FKIP UIA Gelar Workshop Implementasi OBE dan RPL, Hadirkan Asesor LAMDIK Prof Mustaji

Pendidikan86 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam As Syafiiyah (FKIP UIA) menggelar workshop implementasi pembelajaran berbasis Outcome Based Education (OBE) dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), Jumat, 27 Februari 2027.

Kegiatan yang berlangsung secara daring itu menghadirkan Asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) yang juga Ketua Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) periode 2024–2029, Mustaji.

Dekan FKIP UIA, Dr. Misbah Fikrianto, MM., M.Pd., M.Si., mengatakan workshop diikuti dosen dan mahasiswa program magister. Kegiatan ini digelar untuk mengoptimalkan implementasi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), agar dosen mampu merancang kurikulum sekaligus mengembangkan materi pembelajaran secara lebih terukur.

“Mata kuliah pengembangan kurikulum merupakan salah satu mata kuliah inti di Magister Teknologi Pendidikan FKIP UIA,” kata Misbah dalam sambutan pembukaannya.

Ia menilai kepakaran Prof Mustaji di bidang teknologi pendidikan tidak diragukan. Selain menjabat Ketua IPTPI, Mustaji juga merupakan Koordinator Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Workshop ini menjadi kesempatan yang langka bagi mahasiswa maupun dosen untuk mendapatkan pemahaman langsung dari praktisi sekaligus asesor akreditasi,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Mustaji menjelaskan teknis terbaru penilaian RPL, termasuk mekanisme asesmen portofolio dengan aplikasi yang dinilai lebih ringkas dan efisien. Ia juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem pembelajaran digital di perguruan tinggi.

Menurut dia, kampus perlu mengembangkan sistem digital yang sederhana dan mudah dioperasikan agar dosen serta mahasiswa merasa nyaman. Perkuliahan daring, kata Mustaji, akan semakin dibutuhkan, terutama untuk program magister yang mayoritas mahasiswanya telah bekerja.

“Kalau ada kampus yang tetap bersikukuh 100 persen luring, bisa saja kesulitan mendapatkan mahasiswa,” ujarnya.

Ia mencontohkan Unesa yang mengembangkan aplikasi pembelajaran secara mandiri melalui platform Sinau Digital atau Simdik. Berbeda dengan sejumlah kampus yang masih menggunakan layanan pihak ketiga, Unesa membangun dan mengelola sistemnya sendiri.

Mustaji menilai setiap perguruan tinggi perlu memperkuat ekosistem digitalnya agar tetap relevan dan kompetitif. “Kalau tidak beradaptasi, kampus bisa ditinggalkan mahasiswa,” katanya.[]

Comment