by

Astari Juwita Ningtyas, Amd.KL., SKM: Generasi Hilang Arah

Astari Juwita Ningtyas, Amd.KL., SKM
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kemunculan Aplikasi TikTok yang awalnya digadang-gadang menjadi sarana untuk memacu kreatifitas, nyatanya kini menjadi momok yang mengerikan bagi generasi muda. 

Kementerian Komunikasi pada akhirnya memutuskan memblokir Aplikasi TikTok dikarenakan banyaknya laporan pengaduan jika Aplikasi TikTok disebut banyak mengandung konten negative dan tidak pantas ditayangkan terutama untuk anak-anak. Namun, pemblokiran ini hanya seminggu saja sejak tgl 3 juli 2018. Sebab, sehari setelah diblokir, perwakilan Tiktok dari China langsung mendatangi MenkoInfo dan berjanji membersihkan konten-konten negatif dan usia penggunanya. Tanggal 10 Juli 2018, Aplikasi Tiktok keali resmi dibuka.

Aplikasi TikTok yang sedang naik daun dibarengi oleh nama Bowo Alpenliebel seorang anak berusia 13 tahun yang menjadi bahan pembicaraan di media sosial karena jumlah follower yang banyak sampai mengadakan acara meet and greet untuk para fansnya dengan biaya tiket seharga 100 ribu rupiah. Konon pengguna Tiktok sendiri mencapai sekitar 50 juta orang di Indonesia.

Fenomena Bowo ini tidak dapat kita pandang sebelah mata sebatas kekaguman tentang kreatifitas. Tidak sedikit fans dari Bowo yang menjadikan Bowo sebagai sumber ‘teladan’ bahkan menTuhankan Bowo. Miris jika kita menganggap remeh fenomena ini, kerena pada dasarnya generasi muda saat ini sedang haus tokoh teladan yang pantas mereka ikuti. Lebih buruknya lagi kekeruhan generasi muda tentang ketuhanan atau akidah, sehingga mereka dengan mudah menjadikan Bowo sebagai Tuhan (ilah).

Hilangnya teladan di tengah generasi muda menjadi perhatian kita bersama untuk kembali menghadirkan sosok yang baik sehingga generasi muda dapat menemukan jati diri mereka dengan benar. Pemerintah pun seharusnya tidak hanya sebatas memblokir aAplikasi tersebut walau akhirnya tidak jadi, dan membiarkan generasi muda kehausan tentang jatidiri mereka. Langkah serius pemerintah untuk menyelamatkan generasi muda menjadi PR besar yang harus segera dituntaskan, sehingga generasi muda bangsa ini tidak menjadi generasi yang kehilangan arah.

Begitulah jika kehidupan kita saat ini berada dalam sistem sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga tidak hanya krisis idola atau salah sasaran dalam menunjuk sosok teladan, mereka juga telah dilanda krisis akidah. Hal ini berbeda jika Islam benar-benarditerapkan dalam kehidupan di tengah kita. 

Sebab, dalam Islam pemerintah yang sangat takut akan pertanggungjawaban pelayanannya kepada rakyat di hadapan Allah swt, akan sekuat tenaga menjaga rakyatnya dari kekeliruan, termasuk melindungi generasi mudanya. Wallahu’alam.[]

Penulis adalah sebagai tenaga kesehatan di bidang Sanitarian,
Cijerah, Kota Bandung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 19 =

Rekomendasi Berita