“Betapa banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 249)
Penulis: Furqon Bunyamin Husein | Pemred
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Al-Qur’an tidak hanya memuat ajaran spiritual, tetapi juga pola sejarah umat manusia. Di dalamnya terdapat narasi tentang kebangkitan dan kehancuran peradaban, tentang iman dan pembangkangan, serta tentang bagaimana kesombongan kolektif melahirkan kerusakan kolektif.
Pola ini oleh para ulama disebut sebagai sunnatullah fi al-umam — hukum Allah yang berlaku atas bangsa-bangsa.
Dalam konteks inilah kisah Bani Israil memiliki posisi penting. Ia bukan sekadar kisah etnis atau kelompok tertentu, melainkan representasi tentang bagaimana sebuah umat yang menerima wahyu dapat terjerumus dalam siklus pembangkangan dan hukuman Ilahi.
Pembangkangan Teologis: Permintaan Melihat Allah Secara Nyata
Setelah Allah menyelamatkan Bani Israil dari tirani Fir‘aun melalui Nabi Musa ‘alaihis salam, mereka menyaksikan mukjizat luar biasa dengan laut terbelah, musuh tenggelam, dan perjalanan menuju kebebasan dimulai. Namun respons sebagian mereka justru menunjukkan problem teologis mendasar.
Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,’ maka kamu disambar petir, sedang kamu menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 55).
Permintaan untuk melihat Allah secara kasatmata bukan sekadar pertanyaan epistemologis, tetapi bentuk pembangkangan terhadap batasan manusia.
Para mufassir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa permintaan ini lahir dari sikap keras kepala dan lemahnya ketundukan hati, meskipun bukti-bukti kekuasaan Allah telah nyata.
Menolak Perintah Masuk Tanah Suci
Pembangkangan bani israil itu berlanjut dalam konteks sosial-politik. Ketika diperintahkan memasuki tanah suci, mereka menolak dengan alasan takut menghadapi kaum yang kuat:
“Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami duduk saja di sini.”(QS. Al-Ma’idah: 24).
Penolakan ini menunjukkan krisis keberanian moral dan hilangnya kepercayaan terhadap janji Allah. Akibatnya, mereka dihukum dengan tersesat selama empat puluh tahun.
Lebih jauh lagi, Al-Qur’an mencatat tindakan ekstrem bani israil dengan melakukan pembunuhan terhadap para nabi:
“Setiap datang kepadamu seorang rasul membawa apa yang tidak sesuai dengan keinginanmu, kamu menyombongkan diri; sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh.” (QS. Al-Baqarah: 87).
Menurut Imam Al-Qurthubi, ayat ini menunjukkan bahwa kesombongan bani israil secara kolektif tersebut dapat melahirkan kejahatan sistemik.
Konsep Dua Kali Kerusakan (Al-Fasad Al-Awwal dan Ats-Tsani)
Dalam Surah Al-Isra’, Allah menyampaikan pernyataan yang sangat tegas: “Sungguh, kamu (bani Israil) pasti akan membuat kerusakan di bumi dua kali dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS. Al-Isra’: 4).
Sebagian mufassir klasik menafsirkan kerusakan pertama dan kedua sebagai peristiwa sejarah yang telah terjadi pada masa lampau. Namun secara metodologis, ayat ini juga menunjukkan pola berulang: ketika sebuah komunitas mencapai puncak kesombongan dan kerusakan, maka intervensi Ilahi akan datang.
Ayat ini bukan sekadar menulis sebuah kronologi, tetapi prinsip historis bahwa sebuah kerusakan akan melahirkan kehancuran.
Palestina dalam Perspektif Kemanusiaan Kontemporer
Dalam konteks modern, konflik di Palestina — khususnya di Gaza — telah menimbulkan krisis kemanusiaan besar. Data dari berbagai laporan media internasional menunjukkan bahwa sejak Oktober 2023, korban tewas warga Palestina telah melampaui 70.000 jiwa, dengan proporsi besar adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Ini belum termasuk mereka yang hilang akibat reruntuhan gedung dan lenyap oleh senjata thermobarik yang suhu panasnya lebih dari 3500 derajat celcius.
Selain korban jiwa, kerusakan infrastruktur mencapai tingkat yang sangat tinggi. Rumah, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum hancur. Krisis pangan dan kesehatan memperburuk situasi masyarakat sipil. Ribuan warga mengungsi di kamp pengungsian.
Dalam dinamika ini, muncul perlawanan rakyat Palestina seperti Hamas dengan sayap kanannya Al-Qassam dan faksi-faksi lain sebagai respons terhadap pengalaman panjang konflik dan pendudukan.
Secara ilmiah, fenomena ini dapat dianalisis sebagai bentuk resistensi sosial-politik dalam konteks konflik asimetris.
Namun dari sudut pandang teologis, ia juga dapat dibaca sebagai bagian dari ujian kolektif yang menyingkap siapa yang melampaui batas dan siapa yang bertahan dalam kesabaran.
Board of Peace dan Realitas Geopolitik Global
Dalam tataran internasional, konflik ini melibatkan berbagai kekuatan besar dan aliansi global yang sering dikemas dengan narasi perdamaian — atau dalam istilah populer disebut sebagai board of peace. BoP tidak lebih dari persekongkolan jahat untuk menekan dan melucuti senjata Hamas.
Namun sejarah menunjukkan bahwa politik global seperti Board of Peace ini digerakkan oleh kepentingan strategis Amerika Dan zionis Yahudi di kawasan timur tengah.
Al-Qur’an telah memberi kerangka konseptual terhadap dinamika ini: “Mereka membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas makar.” (QS. Ali ‘Imran: 54).
Konsep makar dalam tafsir bukan sekadar tipu daya biasa, melainkan strategi tersembunyi untuk mempertahankan dominasi. Namun Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh skenario manusia tetap berada dalam skenario Ilahi. Allah sebaik baik pembuat makar.
Jumlah sedikit kalahkan jumlah banyak
Al-Qur’an menghadirkan contoh konkret dalam Perang Badar. Kaum Muslim saat itu hanya berjumlah sekitar 313 orang, sementara pasukan Quraisy sekitar 1.000 orang dengan perlengkapan jauh lebih lengkap. Perbandingan yang sangat asimetris.
Allah berfirman: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah.”
(QS. Ali ‘Imran: 123).
Dalam ayat lain ditegaskan:
كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Betapa banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 249).
Ayat ini bukan glorifikasi konflik, tetapi penegasan bahwa ukuran kemenangan dalam perspektif Qur’ani tidak identik dengan supremasi militer.
Pelajaran dari Abrahah dan Intervensi Ilahi dalam Sejarah
Ketika Abrahah datang dengan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah, secara rasional hampir mustahil ia kalah. Namun Surah Al-Fil menunjukkan bahwa Allah dapat menghancurkan kekuatan besar melalui cara yang tidak terduga. Allah turunkan bala tentaraNya berupa burung aAbabil.
Ini menegaskan bahwa ketika kesombongan melampaui batas dan nilai nilai kebenaran dirusak, maka intervensi Ilahi menjadi keniscayaan sejarah.
Janji yang Tidak Pernah Gagal
Palestina hari ini adalah ujian besar terhadap nilai nilai kemanusiaan. Al-Qur’an menutup narasi ini dengan ayat kepastian:
“Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139),
Pada akhirnya, kemenangan Palestina menjadi medan pembuktian kepada manusia bahwa kebenaran itu sebuah keniscayaan.
جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isra’: 81).
Dalam perspektif sunnatullah sejarah, tidak ada kesombongan yang abadi. Tidak ada kezaliman yang kekal. Yang abadi hanyalah kebenaran yang dijaga oleh Allah.
Dalam waktu dekat, kita akan menyaksikan bahwa gedung gedung yang terkoyak itu kelak menjadi kuburan bagi tentara zionis dan Board of Peace. Allahu a’lam bisshowab.[]
—
Referensi Data dan Rujukan:
Al Jazeera
Tempo
Laporan Otoritas Kesehatan Gaza
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Al-Qurthubi














Comment