by

Anak Kembar Sering Bertengkar?

-Opini-58 views

 

 

Oleh: Sri Purwanti, Mutiara Umat Institute

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –Memiliki anak kembar yang sehat dan lucu tentu menjadi kebahagiaan sendiri bagi kedua orang tuanya. Meskipun kedua orang tua memerlukan tenaga ekstra untuk merawat dan mendidik mereka. Karena terlahir kembar kadang orang di sekitar memperlakukan mereka selayaknya satu individu dalam dua raga. Padahal sebenarnya mereka adalah dua pribadi yang berbeda.

Sikap seperti ini tentunya kurang bijak karena bisa menjadi pematik gesekan ketika anak-anak mulai beranjak besar.
Tak jarang kita jumpai anak kembar yang kurang akur dengan saudaranya, mulai dari rebutan perhatian kedua orang tuanya, rebutan pakaian, mainan bahkan bertengkar karena persaingan dalam prestasi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal seharusnya anak kembar lebih akur karena sudah terbiasa bersama sejak dalam kandungan.

Ada asap pasti ada api. Pada dasarnya setiap anak terlahir dalam kondisi suci, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing meskipun terlahir sebagai anak kembar.

Banyaknya mitos berkembang di tengah masyarakat yang menyatakan bahwa anak kembar ibarat dua sisi mata uang, yang satu pandai yang satu pasti sebaliknya, yang satu baik dan santun, kembarannya kembarannya pasti nakal dan susah diatur. Apalagi jika proses tumbuh kembangnya berbeda, secara sadar atau tidak orang-orang di sekelilingnya akan membandingkan mereka satu sama lain. Hal semacam ini akan memunculkan rasa persaingan antara mereka.

Lalu apakah anak kembar bisa hidup rukun tanpa pertengkaran yang berarti? Tentu saja bisa, karena dengan fitrahnya yang terlahir seperti kertas kosong maka tugas orang tuanya lah untuk mengisi kertas tersebut. Supaya anak bisa akur dengan kembarannya, saling menyayangi dan melengkapi satu sama lain maka orang tua perlu bersikap lembut namun tegas agar bisa membuat mereka rukun.

Orang tua tidak perlu membandingkan mereka, baik dari segi fisik, kebiasaan maupun prestasi akademis. Tugas orang tua adalah mendukung agar semua potensi anak bisa berkembang maksimal dan saling melengkapi satu sama lain. Lalu bagaimana jika yang membandingkan orang yang ada di sekitar tempat tinggal? Orang tua cukup memahamkan pada si kembar bahwa mereka berdua sama istimewanya di hadapan Allah maupun kedua orang tua.

Memberikan kesempatan kepada anak kembar untuk memilih kesukaan mereka. Tidak perlu mengikuti kebiasaan yang ada, bahwa anak kembar harus selalu berpakaian sama, mengikuti kegiatan yang sama atau menyukai permainan yang sama. Biarkan si kembar bebas menentukan apa yang tepat untuk mereka, orang tua hanya perlu mengarahkan jika apa yang disukai tidak sesuai dengan norma yang ada.

Orang tua perlu memahamkan anak sedini mungkin tentang hakikat penciptaan manusia beserta potensinya termasuk anak kembar. Karena setiap anak punya keistimewaan masing-masing. Orang tua juga bisa menanamkan nilai kerja sama sejak dini, sehingga mereka akan terbiasa untuk saling melengkapi bukan berkompetisi.

Sebagai orang tua kita juga harus bersikap adil kepada anak-anak, terutama anak kembar yang memiliki usia sama. Sikap berat sebelah sangat berbahaya karena bisa memantik kecemburuan anak. Jika berlangsung dalam rentang waktu lama bisa menumbuhkan kedengkian yang bisa berujung pada permusuhan dan putusnya tali persaudaraan.

Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :” Adillah kepada anak-anakmu, adillah kepada anak-anakmu, adillah kepada anak-anakmu” (HR Abu Dawud, Nasa’I, dan Ibnu Hibban). Rasulullah mengulangnya sampai tiga kali, hal ini menunjukan betapa pentingnya orang tua bersikap adil kepada anak-anaknya.

Sejatinya mendidik anak merupakan ibadah yang bernilai pahala, karena anak merupakan amanah dari Allah Swt. yang harus kita jaga dan didik dengan sepenuh hati. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya :”Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan) tata karma yang baik (HR at-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Maka sudah seharusnya kita berusaha sekuat tenaga mendidik anak-anak supaya menjadi generasi yang tangguh, dan berakhlakul karimah. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment