by

Bersyukur Dalam “Kesulitan”. Why Not?

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bersyukur biasanya dilakukan oleh kebanyakan kita dalam kondisi senang dan bahagia. Padahal senang dan bahagia itu hanya sebuah kondisi yang membuat rangsangan jiwa seorang manusia.
Penderitaan, kesulitan, masalah dan seabreg hal pahit yang dialami manusia dalam hidupnya, termasuk kebahagiaan itu sendiri merupakan sebuah moment yang selalu terjadi silih berganti untuk menghidupkan hati seorang manusia.
Jarang, bahkan hampir boleh dibilang tidak ada, orang yang bersyukur dengan segala hal yang dianggap sulit, susah, dan bermasalah padahal kesulitan itu momen bagi kita untuk memasuki sebuah pengalaman baru untuk kemudian belajar mencari jalan keluar sebagai pengalaman hidup yang memperkaya hati dan menambah kedewasaan seseorang. Kita belum memahami kalau obat itu pahit namun menyembuhkan. Ego kita lebih memaknai kesenangan dan materi sebagai kenikmatan yang sesungguhnya, padahal di balik itu, bahaya mengancam.

Begitupun tentang kesulitan, kita lebih condong melihat sebagai sesuatu yang menyakitkan dan merugikan padahal banyak kebaikan di dalamnya. Apa yang kita rasakan sebagai kesulitan belum tentu itu buruk buat kita dan sebaliknya, yang kita anggap baik belum tentu itu baik buat kita.

Melihat “Kesulitan” sejatinya tidak melulu dari konteks negatif. Kita harus berani meletakkan cara pandang positif terhadap peristiwa yang tidak kita kehendaki itu. Tidak semudah membalik telapak tangan memang. Tapi ingatlah bahwa selalu ada sisi positif dari segala peristiwa negatif yang kita alami itu.
Sungguh bahwa kesulitan bila dipandang dari sisi positif akan membuahkan kesabaran yang berujung pada sebuah kebaikan. Tidak semua sisi keburukan yang kita alami berakhir dan selesai dengan keburukan. Bahkan bisa jadi kebaikan dan kenikmatan yang kita harap dan alami itu justeru sebuah malapetaka.
Sekedar contoh, saat seseorang belum memiliki harta dan sarana kehidupan yang layak, gaya hidupnya sangat santun, sederhana dan sangat perhatian terhadap teman dan sahabat. Namun ketika keberhasilan menghias sesorang dengan kelimpahan harta dan kenikmatan hidup yang lainnya, orang tersebut berubah dalam gaya hidup dan pola pergaulan. Maka kondisi tidak punya menjadi lebih baik daripada berlimpah harta namun membuat kita lupa diri.
Dulu, kebersahajaan, sikap santun, sederhana yang menghias kesehariannya itu tidak lagi nampak. Keluarga, istri dan anak-anak mulai kehilangan teladan dari sang bapak. Isteri tak lagi menjadi tempat yang nyaman baginya untuk berlabuh. Semua berubah seiring kesuksesan yang diraihnya dalam hal ekonomi.
Anak yang terlantar mencari teman bergaul yang salah, menjerumuskan hidup anak-anak ke dunia pergaulan bebas dan narkoba. Isteri selingkuh dengan tetangga karena suami yang sukses itu jarang di rumah dengan alasan urusan bisnis dan kantor.
Lima tahun kesuksesan yang diraih kemudian tumbang. Isteri menuntut cerai, anak-anak masuk rehabilitasi narkoba. Sang suami yang sukses itupun kemudian stress dan depresi yang berujung RS.Jiwa dengan kehilangan keseimbangan logika alias gila. 
Jadi, tidak patut kita bersyukur hanya pada saat kesuksesan dan kesenangan kita raih saja tetapi bersyukur harus kita lakukan di saat “Kesulitan” menerpa.
Namun bukan berarti kita berdiam diri tanpa melakukan upaya untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki karena Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah diri mereka.[GF]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + ten =

Rekomendasi Berita