by

Analis Politik dan Media, Hanif Kristianto:Yahya Staquf, Diplomasi Musa, dan Isu Pemberitaan

Hanif Kristianto
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – KH Yahya Staquf (Gus Yahya) dalam sepak terjang kunjungannya ke Israel mendapat sorotan. Pro dan kontra, mengingat posisi Gus Yahya sebagai pejabat dan tokoh umat. Sebelum keberangkatan ke Israel ramai pihak menyarankan untuk tidak datang. Jokowi menegaskan kehadiran Gus Yahya atas nama pribadi. KH. Said Aqil Siroj menegaskan kehadirannya tidak mengatasnamakan Nahdlatul Ulama (NU). Publik pun bertanya-tanya, atas nama apa Gus Yahya hadir ke Israel?
Membaca Sisi Pemberitaan
Jika jeli mengamati pemberitaan oleh media selama kegiatan Gus Yahya di Israel, namanya disandingkan sebagai sekretaris NU. Media dalam komando jejaring Yahudi Israel berhasil memonopoli dan membentuk opini publik. Mereka memframing kelompok terbesar di Indonesia NU telah melakukan serangkaian kegiatan bersama.
Keberadaan media massa bagi eksistensi Israel menjadi titik poin sentra, selain dukungan politik dari dalam dan luar negeri. Dalam pertemuan di Braga tahun 1869, Rashoron seorang Rabi Yahudi berkhutbah pentingnya menguasai media massa.
“Jika emas merupakan kekuatan pertama kita untuk mendominasi dunia, maka dunia jurnalistik merupakan kekuatan kedua bagi kita.”
Sejalan dengan hal itu, konfrensi Zionis pertama di Bassel Swiss tahun 1897, dipimpin Theodore Herzl, menyimpulkan bahwa cita-cita mendirikan bangsa negara Israel Raya tidak akan terwujud, tanpa menguasai media massa itu.
Publik dunia sesungguhnya telah memahami konflik Israel dengan Palestina. Setiap hari media telah memberitakan kekejian dan pembunuhan terstruktur. Pimpinan dunia masih sibuk berdiplomasi dan berkongres. Solusi yang muncul pun tak mampu mendamaikan keduanya. Sesuatu yang terjadi di Palestina sesungguhnya berupa penindasan dan penjajahan, bukan kriminal biasa atau sekadar basa-basi diplomasi.
Israel secara diplomatik memang tidak ada kerjasama dengan Indonesia. Bukan berarti putus segala hubungan. Melalui agen dan tangan-tangan tersembunyi, Israel mampu mengelola politisasi eksistensi negara Israel Raya. Kecerdasan politik dan finansialnya di seluruh dunia, mampu digerakkan secara simultan, sehingga pendirian Israel Raya mampu divisualisasikan dan sah secara legitimasi hukum.
Korelasi dukungan publik dari Indonesia sangat dibutuhkan Israel. Pasca negara Timur Tengah tak mampu berkutik mengusir Israel, Indonesia dianggap mewakili umat Islam dari sisi mayoritas jumlah. Legitimasi dari Indonesia dibutuhkan untuk mengokohkan eksistensinya. Karenanya, pemilihan organisasi massa Islam terbesar tidak bisa ditawar.
Apapun kegiatan di Israel, tak akan merubah pandangan politik Israel. Dialog antar agama bukanlah jalan utama. Bahasa Israel bukanlah diplomasi. Kehadiran seseorang di luar Israel, tak akan mampu merubah manuver road mapnya. Seolah merasa jumawa dengan bekingan Amerika Serikat, Israel mampu bersikap tegas. Resolusi dewan PBB tidak pernah mereka gubris.
Diplomasi Musa
Negara Israel keberadaannya masih ilegal. Bahasa yang tepat baginya adalah perang. Kehadirannya sendiri di bumi Palestina, atas upaya dan restu dari Barat. Eksistensinya yang selama ini tegak berdiri karena sikap diamnya penguasa Timur Tengah dan pemimpin Islam. Amerika Serikat mampu mengelolah dan menempatkan Israel pada jantung Timur Tengah.
Diplomasi Musa tidak bisa dilakukan oleh individu atau ormas kepada Israel. Harus ada negara yang memiliki jiwa Islam yang mampu melindungi umatnya. Firaun faham betul bahwa Musa akan meruntuhkan kerajaanya. Karenanya, ketakutan Firaun membabi buta. Kehadiran Musa kepada Firaun jelas menyerukan ketauhidan dan penghambaan semata-mata kepada Allah. Karena selama hidupnya Firaun mengakui dirinya sebagai tuhan dan sombong akan kekuasaannya. Konsekuensinya segala aturan penghidupan harus mengikuti konsep Allah Swt. Firaun pun menolak.
Jika berani jujur ingin memerdekakan Palestina, maka langkah Abdul Hamid II itulah yang harus ditempuh. Sultan Abdul Hamid tidak akan pernah menyerahkan sejengkal tanah Palestina pada bangsa Yahudi, meski tawaran dunia dan pelunasan hutang tersedia. Kini, khilafah Islamiyah sudah tidak ada. Akibatnya, kehadiran seorang, kelompok, serombongan organisasi massa, tak akan mampu meruntuhkan dan meluluhkan hati Israel.
Kebutuhan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dalam rangka pembebasan Palestina adalah langkah politik nyata. Dengan begitu, Israel akan berpikir ulang apakah akan tetap berada di bumi Palestina tunduk pada khilafah? Atau hengkang mencari perlindungan kepada sekutu-sekutunya? Sudah berapa jutaan kecaman dunia pada Israel? Sudah berapa kali resolusi dialamatkan padanya? Dan sudah berapa kali diplomasi yang akhirnya berujung pada solusi dua negara? Apakah mampu menghentikan penderitaan dan penindasan atas Palestina?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + 19 =

Rekomendasi Berita