by

Cermin Retak Sang Malaikat Tak Bersayap

-Opini-32 views

 

 

 

Oleh: Dwi Indah Lestari, S.TP*

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ibu, inilah sosok manusia bergelar malaikat tak bersayap. Dari rahimnyalah para generasi penerus lahir sehingga umat manusia tetap lestari hingga kini. Sosok ibu adalah cerminan seorang perempuan yang penuh kasih dan pengorbanan, sehingga seharusnya layak mendapat penghormatan utama dari anak-anaknya. Sayang cermin itu kini telah retak.

Media massa memberitakan sebuah kabar yang cukup membuat miris. Tentang seorang anak di Demak, Jawa Tengah, yang mempolisikan ibunya hingga berujung pada penahanan oleh pihak berwajib. Entah konflik apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Beberapa media memberitakan versi dari masing-masing pihak yang berperkara secara berbeda.

Tak cukup dengan kejadian di Demak, sebelumnya masyarakat juga dibuat mengelus dada dengan kasus pelaporan yang dilakukan oleh seorang anak terhadap ibunya di Nusa Tenggara Barat. Peristiwa ini dipicu dari konflik pembagian harta warisan. Sejumlah uang dari warisan yang diterima sang ibu tersebut yang kemudian dibelikan motor menjadi penyebabnya hingga sang anak sampai hati ingin memenjarakan ibu kandungnya sendiri (tribunnews.com 29 Juni 2020).

Kehidupan Sekuler dan Kapitalistik Penyebabnya

Sebenarnya, peristiwa seperti kejadian-kejadian di atas sudah banyak terjadi. Kondisi ini cukup membuat masyarakat tak habis pikir. Bagaimana mungkin ada seorang anak yang tega melakukan hal tersebut pada ibu yang telah melahirkannya. Apa sebenarnya penyebabnya?

Perilaku-perilaku semacam ini tidak bisa dilepaskan dari cara pandang masyarakat melihat kehidupan serta aturan hidup yang diterapkan di atasnya. Bila mengamati keadaan masyarakat saat ini, maka akan ditemukan bahwa bahwa cara pandangnya selalu menjadikan tolak ukur perbuatan berdasarkan manfaat atau materi.

Segala sesuatu dinilai dari besarnya manfaat (materi) yang bisa diperoleh. Apalagi asas dalam membangun kehidupan yang diambil adalah sekularisme, dimana agama dijauhkan dari pengaturan urusan masyarakat. Sehingga halal haram tak lagi menjadi pijakan. Sementara aturan yang diterapkan bersumber dari buah pikir manusia.

Kondisi ini menyebabkan banyak dari para orangtua termasuk ibu tidak memiliki bekal yang benar saat menjalankan perannya.

Mereka tidak memahami gambaran pengasuhan yang seharusnya ditunaikan kecuali hanya mengikuti pola asuh yang sudah ada secara turun temurun, sehingga anak-anak dididik secara apa adanya. Wajarlah bila generasi yang terbentuk pun memiliki pola pikir dan sikap materialistik mengikuti sistem hidup yang berlaku.

Hubungan antara ibu dan anak yang semestinya dibangun penuh kasih sayang tanpa pamrih, kini dicemari dengan hitungan untung rugi.

Banyak fakta menyedihkan, yaitu ketika orangtua sudah lanjut usia dan tidak lagi mampu berdaya, dianggap beban, hingga akhirnya dibuang. Atau menyerahkan perawatannya pada panti-panti jompo. Bahkan mirisnya, seringkali pula anak-anak berseteru dengan orangtuanya hanya gara-gara rebutan harta.

Kehidupan liberal, buah dari sistem hidup sekuler saat ini, seringkali menjerumuskan manusia pada interaksi yang melampaui batas sesuka hati. Hubungan ibu dan anak tak lagi harmonis. Bahkan menjadikan penghormatan mereka kepada ibu yang telah melahirkannya berada pada titik terendah. Anak-anak tak takut lagi berbuat durhaka pada kedua orangtuanya.

Beginilah sistem hidup sekuler kapitalistik telah membuat cerminan seorang ibu yang layak mendapatkan penghormatan menjadi retak di mata anak-anaknya. Sistem ini gagal menghadirkan ketenangan dalam keluarga dan hanya melahirkan generasi durhaka. Padahal keluarga adalah unit terkecil tempat tumbuhnya generasi, sekaligus sebagai tempat bercerita, saling menjaga, memperoleh ketenangan dan kebahagiaan.

Mengembalikan Keutuhan Cermin Keluarga Sakinah

Jelas sudah, bahwa agama semestinya tidak dijauhkan dari sistem kehidupan yang berlaku. Sebab ajaran agamalah yang akan memberikan petunjuk pada manusia dalam berpikir dan berperilaku. Dengan bimbingan agama (Islam), keluarga muslim akan bisa menjalankan fungsinya sesuai fitrah yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Dalam Islam, manusia diperintahkan untuk menghormati kedua orangtuanya, terutama ibu. Dalam sebuah hadits disampaikan, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang muslim diperintahkan untuk memperlakukan ayah dan ibunya dengan baik dan lemah lembut, bahkan saat berkata kepada orangtua.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al Isra’: 23).

Terbentuknya adab semacam ini tentu saja tidak lahir begitu saja, melainkan dari proses pendidikan yang dilandasi oleh agama yang dimulai dari keluarga. Untuk itu, ada peran penting yang digenggam oleh orangtua terutama seorang ibu sebagai madrastul ‘ula. Ibu bukan hanya bertugas melahirkan dan membesarkan anak-anak, tapi juga wajib menjadi pendidik putra putrinya, menghantarkan mereka menjadi generasi shalih.

Begitupun dengan peran penting seorang suami dan ayah. Ia memiliki tanggungjawab sebagai pemimpin dalam keluarga, memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan baik, dan memenuhi nafkahnya.

Dalam membentuk generasi shalih, ayah dan ibu harus bekerja sama, baik dalam mendidik secara langsung, memberi contoh nyata, maupun memfasilitasi agar anak mendapatkan pendidikan yang tepat.

Anak yang dididik dengan ajaran Islam akan tumbuh menjadi sosok yang memiliki keimanan kokoh, taat pada Penciptanya, berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Anak-anak shalih yang lahir dari keluarga semacam inilah yang akan mampu memberikan penghormatan terbaik sesuai tuntunan syara’ dan memuliakan ibu dan bapaknya.

Terbentuknya keluarga muslim semacam ini, akan bisa diwujudkan dalam sebuah sistem hidup yang dilandasi oleh aqidah Islam. Dalam sistem Islam pemimpin umat Islam memiliki tanggungjawab untuk mengurusi persoalan rakyatnya secara keseluruhan. Seperti yang disebutkan dalam hadits, “Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Pemimpin dalam Islam menciptakan sebuah sistem agar keluarga-keluarga muslim mengerti dan menjalankan perannya dalam pembentukan generasi berkepribadian Islam.

Pembinaan terhadap pemahaman Islam kaffah akan dilakukan agar setiap individu memahami hak dan kewajiban masing-masing, sekaligus membangun pondasi keimanan yang kuat dalam dirinya. Sehingga perilaku yang terlahir senantiasa disandarkan pada halal dan haram dan disertai rasa takut bila menyalahi syariat.

Pemimpin yang menerapkan Islam juga akan menjamin kesejahteraan setiap warga negaranya. Dengan demikian keluarga muslim tidak akan merasakan kecemasan finansial, yang seringkali menjadi pemicu konflik dan merusak ketenangan keluarga. Para ibu pun dapat fokus menjalankan pengasuhan kepada anak-anaknya. Sementara anak-anak akan terpenuhi haknya dalam memperoleh pengasuhan dan pendidikan Islam yang utuh dan penuh kasih sayang dari orangtuanya.

Bila dalam berjalannya kehidupan keluarga, terjadi konflik maka mekanisme penyelesaiannya mengikuti beberapa langkah sesuai yang dituntunkan syara’. Pertama adalah menyelesaikannya dalam keluarga inti terlebih dahulu. Masing-masing keluarga saling menasehati, bermuhasabah dan berdiskusi secara ma’ruf untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi.

Seandainya keluarga inti tidak mampu menyelesaikan persoalannya sendiri, maka bisa melibatkan kerabat yang dituakan atau dihormati untuk membantu memberikan masukan. Namun bila hal tersebut tetap tidak terselesaikan bahkan semakin membahayakan, maka negara harus turun tangan menuntaskannya. Apabila persoalan tersebut sampai menyentuh pada pelanggaran hukum Allah, maka penguasa wajib memberikan sanksi bagi pelanggarnya sesuai dengan syariat.

Begitulah, sistem Islam mengatur kehidupan keluarga dalam bangunan masyarakatnya. Di dalamnya, generasi yang terlahir adalah generasi yang dihiasi akhlak Islami yang akan memuliakan dan menghormati kedua orangtuanya, terutama ibu. Dan hanya dengan Islam pulalah, kesakinahan yang didambakan setiap keluarga akan teraih nyata. Wallahu’alam bisshowab.[]

*Penulis adalah Praktisi pendidikan dan juga member Writing Class With Has (WCWH)

____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − seventeen =

Rekomendasi Berita