![]() |
| Anton Tabah Digdoyo |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Usulan PDIP atau Makruf Amin dengan uji baca Al-Quran dalam debat Capres dan Cawapres mendapat respon beragam di kalangan masyarakat. Untuk itu, radarindonesianews.com meminta tanggapan Anton Tabah Digdoyo untuk mendapatkan jawaban, Kamis (3/1/2019).
“Uji membaca Al- Quran untuk Capres dan Cawapres? Ini ide siapa? Dari kubu mana? Kalau ide tersebut datang dari rakyat atau KPU segera saja dibahas di DPR dan kalau disetujui, buat undang-undangnya, karena ini menyangkut soal agama yang sangat sensitif. Tapi kalau ini anya ide dari salah satu kubu, katakanlah kubu Jokowi-Makruf Amin, maka menjadi aneh. Mengapa tiba-tiba usul demikian? Apakah merasa jago membaca Al-Quran?” Ujar Mantan jenderal Kapolri ini tegas.
Anton juga menambahkan bahwa pandai membaca Alqura itu bukan ukuran seseorang cinta Islam. Snouck Hurgronyeke kurang apa? Ia bahkan hafal Al-Qur’an tapi tetap kafir. Ia mengaku bahwa diriny muslim dengan kepandaian membaca Al-Quran itu tetapi sesungguhnya dia telah menghancurkan Islm.
Tanda seseorang memiliki keimanan yang baik itu, lanjut Anton, tetap merendah diri (tawadhu’). Sebagai contoh, tidak mau memimpin sholat atau menjadi imam bila ada orang yang lebih baik dan lebih bagus bacaannya.
Dicontohkan Anton, raja-raja Saudi yang juga sebagai amirul mu’minin pun tidak ada yang menjadi imam sholat. Aapa lagi kita. Semua presiden RI, mulai Soekarno, Soeharto dan SBY, tak prnah mereka mau menjadi imam sholat pada kesempatan terbuka kecuali di dalam keluarga. Itupun kalau ga ada ustadz.
“Saya 7 taun menjadi sekretaris pribadi presiden, tahu persis dan menjadi saksi hidup dalam hal ini. Oleh karena itu, usulan uji membaca Al-Quran dalam debat Capres dan Cawapres itu hanya usulan yang mengada-ada,” Pungkas Anton, mantan Jendral Polri tersebut.[]















Comment