Esty Febriyani Zakaria, A. Md: Kala Sampah Tak Lagi Ramah

Berita2378 Views
Esty Febriyani Zakaria, A. Md
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pagi hari sejatinya kita selalu berharap ketika membuka jendela mendapati udara yang segar dengan pemandangan alam yang indah layaknya gunung yang menjulang tinggi dengan hamparan pohon dan rerumputan yang berkilauan. Namun, untuk saat ini hal itu mungkin hanyalah angan –angan belaka seperti jauh panggang dari api, alih-alih disuguhi pemandangan yang indah kita justru dipaksa menikmati tumpukan sampah yang kian hari kian menggunung.
Mengutip dari detikcom “Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat 7.000 ton sampah dihasilkan setiap hari di ibu kota. Sampah-sampah itu dihasilkan dari pemukiman sampai perkantoran”(21/1). Beragam upaya pun tentu telah dilakukan oleh pemerintah baik berupa kebijakan dan regulasi untuk mengatasi permasalahan sampah ini, Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK Djati Witjaksono Hadi menyampaikan tentang target kebijakan pengelolaan sampah berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional(RPJMN) tahun 2015-2019 “Target sampah yang terkurangi adalah sebesar 75% pada 2019,”kepada Kompas.com kamis(22/11/2018). Sementara dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah pada 2025 pemerintah juga menargetkan sampah akan terkurangi sebesar 30% dan tertangani sebesar 70%.
Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar mengatakan, pemerintah tengah fokus menggodok program untuk mengurangi sampah kantong plastik. Dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar sesuai dengan amanat dari Undang-Undang No.18 Tahun 2016 menjadi bukti begitu seriusnya pemerintah dalam upaya penanganan terkait masalah sampah ini.
Hal ini memang tampak terealisasi dengan sedikit berkurangnya penggunaan plastik rumah tangga, namun selang beberapa waktu tumpukan sampah telah kembali menggunung.Selain mampu mencemari lingkungan, sampahpun akan selalu menjadi penyebab utama banjir di ibu kota ketika musim penghujan tiba.Solusi yang diberikanpun tampak seperti tambal sulam yang tiada akhir, disatu sisi pemerintah berusaha sekuat tenaga untuk menuntaskan masalah ini walaupun dirasa agak sedikit pragmatis namun disisi lain layaknya gayung tak bersambut,sebab masyarakat hanya mampu mengangguk tanpa realisasi nyata.
Tentu saja faktor pendukung bertumpuknya sampah tersebut selain kebiasaan masyarakat pada umumnya yang senang membuang sampah tidak pada tempatnya dikarenakan kurangnya kesadaran mengenai esensi dari sampah itu sendiri, distribusi sampah yang dianggap lamban menambah permasalahan ini menjadi sangat pelik. Maka dari itu masyarakat butuh kesadaran dan edukasi yang cukup guna menuntaskan masalah sampah yang berkepanjangan ini dan tidak lupa,masyarakat haruslah mampu untuk saling bersinergis antara kebijakan dan regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Menurut survei yang dilakukan KLH di 26 kota metropolitan se-Indonesia, ternyata menunjukkan hanya kurang dari 5 persen total pihak yang mengelola sampah mulai dari individu, kelompok, sampai tingkat pemerintahan daerah. Hasilnya tentu dirasa masihlah belum signifikan walaupun sudah didukung dengan diterbitkannya Undang-Undang.Kompas.com
Tata Kelola Kota Dalam Islam
Berbanding terbalik dengan kondisi di atas, kota Baghdad di Irak menjadi salah satu contoh negara yang pada era Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur,yang mampu menerapkan tata kelola kota berbasis islam. Selain menata rapi letak kota-kota tersebut, beliaupun mendirikan saluran sanitasi pembuang najis dibawah tanah serta jalan-jalan luas yang bersih yang senantiasa diberi penerangan pada malam hari. Dalam pengembangannya sistem kanalisasi digunakan untuk membawa air baik untuk pembuatan batu bata maupun untuk kebutuhan manusia.
Setiap bagian kota yang direncanakan dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah tidak ketinggalan. Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar dan semua memiliki kualitas yang standar.
Lahan yang tidak tepat gunapun menjadi salah satu penyumbang berbagai macam masalah yang tak kunjung usai termasuk tempat-tempat untuk distribusi sampah tersebut. Oleh karena itu islam menetapkan haruslah ada pemisahan antara lahan milik umum, milik negara, dan milik pribadi. Hal ini tentunya dilakukan agar semua mampu berjalan sesuai dengan fungsinya
Sudah saatnya kita beralih kepada sistem yang mampu menuntaskan segala macam masalah termasuk sampah agar tata kelola kota menjadi indah nan ramah. []

Penulis adalah seorang karyawan di Bantar Gebang, Bekasi

Comment