by

Don Zakiyamani: Ketua Umum JIMI: Hari Kesaktian Jokowi

Dok/radarindonesianews.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – 01 Oktober biasanya diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila, ideologi negara ini dianggap sukses mengalahkan ideologi lainnya. Peristiwa G30S/PKI menjadi momentum pengesahan kesaktian Pancasila. Ideologi komunis takluk dihadapan Pancasila, rakyat Indonesia lebih memilih Pancasila dibandingkan komunisme.
Islam sebagai ideologi juga patuh pada Pancasila, kisah tersebut dimulai sejak pendiri bangsa sepakat menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi negara. Pancasila menjadi mother of ideology. Pancasila menjadi karakter bangsa Indonesia yang harus dipatuhi atau silahkan keluar dari Indonesia.
Selain PKI, percobaan pergantian ideologi negara pernah terjadi. NII (1949), PRRI (1958) dan gejolak politik lainnya, namun Pancasila tetap tegak hingga hari ini. Demikian setidaknya buku-buku dan tokoh nasional bicara mengenai kesaktian Pancasila. Namun tahun ini ada yang lebih sakti dari Pancasila.
Tahun ini 01 Oktober pantas diperingati sebagai hari kesaktian Jokowi, Presiden yang telah memimpin Indonesia selama 3 tahun. Beberapa “kesaktian” yang dimiliki Jokowi diantaranya ia mampu menjadikan konflik sebagai kekuatannya. Kontroversi kegaduhan pemutaran film dan 5000 senjata ilegal yang dikatakan panglima TNI.
Sebelumnya Jokowi terbukti sakti mengubah formasi partai oposisi dan pendukung. PAN dan Partai Golkar yang sebelumnya oposisi kini menjadi parpol pendukung. Sebuah kondisi yang tidak menguntungkan bagi oposisi. PPP dibuat terpecah belah hingga hari ini, sebelumnya partai Golkar mengalami nasib yang sama.
Jokowi juga berhasil menundukkan Megawati, hal itu dilakukan dengan cara menggagalkan mantan ajudan Megawati menjadi kapolri. Pada pilkada DKI Jakarta (2017) yang lalu Jokowi memaksa Megawati menandatangani surat dukungan PDIP untuk Ahok. Jokowi juga mampu menundukkan Jusuf Kalla yang lebih senior didunia politik.
Melalui pelindo II dan kasus papa minta saham, Jokowi menggeser orang-orang dekat Jusuf Kalla. Lagi-lagi Jokowi membuktikan kesaktiannya, membungkam Jusuf Kalla. Bila dibandingkan dengan SBY yang tidak mampu melakukan hal yang sama, Jokowi ternyata lebih sakti dari SBY.
Jokowi malah sempat membuat SBY berkali-kali berhadapan dengan media. SBY harus mengklarifikasi kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada Antasari Azhar. Jokowi memaksa SBY mengunjunginya, SBY benar-benar ketakutan pada Jokowi. SBY harus patuh atau akan habis karir politiknya, termasuk anak-anak SBY.
Kesaktian Jokowi dalam politik tak bisa diragukan, semua lawan dan kawan politik yang menggangu akan tersungkur. Taipan sekaligus politisi sekaliber Hary Tanoe pun harus patuh padanya. Hingga saat inj belum ada yang mampu menandingi kesaktian Jokowi.
Prabowo yang dikenal ahli strategi saja terpaksa diam melihat kondisi bangsa. Kesaktian Jokowi akan kembali diuji pada pilpres 2019, bila melihat syarat pencalonan Presiden, hanya Jokowi yang dipastikan memiliki tiket. Lawan-lawan politiknya masih menakar peluang, masih sangat jauh dari kata siap.
Koalisi Gerindra dan PKS masih membutuhkan satu parpol lagi agar bisa mencalonkan pasangan dalam pilpres. Mengingat tradisi politik SBY, peluang koalisi Demokrat dengan dua partai tadi sangat kecil. Bila PAN bergabung dengan dua partai tadi, pastilah PAN ingin kembali ajukan cawapres. Mengingat elektabilitas, Gerindra dan PKS pasti tak ingin pilpres 2014 terulang.
Masih absurdnya koalisi lawan politiknya, Jokowi sementara ini unggul. Jokowi bebas memilih wakilnya, bisa dari parpol ataupun diluar parpol. Sekali lagi membuktikan bahwa Jokowi memang sakti, dan tanggal 01 Oktober tahun ini pantas dijadikan hari kesaktian Jokowi.[]

Comment