RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK – Imam dan cendekiawan Muslim Indonesia yang bermukim di New York, Shamsi Ali, menyoroti sejumlah sikap politik Wali Kota New York, Zohran K. Mamdani, yang dinilainya berbeda dari kebanyakan politisi.
Shamsi menyebut Zohran sebagai “wali kota yang aneh” karena mengambil sikap yang tidak lazim dalam politik Amerika Serikat.
“Saya menyebutnya wali kota yang aneh. Karena tidak biasa, maka ia menjadi luar biasa. Karena aneh, maka ia berbeda dari fenomena politik pada umumnya,” tulis Shamsi.
Menurut Shamsi, salah satu sikap yang menonjol adalah penolakan Zohran terhadap usulan kenaikan gaji bagi wali kota yang diajukan Dewan Kota New York.
Usulan tersebut merupakan bagian dari rencana penyesuaian gaji pegawai kota setelah bertahun-tahun tidak mengalami kenaikan, seiring meningkatnya biaya hidup di New York.
Shamsi mengatakan, Zohran justru memilih memprioritaskan peningkatan kesejahteraan masyarakat dibanding pendapatannya sendiri.
“Yang justru saya dengar setiap hari adalah keluhan warga bahwa penghasilan mereka jauh dari cukup. Karena itu fokus saya adalah menaikkan pendapatan warga, bukan pendapatan wali kota,” kata Zohran sebagaimana dikutip Shamsi.
Selain soal kesejahteraan, Shamsi juga menyoroti pernyataan Zohran mengenai kemungkinan penangkapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu apabila terdapat dasar hukum yang mengharuskan tindakan tersebut.
Mengutip berbagai wawancara Zohran, termasuk dengan CNN, Shamsi menuliskan bahwa Zohran menyatakan akan memerintahkan Kepolisian New York (NYPD) menangkap Netanyahu apabila terdapat dasar hukum yang berlaku.
Shamsi mengakui terdapat sejumlah kendala hukum terhadap pernyataan tersebut. Menurut dia, Amerika Serikat bukan negara pihak Statuta Roma sehingga tidak memiliki kewajiban hukum menjalankan surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Selain itu, Netanyahu juga dapat memperoleh kekebalan diplomatik apabila berada di New York dalam kapasitas menghadiri agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Meski demikian, Shamsi menilai keberanian Zohran menyampaikan pandangan tersebut patut diapresiasi.
“Terlepas dari berbagai kerumitan hukum dan politik, keberanian Zohran menyuarakan sikap itu menunjukkan komitmennya terhadap prinsip keadilan dan penegakan hukum,” tulisnya.
Shamsi menegaskan pandangannya terhadap kepemimpinan Zohran.
“Zohran berbeda karena tidak menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri, melainkan sebagai amanah untuk melayani masyarakat. Ia juga berani mempertahankan keyakinannya terhadap nilai keadilan meski berhadapan dengan tekanan politik yang besar,” tulis Shamsi.[]












Comment