by

Banjir Karawang dan Subang Momentum Muhasabah

-Opini-24 views

 

 

Oleh: Dede Nurmala*

RADARINDONESIANEWS.COM, — Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Firman Allah senantiasa benar tidak ada kesalahan padanya sedikitpun. Maka, musibah yang terjadi saat ini disekitar kita adalah bentuk maksiatnya manusia terhadap bumi ini. Allah menurunkan curah hujan yang tinggi karena maha pengasih Allah kepada manusia. Justru hujan adalah bagian dari nikmat dan rahmatNya.

Sungguh, bencana yang terjadi adalah nyata ulah perbuatan tangan manusia. Manusia yang diamanahkan sebagai pemimpin di bumi ini justru telah lalai dari menjaganya. Bumi yang dititipkan Allah banyak dikelola dengan cara yang salah.

Salah satu buktinya adalah kondisi banjir yang menghawatirkan yang terjadi di daerah Subang, Jawa Barat. Masalah banjir yang menerjang Pantura Subang harus dilihat sebagai masalah serius sehingga penanganannya juga serius.

Tokoh Pantura Subang Boby Khareul Anwar menegaskan, banjir pantura ini hampir setiap tahun terjadi dan merendam rumah warga yang mengakibatkan kerugian materi tidak sedikit. Banjir Pantura diantaranya karena luapan sungai dari Cipunagara dan Sungai Purban yang melewati sejumlah daerah tersebut. (tintahijau.com 19/02/2021).

Jelaslah bahwa banjir yang terjadi karena ada sebab. Hal serupa pun terjadi di daerah Karawang, Jawa Barat hingga melanda sejumlah daerah di kawasan perkotaan. menyusul tingginya curah hujan dan meluapnya beberapa sungai di daerah tersebut. (liputan6.com 21/02/2021).

Banjir telah merendam ribuan rumah warga di sepanjang aliran Sungai Citarum dan Cibeet. Banjir saat itu nyaris serupa dengan bencana yang terjadi 2010 silam.

Luapan air Citarum melebar hingga ke wilayah perkotaan. Jalan Kertabumi yang di sekitarnya terdapat gedung pemerintahan dan Rumah Sakit Bayukarta ikut tegenang air. (pikiranrakyat.com 21/02/2021).

Beberapa fakta menyatakan betapa banjir ternyata mengalami pengulangan yang sama di tahun sebelumnya. Sejatinya, jika musibah serupa terjadi itu menandakan setiap pribadi harus banyaklah bermuhasabah. Pemimpin dan juga rakyat saling berpikir tentang musibah yang terjadi. Apa yang salah dari pengelolaan bumi? Sehingga seolah bumi murka kepada manusia.

Mengapa perlu muhasabah? Karena secara data dan fakta bencana banjir yang melanda lebih banyak diakibatkan oleh kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia. Misalnya aktivitas pembangunan yang tidak memperhatikan fungsi lahan, aktivitas penambangan baik legal ataupun ilegal yang merusak lingkungan, penembangan hutan secara masif tanpa upaya reboisasi, dan lain sebagainya.

Itu semua terjadi bukan dengan sendirinya melainkan karena ulah tangan manusia dan penerapan ideologi kapitalisme yang menekankan pada keuntungan semata tanpa memperhatikan kemaslahatan umum.

Di samping itu, lemahnya peran negara dalam mengambil kebijakan yang mengandalkan bantuan baik dari swasta ataupun swadaya masyarakat yang menangani banjir. Hal ini sangat dipengaruhi oleh anggaran baik pusat maupun Pemda yang tidak mencukupi dan maksimal sehingga negara tidak dapat hadir secara penuh dalam menangani banjir.

Padahal situasi banjir sangat memerlukan penanganan serius, cepat dan tepat dari pemerintah.

Karena melihat betapa tingginya banjir yang terjadi. Masyarakat perlu segera dalam proses evakuasi karena menyangkut keselamatan jiwa, jaminan kebutuhan pokok dan kesehatan selama musibah terjadi, pemulihan kondisi lingkungan dan sosial paska musibah. Pemerintah tidak boleh lalai dalam hal ini. Wa Allahu a’alm biishowab.[]

*Mahasiswi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 2 =

Rekomendasi Berita