by

Atik Kholifah, S.KM: Bayi Dibuang Mengapa Terus Berulang?

Bayi yang ditemukan di Perumahan Villa Paradise saat digendong seorang ibu di Polsek Batuaji (Foto: Margaretha/Batamnews)
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Miris dan menyedihkan. Bagaimana tidak, seringkali kita disuguhi berita tentang bayi yang terbuang. Kasusnya makin lama tak menghilang, justru makin berulang. 

Pada Rabu, 6 Juni 2018 di tempat pembuangan sampah Stadiun Suralaya Lamongan ditemukan bayi baru lahir dalam tumpukan sampah yang menyengat baunya. Meski dalam kondisi yang memprihatinkan dengan tali pusar yang tidak terpotong sempurna, bersyukur bayi ini masih bisa diselamatkan. 

Sebelumnya di pertengahan Mei 2018, warga Margomulyo Bojonegoro juga digegerkan oleh remaja putri 18 tahun membuang bayi yang baru dilahirkannya dalam jamban hingga meninggal (Radar Bojonegoro, 7 Juni 2018). 

Di Tuban pun, tak terhitung kasus bayi yang sengaja dibuang dan diketemukan tak bernyawa di lokasi wisata sepanjang pesisir utara Tuban. Seperti yang terjadi di Pantai Remen Tuban, wisatawan dikejutkan dengan mayat bayi yang teronggok di pasir pantai (beritajatim.com, 23 Juli 2018)

Mengapa Terus Berulang?

Sungguh keji apa yang dilakukan para pelaku yang dengan sengaja membuang bahkan membunuh bayi-bayi mungil tak berdosa. Apa yang membuat mereka begitu kalap hingga gelap mata? Mengapa mereka begitu tega merenggut hak hidup anak-anak sejak nafas pertamanya? Dan ironisnya, kebanyakan pelaku adalah ibu kandungnya. 

Mereka tega melakukannya karena bayi-bayi itu tak diinginkan keberadaannya. Bayi yang terlahir dari hubungan terlarang akibat perzinahan. Masyarakat sekarang memang didominasi gaya hidup sekuler liberal yang memberikan kebebasan hingga menabrak nilai-nilai agama yang diyakini. Pergaulan bebas menjadi tren, perzinahan banyak dilakukan hingga mengantarkan pada kehamilan yang tak diinginkan. Aborsi menjadi pilihan hingga bayi tak berdosa tercabut nyawa tanpa belas kasihan. Nurani seorang ibu pun menjadi hilang. Mereka tak terpikir dosa besar dan hukuman setimpal dari perbuatan yang telah mereka lakukan. 

Gaya hidup bebas makin diperparah dengan maraknya konten pornografi dan tontonan tidak mendidik yang banyak menghiasi layar kaca maupun sosial media. Inilah yang menjadi pemicu kuat aktivitas gaul bebas yang mengancam generasi millenial saat ini. 

Selamatkan Jiwa Anak-anak tak Berdosa

Masalah ini membutuhkan solusi yang melibatkan peran banyak pihak. Ini menjadi tanggung jawab bersama individu, masyarakat, hingga negara. Secara individu, sungguh benteng pertahanan kita adalah iman. Keimanan terhadap Allah yang mencipta dan mengatur kehidupan manusia. Allah telah memberikan tuntunan hukum syariat agama. Keimanan yang akan membuat manusia selalu mawas diri dan berhati-hati dalam berprilaku karena semua akan ada pertanggung jawaban di hadapan Sang Pencipta. 

“Islam melarang kita mendekati zina, apalagi melakukannya. Dan anak-anak adalah amanah, sehingga tak layak bagi siapapun untuk menolak kehadirannya apalagi membunuhnya.”


Masyarakat juga punya peran untuk melakukan kontrol dengan peka terhadap sekitar. Saling menasehati dan mengingatkan jika menjumpai kemungkaran di lingkungannya. Masyarakat melakukan edukasi dan pembinaan agar warga tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

Dan peran besar di pundak negara yang mempunyai kewenangan untuk menutup situs-situs pornografi yang mengancam moral generasi, serta menegur tayangan-tayangan media yang mengumbar gaul bebas tanpa batas. Negara juga berkewajiban memberikan sanksi tegas bagi pelaku dan siapapun yang terlibat dalam kejahatan anak yang memberikan efek jera, hingga kejahatan serupa tak kan terulang.


Penulis adalah pemerhati keluarga dan perempuan,
Staf DP3AKB Kabupaten Bojonegoro

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =

Rekomendasi Berita