by

Indriyani Putri*: Ramadhan Tiba, Gaza Berdarah

Indriyani Putri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ramadhan pertama kaum muslim di Gaza disambut oleh gempuran rudal pasukan Israel. Gedung tempat tinggal warga menjadi target zionis Israel. Seperti yang dilansir oleh  CNN.com–Indonesia– Gaza kembali memanas. Pasukan Israel dan gerilyawan Palestina terus melancarkan serangan dalam tiga hari belakangan. Beberapa orang tewas dan beberapa lainnya terluka (5/5/2019). Disertai oleh tayangan video yang memilukan hati.
Bangunan runtuh, darah yang bercucuran, nyawa  melayang serta tangisan pilu anak-anak yang tidak berhenti terdengar sebab kehilangan orang tua, ataupun sebaliknya, telah menjadi ornamen berdarah dalam menyambut ramadhan. “Saat ini ada 2 juta warga Palestina yang tinggal di Gaza. Kehidupan mereka sulit karena diblokade Israel sejak 2007. Israel berdalih blokade dilakukan untuk mencegah masuknya persenjataan untuk Hamas”. Seperti itulah kabar memilukan yang dilansir oleh Kumparan.com (6 Mei 2019).
Kesedihan yang menyentuh sanubari, tidak bisa dipungkiri ada dalam benak sebagian umat muslim. Hati yang memiliki keterikatan ukhuwah, meradang. Menyaksikan umat tertindas, sebab penderitaan muslim Gaza berlangsung didepan mata seperti tak ada hentinya, tanpa ada yang mampu menolong. Ikatan nasionalisme jelas menciptakan sekat, sehingga hanya untaian doa dan umpatan kebencian yang dapat dilakukan. 
Akibat ide nasionalisme yang terkandung dalam konsep nation-state, umat Islam mengalami pengkerdilan jati diri sehingga tersesat dalam mengidentifikasikan dirinya. Pada faktanya dapat di lihat bahwa tak sedikit umat muslim yang tidak peduli atau merasa biasa biasa saja atas kejadian yang menimpa saudara di Gaza, tidak memiliki hubungan yang “berarti” sebab tinggal di wilayah yang berbeda.
Secara praktik, nation-state bagi umat Islam adalah paham yang berorientasi menjadi toksin mematikan ikatan ukhuwah. Pasalnya, inilah yang membuat umat muslim terpecah-belah dan menjadi lemah. Dampaknya, penjajahan terus berlangsung tanpa ada perlawanan berarti dari umat Islam.
Ide nasionalisme wajib segera dilumpuhkan, agar ramadhan dapat menampakkan persatuan dan solidaritas umat islam, dibawah naungan Islam.  “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam”.  (H.R. Bukhari dan Muslim).  Hanya seorang mukmin atau orang yang beriman yang memiliki rasa seperti ini. 
Ramadhan semestinya menjadi momentum perubahan yang membuat umat makin bersemangat untuk mewujudkan kemuliaan yang dikehendaki. Islam telah menggariskan ukhuwah dan kekuatan besar satu-satunya hanya di atas jalan islam. 
Allah SWT. Berfirman : Innama al-Mu’minuna ikhwatun… (Surah Al-Hujurat:10), Artinya : Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara.
Sebagai layaknya saudara, hubungan sesama kaum muslim harus dipenuhi dengan sikap saling mencintai dan mengasihi, saling bantu dan saling tolong, memudahkan urusan sesamanya, memiliki solidaritas dan kepedulian yang tinggi, tidak membiarkan mereka di dzolimi apalagi menjerumuskan.
Inilah yang harus dilakukan sebagai bentuk ukhuwah dan persatuan hakiki dengan tegaknya syariah Allah SWT. Melalui negara yang akan menerapkan syariahNya secara menyeluruh sebagai institusi resmi yang berasal dari ajaran Islam. Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]
*Mahasiswi Ilmu Dan Teknologi Pangan UHO

Comment

Rekomendasi Berita