![]() |
| Etti Budiyanti |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebentar lagi, tepatnya hari Rabu tanggal 17 April 2019, rakyat Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi. Pemilihan Umum untuk memilih pemimpin Indonesia masa depan. Kompetisi antar capres cawapres mulai panas dengan isu keagamaan. Perang kata-kata selalu menyapa di beranda-beranda sosial media. Salah satunya isu ide baca Al Qur’an bagi calon Presiden dan calon Wakil Presiden.
Dilansir
dari Tribunnews.com (30|12|18), Ikatan Da’i Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden
RI untuk tes baca Al Qur’an. Rencananya
acara akbar ini akan dilaksanakan tanggal 15 Januari 2019.
dari Tribunnews.com (30|12|18), Ikatan Da’i Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden
RI untuk tes baca Al Qur’an. Rencananya
acara akbar ini akan dilaksanakan tanggal 15 Januari 2019.
Selain itu usulan pendakwah dari Aceh ini bertujuan untuk
mengakhiri polemik keislaman Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga. Pun, tes
baca Al Qur’an dinilai untuk meminimalkan politik identitas yang sudah
terlanjur dilakukan oleh pendukung kedua pasangan calon.
mengakhiri polemik keislaman Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga. Pun, tes
baca Al Qur’an dinilai untuk meminimalkan politik identitas yang sudah
terlanjur dilakukan oleh pendukung kedua pasangan calon.
Berbagai respon muncul menanggapi usulan
ide baca Al Qur’an tersebut. Anggota
Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga, Ferdinand Hutahaean menghormati
usulan itu, namun tak sepakat dengan alasan capres bukan pemimpin negara
syariah. Partai Gerindra menolak undangan tersebut. Menurut Gerindra, hal
semacam itu tak substansial dalam menentukan kualitas seorang capres.
ide baca Al Qur’an tersebut. Anggota
Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga, Ferdinand Hutahaean menghormati
usulan itu, namun tak sepakat dengan alasan capres bukan pemimpin negara
syariah. Partai Gerindra menolak undangan tersebut. Menurut Gerindra, hal
semacam itu tak substansial dalam menentukan kualitas seorang capres.
“Yang sangat dan lebih penting
adalah pemahaman terhadap isinya (Al Qur’an) dan bagaimana mengamalkannya
secara demokratis dan konstitusional di NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD
1945,” kata Ketua DPP Gerindra Sodik Mujahid. Adapun Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf,
Hajrianto Thohari mengatakan bahwa syarat dari Komisi Pemilihan Umum sudah
cukup, tak perlu ditambah lagi.
adalah pemahaman terhadap isinya (Al Qur’an) dan bagaimana mengamalkannya
secara demokratis dan konstitusional di NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD
1945,” kata Ketua DPP Gerindra Sodik Mujahid. Adapun Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf,
Hajrianto Thohari mengatakan bahwa syarat dari Komisi Pemilihan Umum sudah
cukup, tak perlu ditambah lagi.
Ide tes baca Al Qur’an untuk Capres dan Cawapres serta respon
terhadapnya merupakan salah satu bukti bahwa dalam demokrasi Al Qur’an hanya jadi
alat permainan politik untuk memenangi persaingan di satu sisi dan
keberadaannya tidak penting di sisi lain.
terhadapnya merupakan salah satu bukti bahwa dalam demokrasi Al Qur’an hanya jadi
alat permainan politik untuk memenangi persaingan di satu sisi dan
keberadaannya tidak penting di sisi lain.
Padahal Al Qur’an adalah wahyu Allah sekaligus petunjuk
hidup yang wajib atas seluruh kaum
hidup yang wajib atas seluruh kaum
muslim untuk mengamalkan isinya dengan kaffah.
Kadar Keimanan Pemimpin
Islam merupakan agama yang sempurna. Semua
persoalan dalam kehidupan manusia telah diatur dalam Al-Quran, baik persoalan
agama, politik, ekonomi maupun sosial. Dalam konteks politik misalnya, Islam
telah mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan politik, negara dan
kepemimpinan, termasuk masalah memilih pemimpin. Pemimpin yang Islam, bukan
kafir, sebagaimana firman Allah dalam
Surat Al Maidah 51yang artinya :
persoalan dalam kehidupan manusia telah diatur dalam Al-Quran, baik persoalan
agama, politik, ekonomi maupun sosial. Dalam konteks politik misalnya, Islam
telah mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan politik, negara dan
kepemimpinan, termasuk masalah memilih pemimpin. Pemimpin yang Islam, bukan
kafir, sebagaimana firman Allah dalam
Surat Al Maidah 51yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu);
sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di
antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang lalim.”
mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu);
sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di
antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang lalim.”
Pemimpin yang beriman pastilah pemimpin yang bukan hanya
pandai membaca Al Qur’an tetapi mau
menerapkan apa yang ada dalam Al Qur’an karena Al Qur’an adalah petunjuk hidup
umat Islam.
pandai membaca Al Qur’an tetapi mau
menerapkan apa yang ada dalam Al Qur’an karena Al Qur’an adalah petunjuk hidup
umat Islam.
Al Qur’an
sebagai petunjuk hidup, akan menunjukkan jalan yang benar dan bathil, perkara yang
halal dan yang haram, yang diridhoi dan dimurkaiNya, dan yang akan mengantarkan
ke surga ataukah ke neraka.
sebagai petunjuk hidup, akan menunjukkan jalan yang benar dan bathil, perkara yang
halal dan yang haram, yang diridhoi dan dimurkaiNya, dan yang akan mengantarkan
ke surga ataukah ke neraka.
Sebagai
layaknya petunjuk, maka Al Qur’an harus dibaca dan dipahami, juga wajib
diamalkan dan diikuti segala ketentuannya. Bagi pemimpin, kewajiban paling
besar baginya adalah menerapkan seluruh isi Al Qur’an. Sebab banyak ayat al
Qur’an yang hanya bisa dijalankan oleh seorang pemimpin.
layaknya petunjuk, maka Al Qur’an harus dibaca dan dipahami, juga wajib
diamalkan dan diikuti segala ketentuannya. Bagi pemimpin, kewajiban paling
besar baginya adalah menerapkan seluruh isi Al Qur’an. Sebab banyak ayat al
Qur’an yang hanya bisa dijalankan oleh seorang pemimpin.
Ironinya,
para politisi sekuler itu justru kerap mengeksploitasi agama untuk kepentingan
politik mereka. Contohnya : memamerkan ibadah , memberi bantuan ke
pesantren-pesantren. Tujuannya bukan memuliakan Islam, apalagi menerapkan
Islam, tetapi sekedar mencari simpatik untuk mendulang suara saat Pemilu dan
untuk menjatuhkan kubu lawan.
para politisi sekuler itu justru kerap mengeksploitasi agama untuk kepentingan
politik mereka. Contohnya : memamerkan ibadah , memberi bantuan ke
pesantren-pesantren. Tujuannya bukan memuliakan Islam, apalagi menerapkan
Islam, tetapi sekedar mencari simpatik untuk mendulang suara saat Pemilu dan
untuk menjatuhkan kubu lawan.
Begitulah tabiat politik sekuler. Menjauhkan agama dari
kehidupan berpolitik dan bernegara. Namun di lain waktu, tanpa rasa malu
sedikitpun, mereka mengeksploitasi agama demi memuluskan politik mereka.
kehidupan berpolitik dan bernegara. Namun di lain waktu, tanpa rasa malu
sedikitpun, mereka mengeksploitasi agama demi memuluskan politik mereka.
Sudah saatnya umat mencampakkan sistem sekuler dan menggantinya
dengan sistem Islam yang mensejahterakan muslim dan nonmuslim.
dengan sistem Islam yang mensejahterakan muslim dan nonmuslim.
Karena itu, jangan hanya tantangan untuk membaca Al Qur’an.
Yang lebih layak untuk dijadikan tantangan adalah : beranikah mereka menerapkan
hukum – hukum Al Qur’an? Sebagaimana
firman Allah Surat Al Maidah 50 :
Yang lebih layak untuk dijadikan tantangan adalah : beranikah mereka menerapkan
hukum – hukum Al Qur’an? Sebagaimana
firman Allah Surat Al Maidah 50 :
”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orang yang yakin? (TQS Al Maidah ayat 50). Wallahu a’lam bishshowwab.[]
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orang yang yakin? (TQS Al Maidah ayat 50). Wallahu a’lam bishshowwab.[]
*Penulis adalah anggota Komunitas Muslimah Rindu Jannah dan Akademi
Menulis Kreatif
Menulis Kreatif










Comment