tahun 2003 itu dijadikan ibarat oleh Ahok sebagai sepak terjang dirinya selama
menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ketika dirinya ditanya sejumlah
anak TK di Balaikota DKI Jakarta.
Dalam film tersebut digambarkan sejumlah ikan terperangkap jaring nelayan, ikan
kecil Nemo mengajak seluruh ikan yang ada di jaring tersebut untuk
mengikuti dirinya, berenang ke arah bawah. Tapi tidak ada ikan yang mau
mengikutinya, sebab berenang ke arah bawah jaring adalah tindakan
melawan arus air laut.
Meski banyak ditentang, Nemo tak hentinya mengajak para ikan tersebut
mengikuti langkahnya agar bisa terbebas dari perangkap jaring nelayan.
Akhirnya, ikan-ikan tadi mengikuti Nemo yang berenang ke arah bawah
jaring, melawan arus air laut. Dan, ikan-ikan itu pun terbebas, meski si
ikan kecil Nemo pingsan karena kelelahan.
Ini perumpamaan yang sangat bertolak belakang dengan fakta Ahok dengan sejumlah kasus seperti Sumber Waras, Reklamasi dan Audit BPK terhadap laporan APBD DKI yang sebelumnya Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) menjadi Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Sebagai pemimpin yang menganggap dirinya sebagai Nemo itu, Ahok mengakui hasil pemeriksaan BPK tersebut namun mengarahkan kesalahan kepada PNS lain.
“Sebab, hasil pemeriksaan BPK ini menunjukkan memang PNS DKI masih banyak yang nekat mencoba menyelewengkan anggaran.” Ujar Ahok 
Kesalahan oleh anak buah sesungguhnya kesalahan dari pemimpin. Salah arahan dan tidak terbangunnya komunikasi dua arah secara sempurna. Dalam analogi lain, penumpang sebuah bus yang jatuh terjerembab ke dalam jurang disebabkan oleh sang pengemudi dan bukan oleh penumpang. Pemda DKI adalah sebuah bus dan SKPD adalah penumpang dan Gubernur/Wakil adalah pengemudi. Dalam sebuah kecelakaan, pengemudilah yang dimintakan pertanggung-jawaban bukan penumpang. 
Masih ingat kasus mobil TransJakarta yang diimport Pemda DKI dari negeri China yang berkarat dan banyak terbakar? Udar yang saat itu menjabat sebagai Kadishub DKI pun menjadi korban. Di manakah kesesuaian logika perumpamaan Nemo dan Ahok?
Anak-anak TK yang diberikan penjelasan tentang Ahok yang meurutnya melawan arus itu tentu saja sangat terkesan dengan perumpamaan dirinya dengan seekor ikan Nemo yang berjuang dan melawan arus. Di benak anak TK itu tertanam sebuah patriotisme Ahok yang luar biasa. Anak TK tidak tahu sepak terjang Ahok yang sebenarnya. Kalau anda yang diberikan logika tersebut, adakah Ahok sesuai dengan perjuangan seekor Nemo?
Tindakan Ahok justru berlawan dengan Nemo si ikan kecil itu. Tindakan sewenang-wenang saat menggusur warga dan masyarakat kecil di DKI justeru lebih menggambarkan Ahok sebagai singa yang lapar. Kesewenagan Ahok di Bukit Duri, Jakarta Selatan malah lebih jelas karena ternyata penggusuran tersebut dinyatakan salah oleh PTUN dan Pemkot Jakarta Selatan harus mengganti rugi warga. Ahok menggusur warganya dengan cara yang tidak berprikemanusiaan dan sewenang-wenang.
Dengan fakta fakta di atas, pantaskah kemudian Ahok mengumpamakan dirinya dengan ikan Nemo yang sangat patriotis itu? Nemo menolong dengan melepaskan ikan lain dari jaring perangkap nelayan, siapakah yang diselamatkan Ahok? Sebuah perumpamaan yang sangat kontras dan bertolak belakang.Ada ada saja kau Ahok.[GF]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − four =

Rekomendasi Berita