by

Arum Mujahidah: Memaknai Jargon Pilpres; Indonesia Maju, Indonesia Menang Adil Makmur

 Arum Mujahidah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pasangan Capres dan Cawapres pemilihan presiden Indonesia 2019 secara terbuka telah menunjukkan berbagai visi dan misi pada masyarakat secara luas. Dari visi misi tersebut, masing-masing Paslon memiliki jargon yang berbeda. Jargon ini dibuat untuk menarik simpati masyarakat dan mempertegas visi misi yang mereka bawa. 
Seperti yang dipaparkan pasangan nomor urut 01 bahwa jargon yang mereka usung yakni, “Indonesia Maju”. Paslon ini ingin mengambil hati masyarakat dengan menjanjikan berbagai program guna memajukan Indonesia ke depannya. Seperti menjadikan Indonesia negara berjuta sarjana dengan kartu Kuliah Pintar yang akan diluncurkan Jokowi jika menang. Tentunya, tidak hanya maju dalam pendidikan yang dimaksudkan, tetapi maju dalam makna secara umum dalam seluruh aspek kehidupan. 
Sementara itu, jargon berbeda disampaikan oleh paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka mengusung jargon Indonesia menang, adil dan makmur. Sepertinya jargon ini bersinggungan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang saat ini rasa keadilan dan kemakmuran sangat jauh dirasakan oleh masyarakat. Pasalnya, kita bisa melihat keadilan hukum seringkali tidak memihak kepada yang lemah. Akan tetapi keadilan bisa terbeli dengan uang dan kekuasaan. Begitupun tingkat kemakmuran masyarakat juga turut menjadi sorotan. Angka kemiskinan, pengangguran, dan kesejahteraan masyarakat kian merosot dalam kekuasaan rezim sekarang. Sehingga, Paslon 02 agaknya mengangkat jargon yang sangat erat dengan kelemahan yang dimiliki oleh lawan. 
Namun demikian, dari kedua jargon yang dibawa oleh masing-masing Paslon, masyarakat harus cerdas dalam memandang. Dalam jargon Paslon satu misalnya kita bisa belajar. Setidaknya, masyarakat telah merasakan kurang lebih hampir lima tahun rezim berkuasa dibawah bayang-bayang kekecewaan. Berbagai program, kebijakan yang disampaikan lima tahun silam ternyata juga sangat jauh dari kenyataan. Di bawah kepemimpinan rezim yang berkuasa sekarang, rakyat semakin menjerit kesakitan, sumber daya alam banyak dikuasai taipan, tenaga dalam negeri kalah bersaing dengan orang luar, keadilan, kesenjangan semakin dirasakan.
Selanjutnya, jargon Paslon 02 juga hanya bisa diterawang. Konsep keadilan dan kemakmuran yang dimaksudkan benarkah sesuai dengan harapan? Atau ternyata juga sama seperti pemanis lisan. Pasalnya, sistem aturan yang digunakan tetaplah sama dan dipertahankan. Ya, sistem kapitalisme demokrasi yang telah terbukti gagal membawa masyarakat kepada keadilan dan kemakmuran. Bukankah, segala problem kehidupan mulai dari hilir sampai ke hulu diakibatkan oleh sisitep yang diterapkan? Faktanya, berbagai penguasa silih berganti, namun ketika sistem aturan tidak diganti secara beriringan, hasil yang didapatkan tidaklah jauh berbeda. 
Dengan demikian, jargon tidaklah hanya sekedar pemanis lisan. Akan tetapi ia haruslah sebuah konsep yang diwujudkan dengan metode yang real untuk membawa kehidupan masyarakat bebas dari penghambaan, yakni maju, menang, adil dan makmur sesuai dengan aturan Yang Maha Rahman.[]

Penulis adalah anggota komunitas Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Comment

Rekomendasi Berita