by

Cinta Indhira, Rasa Yang Tak Hanya (8)

-Novel-48 views

Cinta Indhira, Kasih Yang Tak Hanya

Novel Karya Athfah Dewi

Bab 8. Hancur

_________

“Dhimas?”

“Ra, dia siapa?” tanyanya sambil mendekat.

“Dia?” Aku melirik Rahman. “Dia ….”

“Kamu gak boleh deket-deket sama orang asing,” ucapnya sambil menarik tanganku lumayan keras.

Aku kaget dan sampai terhuyung. Karena tiba-tiba, jadi tidak sempat menghindar.

Rahman pun terlihat kaget, dia mendekat seperti mau menolong.

“Lu diem di sana!” seru Dhimas sambil menatap Rahman tajam.

Rahman langsung menghentikan langkahnya. “Mas, jangan kasar-kasar, kasihan Mbak Indhira.”

“Lu jangan ikut campur! Lagian, siapa lu ada di sini, hah?”

“Dhimas! Dia yang suka bantuin Mbah. Dia orang baik. Gak perlu kamu berteriak begitu,” ucapku.

“Kamu diem saja, Indhira. Kamu gak mengenal seperti apa laki-laki itu. Terlihat baik, kenyataannya belum tentu seperti itu.”

“Dhimas! Kamu kenapa? Kenapa jadi kaya gini?” tanyaku. “Wajah kamu, kenapa seperti ini? Siapa yang sudah melakukannya?”

“Papa!” jawab Papa tiba-tiba.

Aku melirik ke belakang. Tampak Papa, istrinya, Mbah Uti dan ayahnya Dhimas sedang mendekat.

“Ada apa sebenarnya ini? Kenapa Oom juga ada di sini?” Aku melirik ayahnya Dhimas.

“Kamu bener-bener belum tahu?” tanya Papa sambil mengerutkan dahi.

Aku menggeleng. “Ini ada apa, Mbah? Mbah pasti tahu sesuatu,” tanyaku kepada Mbah Uti.

Mbah Uti mendekat, lalu menuntunku masuk dan mendudukkanku di ruang tengah.

Semua orang menyusul, kecuali Rahman. Sepertinya dia keluar rumah.

“Dhira … kamu tenangkan diri dulu. Sebab, apa yang akan kamu dengar ini pasti mengejutkan,” ucap Mbah Uti.

“Aku siap, Mbah. Ini ada apa?” Kutatap satu persatu orang yang berada di ruangan ini. Namun, mereka malah terdiam.

“Selama ini kamu bertanya-tanya, siapa yang sudah merusak hidup kamu, kan?” tanya Mbah Uti lagi.

Aku mengangguk. “Siapa, Mbah?” Kutatap Mbah Uti yang menarik napas dalam sekali. Sepertinya, teramat berat untuk mengatakan kebenaran yang selama ini aku cari. Lalu, kulirik lagi semua yang berada di ruangan ini. Siapa tahu ada yang mau memberitahuku.

Papa yang wajahnya tampak memerah, istrinya yang hanya menunduk, ayahnya Dhimas yang juga menunduk sambil memegang kening, dan Dhimas yang menatapku dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, tetapi dia pun tetap membisu.

Ya, sepertinya semua orang di ruangan ini sudah mengetahui segalanya. Kecuali aku.

“Pelakunya adalah, teman kamu sendiri, Dhira,” ucap Mbah Uti.

“Teman? Teman yang mana? Yudi?” Aku melirik Dhimas. “Dia pelakunya, Dhim?”

Namun, jangankan menjawab. Dhimas malah menunduk sambil meremas rambutnya. Dia tampak sangat frustasi.

“Bukan Yudi, tapi dia!” Tiba-tiba, Papa berdiri dan telunjuknya lurus mengarah ke arah Dhimas.

“Apa?” Aku sampai terlonjak saking kagetnya. Dhimas yang sudah melakukan ini padaku? Tidak mungkin! “Pa, jangan main-main!” seruku.

“Papa gak main-main, Dhira. Gak ada yang main-main di sini. Memang dia pelakunya. Lihat, dia babak-beluk belur begitu, karena papamu yang melakukannya!” ucap istri Papa dengan kedua matanya yang basah dan wajah memerah.

“Benar, Dhira. Dia pelakunya,” imbuh Mbah Uti sambil terisak dan memelukku.

“Maafkan Dhimas, Indhira … oom gak nyangka dia berani berbuat seperti ini. Oom juga minta maaf sama kamu. Tapi, Dhimas mau bertanggung jawab,” ucap ayahnya Dhimas.

Aku melirik Dhimas, yang tidak lagi menatapku. Dia sekarang menunduk.

“Dhimas, kenapa kamu lakuin ini?” tanyaku.

Dhimas tidak langsung menjawab. Dia terdiam dengan tubuhnya yang tampak gemetar.

“Kenapa kamu ngelakuin ini, Dhimas?” tanyaku lagi setengah berteriak.

“Ra, aku minta maaf … aku ….” Dhimas mengangkat wajahnya.

“Gak usah lagi berpura-pura, Dhimas! Kamu ngapain ngelakuin hal gila ini? Dari awal, aku udah bilang gak mau nikah sama kamu. Kenapa kamu nekad ngarang cerita seperti ini, hah?”

“Indhira … aku, gak ….” Dimas menatapku dengan mimik wajah bingung.

“Sudahlah,” tepisku. “Kamu gak usah bikin cerita bohong seperti ini cuma buat bantuin aku, Dhimas. Gak bakal ngeringanin beban yang aku pikul sekarang, justru malah bikin aku tambah pusing.”

“Indhira, dengar ….” Dhimas berdiri.

“Kamu yang harus dengerin aku. Fokus sama hidupmu sendiri. Kamu masih punya masa depan. Aku gak bakal bawa-bawa kamu ke dalam masalahku. Sekarang, pulanglah sama ayah kamu,” sambungku.

“Oom, Oom gak usah khawatir. Dhimas gak mungkin sampai hati ngelakuin itu sama aku. Dia, hanya ingin bantuin aja, karena kami ini sahabat. Dari awal, dia udah kaya gini, minta aku buat nikah sama dia. Tapi, aku gak akan nerima tawarannya, sampai kapanpun.” Kulirik ayahnya Dhimas yang tampak kebingungan juga.

“Idhira … maafin aku, Ra …. Aku khilaf ….” Tiba-tiba Dhimas tersungkur di bawah kakiku. Dia meraung tanpa malu.

“Dhimas, apa-apan ini?” Aku berdiri dan berusaha menghindar.

“Indhira … Dhimas, tidak sedang berpura-pura atau cuma pengen bantuin kamu. Tapi … memang dia yang sudah ngelakuin semuanya ini …,” terang ayahnya Dhimas dengan suara yang bergetar.

“Apa Oom? Tidak mungkin.” Aku mundur.

“Maafkan Dhimas dan juga oom, Indhira. Oom dan terutama Dhimas, terima apapun yang akan kamu lakukan. Karena Dhimas memang harus mempertanggung jawabkan semuanya ….”

“Tidak. Ini pasti tidak benar.” Aku mundur. Rasanya, sangat sulit untuk percaya jika laki-laki b******n itu adalah Dhimas. Sahabat yang sangat aku percaya. Sahabat yang bertahun-tahun selalu menemaniku. Mendengar semua keluh-kesahku. Sahabat yang selalu sanggup melakukan apapun demi membuat aku tertawa.

“Indhira … kamu pukul aku. Atau, kamu bunuh aku sekarang, lakukan saja, Ra … aku juga sudah gak tahan menanggung beban ini. Perasaan bersalah yang terus menghantui setiap saat …,” lirih Dhimas. Dia mengangkat wajahnya dan menatapku dengan sorot mata yang tampak sangat tertekan.

“Diam kamu, Dhimas! Dan berhenti menyebut namaku! Aku … aku ….” Tiba-tiba, bumi seperti berputar, tubuh rasanya tidak bersendi dan pandangan memudar hingga akhirnya gelap gulita.

Masih sempat kudengar semua orang berteriak memanggil namaku lalu, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.

**

Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, begitu membuka mata, tampak Papa, istrinya, dan Mbah Uti sedang mengelilingiku.

“Indhira, kamu sudah bangun?” tanya Papa sambil menggenggam tanganku.

Aku mengangguk, sambil menatap wajah Papa yang tampak kelelahan dan kedua matanya yang basah. Ada apa dengannya? Sudah lama, aku tidak pernah melihatnya khawatir dengan kondisiku seperti ini.

“Apa yang terjadi?” tanyaku sambil berusaha bangkit.

Aku memang belum bisa mengingat apa yang terjadi sebelum ini.

“Dhira, Dhimas …,” ucap Papa.

Namun, tidak dilanjutkannya karena aku langsung menyela, “Di mana dia sekarang?”

“Ada di luar,” jawab Papa.

Aku segera turun dari tempat tidur. Lalu keluar dengan darah yang rasanya sudah mendidih.

Di sebelah lemari, aku melihat ada sapu yang biasa dipakai untuk membersihkan lantai oleh Mbah Uti. Aku segera meraihnya.

Di ruang tamu, tampak Dhimas sedang duduk sambil menunduk bersama ayahnya.

Darahku semakin mendidih. Beberapa langkah lagi aku sampai di sampingnya. “Dhimas!” panggilku dengan gemetar.

Dhimas melirik lalu berdiri.

Aku langsung menghampiri dan mengayunkan sapu ke arahnya dengan sekuat tenaga. “B******n, lu! S***n, a****g!” Semua sumpah serapah keluar dari bibirku sambil terus menghantamkan sapu ke arahnya.

Dhimas tidak melawan atau mengindar. Dia hanya menahan pukulanku dengan menyilangkan kedua tangannya.

“Indhira, sudah!” Papa mendekat dan berusaha menghentikan seranganku kepada Dimas yang membabi buta.

“Indhira … sudah, Sayang. Kamu harus kuat,” seru Mbah Uti juga.

Aku tidak menghiraukan mereka. Hati ini rasanya hancur. Duniaku runtuh untuk ke sekian kalinya, dan kali ini … rasanya aku tidak akan kuat untuk bangkit lagi.

Aku terus menghantamkan gagang sapu ke tubuh Dhimas. Meski pandanganku mulai kabur, pendengaranku tidak jelas dan tanganku mulai tidak bertenaga.

Begini rasanya dikhianati orang yang paling dipercaya. Semuanya hancur hingga hanya menyisakan butiran debu dan luka di hati yang teramat dalam.

Tuhan … izinkan aku menghantarkan laki-laki b****b ini ke hadapan-Mu. Aku tidak akan pernah merasa puas jika belum melihatnya mati di tanganku ini.

“Indhira … Indhira ….” Sayup-sayup, semua orang memanggilku. Bersambung (Insya Allah).

Comment

Rekomendasi Berita