by

Ayu Lestari, S.Pd*: Guru Luar Negeri, Solusi Mencerdaskan Anak Negeri?

Ayu Lestari, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dunia pendidikan baru-baru ini dihebohkan oleh pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani yang mewacanakan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia. Menurut nya saat ini Indonesia sudah menjalin kerjasama dengan beberapa negara dan salah satunya adalah jerman. Bahkan guru dari luar negeri tersebut jika memang mengalami kendala bahasa akan difasilitasi seperti penerjemah maupun perlengkapan alih bahasa. Menurutnya juga  Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara ekonomi terkuat dunia bahkan di peringkat 4 atau 5 pada 2045, dan untuk masuk kesana tidak akan mudah juga pasti banyak tantangan maka dibutuhkan tenaga pengajar yang bisa mengajar di Indonesia untuk menuju kesana.
Pernyatan tersebut bukan lagi tak menuai kritik dari beberapa pihak, salah satunya adalah dari Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim. Ia mengatakan jumlah guru di Indonesia sudah mencukupi. Data Kemendikbud  menyatakan pada 2013 terdapat 429 LPTK, terdiri dari 46 negeri dan 383 swasta. Total mahasiswa saat itu mencapai 1.440.770 orang. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding 2010 dengan 300 LPTK. Itu adalah jumlah yang cukup banyak untuk tenaga pengajar di Indonesia. Selain itu, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Unifah Rasidi, mengatakan dengan tegas menolak impor guru. Dengan adanya  impor guru ini bisa mengancam nasionalisme dan menganggu rasa keadilan guru honorer.
jika kita melihat persoalan ini sehingga memunculkan wacana jika tenaga pendidik haruslah impor dari luar negeri, maka dapat dikatakan Indonesia sendiri tidak mampu percaya dengan kekuatan dan kemampuan SDM Indonesia di bidang tenaga pengajar. Selain itu kritikan muncul lagi dari kalangan guru honorer yang selama bertahun-tahun masih belum mendapat pengakuan pemerintah yang bahkan masih dibayar dengan harga sangat rendah. Guru yang ada di Indonesia saat ini saja tidak bisa terfasilitasi oleh negara bagaimana mungkin dengan solusi mengambil guru dari luar negeri. 
permasalahan moral siswa negara Indonesia saja masih sangat memprihatinkan dan membutuhkan penyelesaian. Para tenaga pendidik di Indonesia seharusnya diberikan pehamaman yang kuat untuk dapat menjadi pendidik yang dapat merubah moral siswa Indonesia. Sebagai negara yang mayoritas muslim dengan Islam sebagai pedoman hidup, maka sebenarnya pemecahan masalah yang ada di masyarakat ini semua adalah dalam Al Quran dan Assunah. Jika dirasa guru yang ada saat ini masih belum bisa melahirkan generasi cemerlang maka sudah seharusnya menggunakan landasan Islam sebagai solusi atas permasalahan ini. 
Tenaga pendidik yang didatangkan dari luar negeri tentu saja belum pasti memiliki aqidah yang sama dengan masyarakat di Indonesia yang mayoritas muslim. Sebaik apapun metode dan teknik pembelajaran yang mereka miliki, muslim haruslah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh, termasuk dalam hal pengajaran. Telah nyata dalam beberapa hadits yang diriwayatkan , diantaranya adalah :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah”. (HR. Muslim No 2703)
Muawiyah bin Hakam berkata:
مَا رَأَيْتُ مُعَلِّماً قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيْماً مِنْهُ
“Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang lebih baik pengajaranya selain beliau (Nabi Muhammad Saw)”
Dalam riwayat dari Abu Dawud disebutkan:
فَمَا رَأَيْتُ مُعًلِّماً قَطٌّ أَرْفَقُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
“Aku belum pernah melihat seorang pendidik yang lebih santun dari Rasulullah Saw” (HR. Abu Dawud No 931)
Jika Indonesia bergantung dalam hal pendidikan kepada orang Asing, maka tetap saja tidak akan menciptakan generasi yang tangguh yang akan menjadi pemecahan masalah dalam kehidupan. Siswa-siswi hanya akan menjadi generasi yang memiliki skill tinggi tanpa adanya bentuk ketaqwaan kepada Sang Pencipta Allah SWT. Dengan menjadikan Islam sebagai standar dalam melakukan seluruh aktifitas kehidupan maka akan mencerdaskan umat Muslim, mencetak guru yang akan melahirkan peradaban Islam yang agung, dan mengembalikan kemandirian umat sebagai umat yang tidak bergantung pada kekuatan Asing. Wallahu’alam bish shawwab. []

*Guru Bahasa Inggris SDIT Khairul Ikhwan, Paseh-Majalaya

Comment

Rekomendasi Berita