by

Benarkah Investasi Solusi Tepat Pembangunan Negeri?

-Opini-18 views

 

 

 

Oleh : Arini Faaiza, Pegiat Literasi, Member AMK

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Jawa Barat terletak di sebelah barat Pulau Jawa dan merupakan bagian dari rangkaian zamrud khatulistiwa. Daerah ini kaya akan destinasi wisata dan sumber daya alam, letaknya yang tidak terlalu jauh dari ibu kota semakin menambah daya tarik wisatawan maupun para investor untuk menanamkan modalnya di provinsi yang juga dikenal dengan nama Tatar Sunda.

Berbagai event diadakan oleh Pemprov Jabar untuk menarik investor di wilayahnya, salah satunya event The 3rd West Java Investment Summit 2021 yang diselenggarakan di Hotel Savoy Homann beberapa waktu yang lalu.

Dalam acara tersebut Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmaja mempromosikan sejumlah proyek kepada para investor. Dalam Proyek yang bertajuk Investment Infrastructure and Agro Industry to Support West Java Economic Resilience terdapat banyak hal yang menjadi fokus utama.

Sejumlah proyek yang ditawarkan pemerintah Jabar disinyalir bisa mendatangkan keuntungan sangat besar bagi investor dan juga APBD, yakni Proyek Kertajati Aerocity di Kabupaten Majalengka dengan luas 3,480 hektare dan jumlah investasi sebesar 1,2 milyar. Proyek Sinumbra yang berasal dari mata air Situ Nyonya, Situ Bayongbong, dan Rancasuni yang berfungsi sebagai pemasok air di wilayah Bandung.

Proyek Agro Techno Park yang mengembangkan kawasan pertanian, perkebunan, dan pemrosesan produk menggunakan teknologi. Proyek Tambak Udang yang berlokasi di Jabar bagian utara dan selatan, dan berbagai proyek lain yang tidak kalah menggiurkan.

Menurut setiawan, Jabar memiliki SDM yang cukup mumpuni yang didukung dengan berbagai lembaga penelitian dan universitas dengan disiplin ilmu terapan beragam, sehingga link and match dengan industri menjadi lebih mudah. Dengan berbagai keunggulan dan potensinya tersebut jabar menjadi salah satu daerah yang diminati oleh investor. (jabarprov.go.id, 22/10/2021)

Menarik investor sebanyak-banyaknya memang lazim dilakukan oleh berbagai bangsa di dunia. Dengan adanya investasi diharapkan roda perekonomian dan pembangunan infrastruktur suatu negara dapat berjalan dengan cepat. Seperti halnya negara berkembang lainnya, Indonesia juga sangat mengandalkan investasi untuk membiayai berbagai proyek infrastruktur.

Bukan hanya dalam pembangunan, sejak lama investasi juga menyasar berbagai sumber daya alam yang berupa beraneka tambang. Bahkan kini sektor pariwisata, pertanian, peternakan, dan sumber daya air pun tak luput dari incaran para investor asing maupun domestik.

Banyak pihak masih beranggapan bahwa mengundang sebanyak-banyaknya investasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan guna membantu pengelolaan sumber daya alam dan menciptakan lapangan kerja.

Sehingga dapat membantu dan mempercepat pembangunan negeri dan mengatasi pengangguran. Kenyataannya, alih-alih memberikan keuntungan dan kemajuan, korporasi asing justru menggerogoti dan mengeruk sumber daya alam bangsa ini. Tenaga kerja yang terserap pun tak seberapa jika dibandingkan dengan kerugian yang didapat.

Bahkan acap kali negara asing memberikan utang dalam jumlah fantastis untuk membangun infrastruktur dengan dalih investasi. Padahal sesungguhnya investasi hanyalah penjajahan terselubung yang sangat berbahaya, terutama jika dilakukan pada sumber daya air yang merupakan kepemilikan umum.

Apabila dikelola oleh swasta maka air akan menjadi komoditi yang diperjualbelikan, sehingga masyarakat tidak leluasa untuk memanfaatkannya, yang akhirnya boleh jadi masyarakat akan kesulitan untuk mengakses sumber air.

Beginilah ironi hidup di negeri gemah ripah loh jinawi, sumber daya alam melimpah tak sepenuhnya dapat dinikmati oleh rakyat manakala paradigma kapitalis yang dijadikan dasar untuk mengatur kehidupan. Kapitalisme memandang segala sesuatu dari materi. Maka tak heran semua sektor dikomersilkan tanpa memandang baik buruknya bagi rakyat.

Sangat berbeda dengan paradigma Islam yang memiliki seperangkat aturan paripurna, bersumber dari Sang Pencipta yaitu Allah Swt. melalui Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw., yang apabila diterapkan secara menyeluruh mampu memecahkan segala problematika manusia.

Islam mengatur dan memilah kepemilikan harta menjadi tiga aspek yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara. Dalam hal kepemilikan umum seperti halnya sumber daya alam, negara dilarang memperjual-belikan kepada individu atau swasta.

Negara adalah satu-satunya pihak yang berhak untuk mengelola harta milik umum, dan hasilnya dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Karena sejatinya rakyat lah pemilik seluruh kekayaan tersebut. Rasulullah saw.bersabda:
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Islam memperbolehkan investasi dengan beberapa syarat. Di antaranya tidak diperbolehkan adanya riba. Tidak terkait dengan pembiayaan pembangunan fasilitas publik seperti rumah sakit, jalan, bendungan, dan lain-lain. Harus mengikuti ketentuan hukum syariat yang diberlakukan oleh negara.

Apabila negara ingin membiayai pembangunan sarana umum, maka negara dapat mengambil pembiayaannya dari baitulmal terutama pos hasil pengelolaan sumber daya alam yang merupakan harta milik umum. Jika kurang, terdapat sumber pendanaan yang lain seperti kharaj, jizyah, fai’ dan sumber-sumber lain yang telah ditentukan oleh syara’.

Skema pembiayaan di atas hanya dapat dilakukan oleh negara yang menerapkan aturan Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Bukan negara yang menganut sistem kapitalis.

Sebab pembiayaan ala kapitalis mengandalkan pajak, utang dan investasi yang tidak berpihak pada rakyat. Maka sudah saatnya rakyat menyadari dan turut memperjuangkan pentingnya penerapan sistem Islam dalam sebuah institusi negara.Wallahu a’lam bi ash shawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita