by

Ari Nurainun, SE*: Menggagas Solusi Komprehensif Terhadap HIV/AIDS

Ani Nuraini, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Ku datang sahabat bagi jiwa, saat batin merintih. Usah kau lara sendiri , masih ada asa tersisa. Letakkanlah tanganmu, diatas bahuku. Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu. Di depan sana cahya kecil tuk memadu. Tak hilang arah,kita berjalan, menghadapinya.”
Yang hidup di era 90, pasti kenal dengan lagu ini. Lagu duet Katon Bagaskara dan Melly Goeslow ini sarat akan pesan anti diskriminasi terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/Aids).  Menjelang peringatan Hari Aids sedunia, pesan anti diskriminasi ini makin mengental.
Sekilas Tentang HIV/Aids
Hari AIDS sendiri pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss.[1] [2] Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Pgoram AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS). Dr. Mann menyukai konsepnya, menyetujuinya, dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988 (Wikipedia). Sejak itu peringatan Hari Aids sedunia rutin dilaksanakan setiap tahunnya, dan dikampanyekan sebagai bentuk keperdulian dunia pada penderita HIV/Aids.
Kasus HIV/Aids sendiri pertama kali ditemukan di bulan Juni 1981, CDC melaporkan kasus mirip AIDS yang menyerang lima orang pemuda GAY di Los Angeles Amerika. Kemudian berselang 6 tahun, tepatnya tahun 1987, dilaporkan kasus AIDS pertama di Indonesia, tepatnya di Bali. Yaitu seorang wisatawan asal Belanda yang meninggal di RS Sanglah. Hingga saat ini penyebaran penderita HIV/Aids hampir merata di seluruh provinsi di Indonesia. Menurut data Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Nasional menunjukkan tahun 1987, jumlah penderita Aids di Indonesia masih 5 kasus. Dalam rentang waktu 10 tahun, hanya bertambah menjadi 44 kasus. Tetapi sejak 2007, kasus Aids tiba-tiba melonjak menjadi 2.947 kasus. Periode Juni 2009 meningkat hingga 8 kali lipat menjadi 17.699 kasus. (kemenppa.go.id).
Sementara itu, berdasarkan data Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementrian kesehatan RI, hingga Maret 2017 tercatat penderita HIV sudah mencapai 242.699 jiwa dab penderita Aids mencapai 87.453 jiwa. Data tersebut juga menggambarkan bahwa pengidap Aids terbanyak pada usia produktif, yaitu 20 – 29 tahun. Sementara, HIV berkembang menjadi Aids dalam rentang waktu 10 tahun. Artinya, banyak penderita Aids yang sudah menderita HIV sejak anak-anak (okezone.com). 
Di balikpapan sendiri, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan mencatat, sampai triwulan ke 2 tahun 2018, ada 10 orang warga yang meninggal akibat penyakit ini. Sekertaris DKK Balikpapan Suheriyono mengatakan, untuk kasus baru HIV/Aids sebanyak 144 kasus, sementara tahun 2017 ada 371 kasus (tribun kaltim).
Keperdulian Semu 
Seperti diungkapkan di awal, ceremonial peringatan Hari Aids sedunia selalu digagas setiap tahunnya. Dengan beragam tema dan program aksi serta dilakukan dengan berbagai kegiatan yang inovatif dan mampu menarik minat masyarakat.Dalam peringatan tahun ini contohnya,  LSM Peduli Aids dan pemprov DKI Jakarta menggelar kegiatan bersama di area Car Free Day (CFD), di Jl. Jendral Sudiman. Di area CFD ini beberapa anggota Forum LSM Peduli AIDS berkaos merah melakukan jalan sehat dari Depan Parkir Sarinah – Jl. Sudirman, Dukuh Atas sambil berteriak,  “Saya Berani, Saya Sehat”. Slogan tersebut digunakan sebagai tema dari Hari AIDS Sedunia 2018. Serta mengambil sub tema “Tahu Status, Lebih Baik”. Di mana makna dari tema maupun sub tema itu bertujuan mengajak masyarakat berani melakukan tes HIV secara sukarela untuk mengetahui status HIV-nya dan memberi dukungan kepada orang-orang yang terinfeksi HIV dengan aksi ‘Hug Me’, memeluk dan bersalaman dengan orang yang terinfeksi HIV. (IDN Times).
Hal ini dilakukan agar Program pencegahan dan pengendalian HIV AIDS mampu  mencapai 3 zero, yaitu zero new HIV infection, zero AIDS related death dan zero discrimination. Sehingga Untuk mempercepat pencapaian tujuan tersebut, ditetapkan suatu target 90/90/90 yang ingin dicapai pada tahun 2027, yaitu:
90% odha mengetahui ststus HIV nya,
Dr 90% tersebut, 90% nya mendapatkan terapi ARV dan 
90% odha yang mendapatkan terapi ARV tersebut mengalami penekanan jumlah virus.
Namun, ditengah upaya gencar untuk mencegah penularan dan pengendalian ini, Organisasi Aids terbesar di dunia AIDS Healthcare Foundation (AHF), justru mencemaskan berkurangnya bantuan Internasional untuk penanganan penderita HIV/Aids di Negara-negara berkembang , termasuk Indonesia. Padahal kemampuan pemerintah Indonesia untuk menangani pengidap HIV/Aids belum memadai. “Dari sekitar 630 ribu penderita, hanya sekitar 290 ribu orang yang bisa ditangan”, kata Country Program Manager AHF Indonesia, Riki Febrian di Hotel Santika Siligita, Nusa Dua Bali, Kamis (11/10) (Sindonews).
Masih menurut Riki, hal ini terjadi karena Bank Dunia menetapkan klasifikasi baru mengenai Negara berpenghasilan menengah atau Midlle Income Country (MIC). Bank Dunia menetapkan Negara dengan penghasilan penduduk 2,73 dolar AS per hari, atau seharga dengan secangkir kopi di banyak Negara, bukan termasuk Negara miskin. Inilah yang menyebabkan bantuan internasional menyusut dan hal ini memperburuk penanganan HIV/Aids, yang selama ini 80% dananya berasal dari luar. 
Aktivis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Muvitasari mengatakan, tahun ini Indonesia membutuhkan dana sebesar Rp 4,2 triliun untuk menangani HIV/Aids. Dana tersebut biasanya berasal dari APBN,APBD,CSR perusahaan, bantuan berbagai Negara, serta sumbangan dari lembaga donor Internasional. Dia memperkirakan tahun 2023 dana yang diperlukan meningkat menjadi 11,6 triliun. 
Solusi Komprehensif
Persoalan HIV/Aids tidak hanya menjadi isu global, tapi juga menjadi persoalan yang membutuhkan solusi komprehensif. Selama ini, program-program yang digagas, tidak menyentuh akar masalah penyebaran penyakit mematikan ini. Justru semakin memperluas penyebarannya. Contohnya : 
1. Dengan rumus ABCDE yang selama ini disosialisasikan sebagai cara pencegahan HIV/Aids terbukti tidak efektif. Karena hanya bertumpu pada kesadaran individu. Sementara nilai-nilai liberal sudah semakin kuat mengakar ditengah-tengah masyarakat bahkan dalam kehidupan bernegara. Berikut sedikit penjelasan tentang ketidaksinkronan antara rumus pencegahan dengan fakta dengan lemahnya penegakan hukum untuk mendukung slogan ini. 
A (abstinace), yang diartikan dengan tidak berhubungan seks diluar menikah, tentunya rumus ini tidak bisa berdiri sendiri. Arus liberal menyebabkan industri pornografi dan pornoaksi makin merajalela. Padahal inilah pangkal utama merebaknya seks bebas. Dan tidak ada delik hukum bagi pelaku seks bebas jika didasari suka sama suka.
B (be faithfull), setia pada pasangan. Hal ini juga sebagai akibat gaya hidup bebas dengan maraknya tempat-tempat prostitusi, yang terus beroperasi meski sudah dilakukan penutupan oleh pihak yang berwenang. Kemudian juga tidak ada sanksi tegas bagi pelaku zina dan homoseksual. Padahal terbukti, inilah pintu awal penyebaran HIV/Aids.
C (use condom), jika terpaksa berhubungan seksual, maka gunakanlah kondom. Ini juga solusi yang semakin membenarkan gaya hidup bebas. 
D (don’t use drug), jangan menggunakan narkoba, utamanya narkoba suntik. Solusi ini juga mabigu. Artinya boleh menggunakan selain narkoba suntik. Padahal narkoba adala penyebab rusaknya akal seseorang dan menghilangkan kesadarannya. Selain itu, bisnis narkoba juga semakin merajalela. 
E (equipment), artinya menggunakan peralatan steril. Ini masih kelanjutan dari larangan menggunakan narkoba suntik, kalaupun terpaksa menggunakan, jangan memakai jarum orang lain.
2. Kampanye tolak dan stop stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODHA, yaitu dengan cara memberikan ruang kebebasan bagi ODHA untuk tetap hidup layaknya orang normal. Ini juga bertentangan dengan fakta penderita HIV/Aids itu sendiri. 
Seperti kita ketahui, HIV adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh. Sementara Aids adalah kumpulan gejala penyakit yang disebabkan karena penurunan daya kekebalan tubuh. Ciri-ciri penderita Aids antara lain demam lama, hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, mengalami diare yang  berkepanjangan, penderita akan kehilangan berat badan tubuh hingga 10% di bawah normal, ruam kulit berulang, batuk-pilek yang tidak sembuh-sembuh, sesak nafas, infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan berulang, Pembengkakan kelenjar getah bening (dibawah telinga, leher, ketiak, dan lipatan paha), infeksi cacar air dan atau herpes berulang. Sehingga orang yang terinfeksi HIV/Aids adalah orang yang lemah dan mudah terserang penyakit. Sangat tidak manusiawi menyamakan orang yang lemah dengan orang yang sehat. 
Maka Islam memiliki solusi komprehensif untuk mencegah penularan penyakit ini, selain solusi pengobatan, yang tegak diatas 3 pilar yaitu individu, masyarakat dan Negara. 
1. Level  individu, seorang muslim wajib mengikatkan hidupnya kepada aturan Allah, dengan menumbuhkan kesadaran bahwa hidup itu adalah untuk beribadah kepada Allah. Sehingga seorang muslim akan menjaga dirinya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.
2. Level masyarakat, suasana keimanan akan tampak dalam masyarakat, sehingga prostitusi,pornografi, narkoba tidak akan merajalela. Aktifitas amar ma’ruf nahy mungkar sebagai salah satu perintah Allah akan senantiasa menjadikan masyarakatnya tidak tinggal diam ketika melihat kemungkaran.  
3. Level Negara, adalah level tertinggi dengan tanggung jawab terbesar. Rasulullah Saw besabda.” Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya (HR Bukhari dan Muslim). Sehingga merumuskan kebijakan yang melindungi warganya dari kemurkaan Allah, adalah wujud dari pertanggungjawaban seorang pemimpin. Termasuk memberikan sangsi yang tegas atas kamaksiatan yang dilakukan oleh warganya adalah kewajiban seorang pemimpin. 
Dan yang terpenting diatas semuanya adalah, bahwa syariat Islam adalah solusi bagi kehidupan, dan membawa rahnat bagi semesta alam. Tidak hanya bagi kaum muslimin saja. Wallahu’alam bi showab.[]
  
*Penulis adalah anggota komunitas menulis dan  pemerhati masalah generasi. Tinggal di Balikpapan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × two =

Rekomendasi Berita