Eva Rahmawati: Jelang Akhir Tahun, Stabilitas Harga Tergoncang

Berita1278 Views
Eva Rahmawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Ibarat banjir musiman yang datang ketika musim hujan, begitupun dengan tren kenaikan harga bahan pangan jelang akhir tahun. Seolah-olah sudah dianggap wajar. Lumrah. Rakyat hanya bisa pasrah. 
Dilansir oleh katadata.co.id pada Senin (10/12/18). Menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri, sinyal kenaikan harga bahan pokok terlihat sejak dua pekan terakhir. Biasanya, lonjakan akan signifikan setelah pertengahan Desember. 
Selanjutnya akan terus melonjak hingga Natal dan Tahun Baru 2019. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi menyebutkan sejumlah komoditas yang rentan mengalami lonjakan harga jelang akhir tahun yaitu cabai rawit, daging sapi, daging ayam, dan telur. Informasi tersebut diperoleh dari kajian pada penjualan barang pokok saat Natal dan tahun baru di 18 kota besar di 12 provinsi.
Kajian tersebut digunakan sebagai perencanaan ketersediaan pemerintah. Kementan menyimpulkan ada sebelas komoditas yang menjadi sorotan menjelang hari besar, yaitu beras, kacang tanah, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, daging sapi, daging ayam, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng. Pemerintah mengaku sudah siap mengantisipasi lonjakan permintaan sehingga harga tidak akan ikut melonjak tinggi.
Namun faktanya, setiap jelang akhir tahun sebelas komoditas tersebut trennya mengalami kenaikan. Hal ini berimbas kepada kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah dituntut pintar dalam mengatur pendapatan yang ada menghadapi tren tahunan ini. Yang sebelumnya rakyat sudah menerima kenaikan bbm, listrik, gas, dll. Lagi dan lagi rakyat yang menjadi korban. Menelan kegetiran menghadapi semakin susahnya hidup dalam himpitan ekonomi. Lantas apa sebenarnya penyebab hal ini terus berulang tiap tahun? 
Dilansir oleh Kontan.co.id pada Kamis (15/11/18). Tren kenaikan ini terus berulang menjelang akhir tahun. Penyebabnya menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyebut ada beberapa komponen yang menyebabkan kenaikan harga pangan di akhir tahun.
Komponen pertama adalah ancaman inflasi yang kemungkinan terjadi di akhir tahun. Menurut Eko Listianto selaku Wakil Direktur Indef menyebut, Inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price) dan inflasi bergejolak kerap menjadi pemicu lonjakan inflasi di Indonesia.
Selanjutnya ada masalah impor yang sejauh ini terus dilakukan pemerintah. Hal ini dinilai tidak berkesudahan untuk menutupi kebutuhan dalam negeri. Padahal, komponen pangan tersebut mampu di berdayakan di tingkat petani dalam negeri. 
Inflasi dan impor adalah problem yang selalu terjadi ketika negara menerapkan sistem ekonomi liberal (kapitalis). Sistem ekonomi yang sering berkaitan dengan pasar bebas dan dukungan terhadap kepemilikan individu menguasai aset dan modal. 
Ekonomi liberal didasarkan pada pemikiran bahwa jika pasar ekonomi dibiarkan sendiri, maka pasar akan berjalan secara spontan berdasarkan pada mekanisme atau hukumnya sendiri. Berikutnya keputusan perekonomian yang diambil sebagian besar ditentukan oleh masing-masing individu, bukan lembaga atau organisasi bahkan pemerintah. Pemerintah hanya berperan dalam pengawasan saja, tidak ada wewenang ikut campur dalam kegiatan perekonomian. Pemerintah hanya sebagai badan birokrasi dan menjaga ketersediaan bahan pokok. Hal ini sesuai dengan tujuan ekonomi liberal untuk menghilangkan kebijakan ekonomi proteksionisme. 
Maka setiap individu mendapatkan kebebasan melakukan aktivitas ekonomi. Prioritas utama bukan kebermanfaatan melainkan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya bagi pelaku usaha itu sendiri. Untuk tujuan itu pelaku usaha akan bersaing bebas dengan yang lain. Apapun akan dilakukan, tak lagi mengindahkan halal atau haram. Serba bebas. 
Tak heran dalam permaianan bisnis dalam ekonomi liberal ini akan ditemui berbagai macam kecurangan. Seperti pelaku usaha melakukan monopoli atau penimbunan bahan pokok, permainan harga, atau dalam tataran kebijakan yang diambil lebih pro terhadap pelaku usaha semisal impor bahan pokok beras dan jagung ketika mendekati panen raya. Memang menguntungkan bagi importir akan tetapi hal ini tentu sangat menyakitkan bagi para petani. 
Wajar jika persaingan bisnis tidak sehat merajalela, karena penerapan sistem ekonomi liberal ini adalah hasil dari pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme). Kegiatan ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak diserahkan kepada manusia untuk mengaturnya. Menafikan peran Tuhan, yang ada menuhankan hawa nafsu. Yang terjadi kegiatan ekonomi dikuasai oleh mereka yang mempunyai kekuatan modal besar. Perputaran kekayaan hanya berlaku pada beberapa orang saja. Akibatnya terjadi kesenjangan sosial. Yang kaya makin kaya yang miskin tambah dimiskinkan oleh sistem. Yang lebih parah terjadi inflasi mendadak sehingga perekonomian negara menjadi tidak stabil. 
Pakar ekonomi Ichsanudin Noersy menjelaskan bahwa sesungguhnya inflasi adalah keputusan politik pemerintah yang cerdas menghadapi liarnya pengusaha dalam berbisnis. Dengan inflasi ini pengusaha diuntungkan sebaliknya rakyat buntung. Sistem ekonomi liberal ini lebih pro kepada pengusaha. Kembali rakyat terseok-seok dalam himpitan ekonomi akibat inflasi. Bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah, inflasi seperti ini adalah teror menakutkan. Dengan pendapatan yang pas-pasan, kenaikan harga membuat uang mereka tidak lagi bernilai. 
Akibat inflasi tinggi, beberapa komoditas terus merangkak naik. Ketika kondisinya kenaikannya tak terkendali. Langkah yang biasa ditempuh dengan membuka keran impor.  Dengan tujuan dapat menekan harga. Impor ini merupakan solusi yang bersifat parsial. Yang diuntungkan dari impor hanya beberapa gelintir pelaku usaha (importir). 
Dan itu berlangsung setiap tahun, berulang dan terus berulang. Mestinya hal ini bisa diantisipasi jauh-jauh hari, dengan kebijakan ekonomi yang bukan hanya tambal sulam seperti impor. Satu masalah terselesaikan namun masalah lain bermunculan. Problem tahunan namun sepertinya rezim belum berhasil memecahkannya. Hal ini sebagai bukti gagalnya rezim menjaga stabilitas harga pangan serta menjamin kebutuhan pokok rakyatnya dengan harga terjangkau.
Bertahan selamanya dalam ekonomi liberal, hal ini akan terus berulang, perlu adanya revolusi sistem ekonomi yang mampu menjamin stabilitas harga dan menekan laju inflasi. Yaitu sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi yang bersumber dari wahyu Ilahi. Sesuai Al Qur’an dan As Sunnah.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, setiap individu diberikan kebebasan untuk melakukan upaya pemenuhan tersebut. Salah satunya dengan melakukan transaksi jual beli. Jual beli apapun pada asalnya boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.
 Allah ta’ala berfirman:
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al Baqarah :275)
Kemudian dalam prakteknya jual beli harus dilandasi keridhoan antara kedua belah pihak, tidak curang, kejujuran, tidak ada penipuan, persaingan yang sehat sesuai dengan ketentuan syariah, transparancy serta keadilan. Distribusi barang dan jasa harus lancar. Sebagai wujud menciptakan mekanisme pasar yang Islami. Sesuai dengan nash syara.
Seperti yang sering terjadi dalam ekonomi liberal, praktek monopoli atau penimbunan barang dengan tujuan membuat kelangkaan barang di pasaran sehingga melambungnya harga tersebut, dalam Islam dengan tegas dilarang.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menimbun barang, maka ia telah berbuat kesalahan (dosa).”  (HR. Muslim)
Dalam pandangan Islam negara memiliki hak untuk melakukan intervensi, dalam kegiatan ekonomi baik itu dalam bentuk pengawasan, pengaturan maupun pelaksanaan kegiatan ekonomi yang tidak mampu dilaksanakan oleh masyarakat. Bahkan negara bisa melakukan intervensi harga dengan kondisi yang dibenarkan syara’.
Berikutnya penggunaan mata uang kertas yang tidak di back up emas, mengakibatkan negara dengan mudah mencetaknya. Maka akan terjadi kelebihan uang yang beredar di masyarakat berimbas pada kenaikan inflasi. Solusinya dengan menggunakan standar mata uang emas dan perak. Hal ini telah digunakan pada masa Rasulullah SAW dilanjutkan pada masa kekhilafahan selama 14 abad. Dan terbukti dalam sejarah, sangat ampuh mencegah terjadinya inflasi. Alhasil rakyat hidup tenang tanpa dihantui kenaikan komoditas bahan pokok, sehingga kesejahteraan rakyat terwujud.
Demikianlah sistem Islam mampu menjawab permasalahan ekonomi. Maka, hanya dengan penerapan sistem Islamlah, segala permasalahan ekonomi dapat terselesaikan.
Wallohua’lam bi ashshowab.

Comment