Alfira Khairunnisa: Refleksi Akhir Tahun, Menyongsong Persatuan dan Kebangkitan Umat

Berita1007 Views
Alfira Khairunnisa
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tak terasa 2018 akan segera berakhir,  dan akan memasuki tahun baru yakni tahun 2019.
Dipenghujung tahun 2018 ini berbekas jejak-jejak langkah dinamika perpolitikan nasional
di Negeri ini. Pergerakan dakwah beserta tantangannya pun turut melengkapi derap
langkah dan ragam berita, baik di media massa cetak maupun elektronik. Media
sosial tak kalah heboh menyajikan informasi terkait liputan disepanjang tahun
2018 ini.
Menengok kebelakang bahwa disepanjang 2018 banyak isu
berkembang. Perpolitikan kian memanas. Adu strategi jitu antara dua kubu capres/cawapres
untuk memikat hati rakyat tak kalah panas. Sementara itu Dakwah Islam makin
dihadang, bukan hanya Ulama yang dipersekusi, simbol-simbol Islam turut dipersekusi.
Meski demikian hal itu tidak menjadi penghalang untuk dakwah terus belaju dan berkembang.
Disamping itu kemaksiatan semakin merajalela. Negara kian
hari kian terjajah terlebih lagi dengan dikuasainya 54 sektor usaha oleh asing.
Hutang berkedok infestasi di IMF lalu tak dapat disembunyikan dari umat. Kasus
demi kasus kriminal terus bergulir seakan tak henti menghiasi media.  Hingga Allahpun menegur manusia dengan berbagai
bencana.
Masih membekas jelas diingatan kita bencana yang menimpa Lombok
beberapa bulan lalu. Belum sembuh luka lama, luka baru tertoreh kembali. Gempa dan
tsunami menggoncang dan menerjang Palu. Tidak berhenti dengan gempa dan tsunami,
lumpur juga ikut serta menerjang Palu, tiga pencabut nyawa sekaligus menghantam
Palu dan sekitarnya.
Begitu malang kian melintang, pada akhir Oktober lalu  kabar duka kembali terdengar, datang dari transfortasi
udara, jatuhnya pesawat JT 610 di sekitar lautan Karawang, ratusan nyawa melayang,
kabarnya tak ada satupun korban selamat. Sungguh sangat menyedihkan.
Bencana terus bergulir, silih berganti. Itulah yang belakangan
kerap menghiasi perjalanan disepanjang tahun 2018. Bencana yang melanda Negeri ini
seyogyanya bisa menjadi introfeksi diri.
Kemudian yang tak kalah heboh terkait peristiwa pembakaran
bendera Tauhid oleh oknum Banser pada Oktober lalu, sontak membuat jutaan kaum Muslimin
marah, sedih dan pedih bercampur jadi satu. Hingga membuat gelombang arus
pengecaman terus bergulir dari umat Islam bukan hanya di dalam Negeri tapi hingga
manca Negara.
Pembakaran Bendera Tauhid Bentuk Penghinaan Kepada Ummat Islam
“Bendera tauhid adalah simbol keseluruhan umat islam dan
milik islam. Tindakan pembakaran ini merupakan penghinaan kepada umat islam. Jangan
dianggap sepele,” kata Irvan Herman, politisi muda PAN Riau (GoRiau.com, 23/10/2018)
Aksi pembakaran Bendera Tauhid, pada Senin, (22/10/2018) mendapat
reaksi dan kecaman dari berbagai pihak. Berbagai kalangan sangat menyayangkan Aksi
yang dilakukan oleh Banser ini.
Meski Ketum GP Ansor membenarkan banser NU di Garut membakar
bendera Tauhid saat peringatan hari santri. (CNN Indonesia, 22/10/2018) tetapi sampai
saat ini, belum ada permintaan maaf dan rasa penyesalan dari Banser atas kejadiaan
ini.
Video berdurasi 02.05 menit itu, memperlihatkan belasan anggota
Banser Garut terlihat membakar bendera hitam dan bertuliskan aksara arab berwarna
putih dengan kalimat Tauhid.
Mulanya, ada satu anggota banser yang membawa bendera berwarna
hitam bertuliskan aksara arab yang bertuliskan kalimat tauhid. Kemudian belasan
anggota Banser lainnya  berkumpul untuk bersama-sama
menyulut bendera tersebut dengan api. Ikat kepala berwarna hitam bertuliskan aksara
arab dengan kalimat Tauhid juga ikut dibakar. Kemudian, pada saat yang bersamaan
ada salah satu dari mereka yang mengibarkan bendera Merah Putih berukuran besar.
Disaat api terlihat mulai membesar dan nyaris melalap setengah dari bendera, nampak
sejumlah anggota Banser semakin bersemangat menyanyikan Mars NU. Bahkan terlihat
beberapa diantaranya turut mengepalkan tangan seirama dengan nada Mars Nu yang dinyanyikan.
Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nahdlatul Ulama Yaqut Cholil
Qoumas mengklaim pembakaran bedera Tauhid merupakan upaya untuk menjaga kalimat
tauhid. Seyogyanya jika berupaya untuk menjaga kalimat tauhid, bukankah sebaiknya
diambil dan disimpan, bukan melakukan pembakaran. Sungguh sangat disayangkan. Berbagai
pihak menduga bahwa pembakaran Bendera Tauhid ini dilandasi oleh ketidaksenangan
kepada Ormas tertentu, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut menegaskan bahwa
kalimat tauhid semestinya dimuliakan, dan tindakan membakar bendera bertuliskan
kalimat Tauhid dengan kebencian hukumnya haram.
Ketua MUI Kabupaten Garut KH. Sirojul Munir juga menyatakan bahwa
kalimat tauhid tak boleh dihinakan. “Harus dimuliakan, tidak boleh dihinakan semacam
itu,” ungkapnya, (Kiblat.Net, 22/10/2018).
Bendera Tauhid Identitas Kaum Muslimin
Sungguh sangat miris dan disayangkan melihat kejadian ini. Bagaimana
tidak? Pembakaran Bendera Tauhid adalah bentuk peremehan Tauhid. Sementara Bendera
Tauhid adalah identitas kaum muslimin. Didalam Islam bendera ini, baik ar-Rayah
yang berwarna hitam maupun al-Liwa’ yang berwarna putih, sama-sama bertuliskan “Laailaahaillallah
Muhammad Rasulullah” di atasnya.  Bendera
ini bukan sekadar bendera, tetapi merupakan identitas Islam, Bendera Rasulullah,
bendera seluruh kaum Muslimin. Bukan bendera ormas tertentu. Bahkan untuk mempertahankan
bendera ini, Ja’far bin Abi Thalib sanggup mengorbankan apapun yang dia miliki hingga
gugur sebagai syahid saat Perang Mu’tah.
Sebagai identitas Islam dan kaum Muslimin, bendera ini tidak
hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Bendera ini tidak boleh dinjak,
dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan;
seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Terlebih
lagi dibakar.
Dalam ranah Fiqh,  jika
membakar tulisan yang terkandung di dalamnya ayat-ayat Alqur’an dan dimaksudkan
dalam rangka menjaga agar kalimah tersebut tidak terinjak-injak atau terhinakan
dalam keadaan darurat dan sulit menjagana maka hukumnya makruh.
Seyogyanya jika bentuk penghormatan kepada kalimatTauhid,  akan terlihat dari raut wajah yang penuh ta’dzim.
Tidak akan dilakukan dengan sesumbar, angkuh penuh kesombongan.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi siapa
saja yang mengucapkan “la ilaha illallah”, dan dia berharap wajah Allah dari ucapannya
tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Menyongsong Persatuan dan Kesatuan Umat
Ahad, 2 Desember 2018 adalah hari yang paling bersejarah disepanjang
Aksi 212 dalam kurun 3 tahun belakangan ini. Aksi kaum Muslimin terkait pembelaan
kepada Bendera Tauhid, yakni bendera pemersatu Umat Islam, menjadi viral tidak hanya
di jagad maya (medsos) tapi juga nyata.
Jutaan umat tumpah ruah memadati Monas bersatu padu dalam tujuan
yang satu dengan aqidah yang satu, aqidah Islam. Seakan tak ada sekat pembatas,
umat kembali menyuarakan hak nya dalam pembelaannya kepada kalimat Tauhid, yang
in syaa Allah kini kalimatnya semakin melejit.
Reuni Aksi 212 ini diperkirakan dihadiri oleh peserta sebanyak
13.4 Juta jiwa. Angka yang cukup fantastis bukan? Perhitungan ini sangat akurat
tentunya. Jika sebelumnya ada beberapa data yang menyebutkan bahwa peserta Reuni
Aksi 212 hanya sekitar ribuan atau ratus ribuan, maka data yang satu ini tak kan
terbantahkan.
Data tersebut diperoleh oleh Iwan Piliang yang bersumber dari
jumlah IMEI telepon genggam para peserta Reuni Aksi 212 yang didapat dari MSC yaitu
pusat operatornya masing-masing (Eramuslim.com, 3/12/2018).
Maka dari data tersebut didapatlah informasi yang akurat bahwa
jumlah peserta Reuni Aksi 212  2 Desember
kemarin adalah sebanyak 13,4 Juta jiwa. Nah, jadi bukan puluhan ribu, ratusan ribu,
tujuh juta, bukan juga sepuluh juta, tapi tiga belas juta empat ratusan ribu peserta.
Tak sedikit dari Tokoh masyarakat hingga tokoh Negara pun turut
hadir dalam acara tersebut. Sejumlah Artis tak mau ketinggalan ikut serta dalam
acara Akbar yang belum ada tandingannya ini. Tidak hanya itu, bahkan peserta Aksi
turut dihadiri oleh peserta dari kalangan Non Muslim, hingga WNA yang bersyahadat
saat itu juga.
Peserta Reuni Aksi 212 hadir dari berbagai usia, mulai kanak-kanak
hingga dewasa, tua muda berkumpul jadi satu. Tak pandang strata sosial, kaya miskin
melebur jadi satu, tumpah ruah di Monas dan sekitarnya, bahkan tak dapat lagi memasuki
monas dikarenakan membludaknya jumlah peserta.
Hal ini menjadi saksi betapa umat merindukan persatuan dan kesatuan
di Negeri ini, tanpa melihat status sosial dan ras. 212 menjadi pertanda akan kebangkitan
umat. Umat ingin bangkit dari ketidakadilan akan hukum di Negeri ini.
Begitulah umat dengan segala keinginan dan kerinduannya yang
membuncah, seakan merindukan satu kepemimpinan Islam dengan perasan, pemikiran dan
aturan yang sama, yakni Islam. Seakan tampak umat merindukan satu kepemimpinan Islam
dalam naungan Khilafah Islamiyyah yang dapat mempersatukan umat tanpa melihat ras
dan sekat apa pun.
Tak sedikit air mata yang tumpah ruah, air mata haru menyaksikan
jutaan kaum Muslimin bersatu padu dalam ikatan cinta yang satu, Islam. Bersatu padu
dalam pembelaannya kepada kalimat yang manusia ingin hidup dan mati dengan kalimat
Tauhid berlafadz “Laa ilaa ha illallaah”
Reuni Aksi 212 akan menjadi saksi betapa umat sangat merindukan
keadilan di Negeri ini, mereka yang melecehkan bendera Tauhid seharusnya dihukum
dengan kasus penistaan agama karena telah melecehkan bendera Tauhid yakni Bendera
Rasulullah. Mereka layaknya dihukum dengan sangat berat, dan sebagaimana mestinya
hukum di Negara ini, yakni 5 tahun kurungan.
Hukuman 5 tahun kurungan adalah hukuman yang sangat ringan dibanding
hukum Islam yang sesungguhnya. Bagaimana Islam menghukumi seorang penista agama?
Seorang penista agama dalam Islam harusnya mendapat hukuman mati . Maka hukuman
di Negeri ini dibandingkan dengan hukuman dalam hukum Islam sudahlah sangat ringan.
Bendera Tauhid, Bendera Pemersatu Umat Islam
Persatuan dan kesatuan umat kini sangat tampak dalam membela
agama Allah. Hal inilah yang seharusnya dapat dipertahankan oleh kaum Muslimin,
agar dapat berpegang teguh kepada agama Allah dan jangan sampai bercerai berai.
Sebagaimana Firman Allah:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang 
yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)
“..dan janganlah kamu bercerai berai,” dalam Ayat ini Allah memerintahkan
kaum Muslimin untuk bersatu padu dengan jama’ah dan melarang berpecah belah.
Maka banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
melarang perpecahan dan menyuruh untuk menjalin persatuan. Sebagaimana disebutkan
dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
” Sesungguhnya Allah meridhai kalian dalam tiga perkara
dan membenci kalian dalam tiga perkara. Dia meridhai kalian jika kalian beribadah
kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, berpegang teguh pada
tali Allâh dan tidak bercerai berai dan memberi nasehat kepada ulil amri (pemimpin)
yang mengurus urusan kalian. Dan Allâh membenci kalian dalam tiga perkara, yaitu
banyak bicara (menyampaikan perkataan tanpa mengetahui kebenarannya, menyia-nyiakan
harta (berlebihan, boros), dan banyak bertanya (yang tidak penting).”
Reuni 212 Tonggak Persatuan Umat Islam
Nikmat bersaudara adalah sesuatu hal yang sangat patut untuk
disyukuri. Persaudaraan yang tak kan lekang oleh zaman, hanya dapat ditemui di dalam
Islam, yakni persaudaraan karena Allah.
Reuni 212 bukanlah sekedar Reuni, tapi lebih dari itu. Reuni
212 menjadi tonggak persatuan kaum Muslimin dan memperkokoh persaudaraan di dalamnya.
Umat kini makin paham akan urgensi bersatu padu dalam membela agama Allah lewat
aksi 212. Reuni 212 banyak memberi arti bagaimana seharusnya kaum Muslimin dapat
besatu padu dalam ukhuwah yang satu, Islam. Saatnya kaum muslimin bersatu padu dan
saling mengokohkan. Sebagaimana Firman Allah:
“Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya
mengokohkan bagian lainnya.” (HR. Bukhari)
Maka dengan terciptanya persatuan maka kemenangan dan kemuliaan
umat Islam akan tercipta dan in syaa Allah akan segera terwujud. Oleh sebab itu
tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersatu padu, sebab ancaman yang akan menghancurkan
umat Islam sudah didepan mata. Maka, Reuni 212 adalah awal dari persatuan kaum Muslimin.
Maka saatnya umat bersiap menyongsong Persatuan dan Kebangkitan Islam di bawah
naungan Khilafah.[] 

Comment