Ana Nazahah: Islam, Antara Identitas dan Keyakinan

Berita1183 Views
Ana Nazahah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Siapa yang tidak ingin hidup lebih baik, berhijrah dan menjadikan hidupnya penuh makna. Setiap muslim pasti menginginkan hal itu. Hanya saja manusia kadang terjebak dalam kebingungan untuk memulainya. Merasa belum waktunya. 
Begitulah anggapan yang lazim di tengah masyarakat. Beribadah mendekatkan diri kepada Sang Khalik itu hanya dilakukan saat usia mendekati senja. Di saat tua, saat kesibukan hari-hari sudah mereda sehingga bisa fokus  beribadah kepadaNya.
Kebanyakan masyarakat muslim berfikir jika manusia mengejar akhirat, maka dunia dan kesenangannya harus dilepaskan. Karena menurutnya, urusan dunia dan akhirat itu berbeda. Tak bisa dijalankan dalam satu waktu, secara bersamaan. Akhirnya, manusia kadang terjebak dalam pilihan. Pilih dunia atau akhirat? Sehingga tak jarang karena tuntutan kehidupan, kebanyakan kita justru lebih memilih dunia. 
Ditambah kenyataan, didukung oleh beberapa fakta yang kerap kita temui dalam kehidupan. Sebagai contoh, masih ada pekerjaan yang menuntut pegawainya tidak boleh berhijab bagi muslimah, bahkan untuk mendirikan shalat lima kali dalam sehari saja sulit jika sedang bekerja. Belum lagi dengan sistem ekonomi yang terlibat riba. Tidak terlibat praktik ribawi, siap-siap usaha gulung tikar. Sementara mereka sebenarnya sadar, bahwa setiap pelanggaran itu adalah kemaksiatan. Dosa besar. Tapi kenyataan hidup memaksa mereka lebih memilih melakukannya dan pada akhirnya taat pun ditunda.
Ada banyak alasan yang melatar belakangi hal ini terjadi. Pertama karena kita hidup di dalam sistem Sekulerisme, paham ini telah membuat kita salah mengerti hakikat Islam dan ajaranNya. Menganggap jika mengejar akhirat berarti harus melepaskan dunia, pun sebaliknya.  Padahal Islam adalah agama konfrehensif, sebagai agama sekaligus sistem kehidupan. Tentunya Islam telah mengatur sedemikian rupa. Aturan yang tentunya sejalan dengan fitrah manusia. 
Justru sebaliknya, jika kita perhatikan, setiap orang yang mengejar dunia dan meninggalkan akhirat, mereka tidak hanya keluar dari fitrahnya sebagai hamba tetapi juga sebagai manusia. Kerusakan yang terjadi akibat manusia meninggalkan titah Allah dan Rasul SAW. Ketidakpuasan hidup, kesengsaraan dan kesempitan, gersang tanpa arah dan tujuan akibat mengejar dunia, hati tak pernah puas.
Selain karena paham sekulerisme, hal ini juga disebabkan karena kaum muslim tidak paham hukum Islam secara keseluruhan. Islam tidak membagi kehidupan ini menjadi dunia dan akhirat. Barang siapa yang hidup dengan Islam secara keseluruhan, maka ia akan mendapatkan dunia sekaligus akhirat.  Islam mewajibkan bekerja bagi suami untuk menafkahi anak istrinya, sebagaimana Allah mewajibkan shalat, puasa dan zakat. Begitulah Islam disebut ‘problem solving’. Tidak ada masalah yang tidak ada penyelesaiannya dalam Islam.
Oleh karena itu, belajar Islam itu penting. Tak kalah penting sebagaimana menuntut ilmu dunia, bahkan lebih penting. Dengan memahami Islam dan syariatNya kita akan terhindar dari pemikiran sesat yang lahir dari paham sekulerisme yang menampik keberadaan agama dalam kehidupan. Sehingga kita bisa menjadi pemeluk Islam seutuhnya bukan sekedar identitas belaka.
Terlebih di saat keberadaan syariat masih asing bagi umat. Dengan memahami Islam, setidaknya kita tetap bisa menjalani kehidupan dengan benar sesuai tuntunan syariat. Hidup mulia dengannya, selamat dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.[]

Penulis adalah anggota Revowriter Aceh

Comment

Rekomendasi Berita