by

Eva Rahmawati*: Ramadhan: Campakkan Sekularisme Tegakkan Ketakwaan

Eva Rahmawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Marhaban ya Ramadhan. Bulan mulia yang selalu dinanti kaum muslim telah datang. Bulan penuh berkah yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan penuh ampunan dan dilipatgandakan pahala. Bulan yang telah Allah Swt jadikan di dalamnya puasa sebagai fardhu dan shalat malamnya sebagai tathawwu’. 
Bulan istimewa bagi kaum muslim. Setiap muslim patut berbahagia dan bersyukur bertemu kembali dengan bulan yang agung. Dijanjikan ampunan dari Allah Swt bagi setiap muslim yang sungguh-sungguh meraihnya. Sungguh merugi bagi seorang muslim yang tidak mendapat ampunan manakala Ramadhan berlalu. Untuk itu jadikan Ramadhan kali ini berlomba-lomba dalam beragam kebaikan dan memohon ampun atas segala dosa dan kekhilafan.
Puasa Sebagai Perisai
Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa puasa adalah mencegah atau menahan diri dari apa yang Allah perintahkan untuk menahan darinya –al-kaf ‘amma ammarallahu bil kaffi ‘anhu– (Tafsir ath-Thabari, iii/409).
Dalam berpuasa, seorang muslim diperintahkan oleh Allah Swt untuk menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa semisal makan, minum, bersetubuh, juga dari perbuatan yang merusak pahala puasa seperti marah, berdusta, berkata kasar, berbuat keji, dan sebagainya.
Bagi setiap muslim yang menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, ditambah dengan amalan-amalan di dalamnya, baik yang wajib maupun sunah, maka puasa tersebut dapat menjadi perisai baginya di akhirat kelak. Yaitu Allah jadikan pahalanya sebagai perisai dari api neraka. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Puasa itu adalah perisai dari api neraka, seperti perisai seseorang dari kalian dari serangan musuh. (HR. An-Nasai, Ibnu Majah)
Ibadah Tapi Sekuler
Banyaknya fenomena muslim yang rajin ibadah namun maksiat tetap jalan adalah bukti bercokolnya sekularisme di negeri ini. Untuk itu sudah saatnya Ramadhan kali ini dijadikan sebagai momentum untuk berubah, dari yang masih pilah-pilih perintah Allah Swt, menjadi seorang muslim yang benar-benar melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. 
Bukankah hikmah dari puasa mendapatkan takwa? Karenanya kaum muslimin perlu untuk merenung, apakah Ramadhan demi Ramadhan yang dilewati telah dijalankan dengan shaum sebagaimana mestinya? Apakah kaum muslimin benar-benar telah menahan diri dari perkara yang mendatangkan murka Allah? Atau sebaliknya?
Sungguh bila kita dengan jujur melakukan introspeksi, maka ibadah puasa yang selama ini dijalankan baru sebatas menahan diri dari lapar dan haus. Belum secara penuh menahan diri dari apa yang Allah perintahkan untuk menahan darinya, menjauhkan diri dari perkara-perkara yang mendatangkan murka Allah Swt.
Layaknya prasmanan, dipilih yang disuka. Begitupun potret kehidupan seorang muslim yang sekuler, masih suka pilah-pilih dalam ketaatan. Taat pada perintah yang disukai, menolak perintah yang tak sesuai dengan hawa nafsunya. Seperti masih banyaknya muslimah di negeri ini yang abai dengan kewajiban menutup auratnya. Mereka menutup aurat ketika sholat, namun setelahnya dengan bangga memamerkan auratnya. Seakan-akan Tuhannya hanya melihatnya di tempat ibadah saja.
Rajin ibadah tapi masih asyik bergelut dengan riba. Dengan dalih kondisi darurat, padahal kedaruratannya itu tidak sampai mendatangkan kematian. Pasalnya yang bersinggungan dengan riba hanyalah perkara untuk memenuhi gharizahnya bukan hajatul uduwiyah seperti pinjam modal di bank, KPR, leasing motor dan mobil, dsb. 
Di tengah-tengah masyarakat, menjelang dan selama Ramadhan tempat-tempat hiburan malam dan tempat-tempat yang menebar kemaksiatan dilarang beroperasi, tetapi boleh buka kembali pasca Ramadhan. Seolah-olah haramnya kemaksiatan hanya berlaku selama Ramadhan.
Acara-acara televisi selama Ramadhan menayangkan acara-acara keislaman dengan berbagai variasi. Namun, ada beberapa yang jauh dari nilai-nilai Islam. Sinetron-sinetron bercirikan Islam namun kontennya jauh dari nilai Islam, yang ada justru meminggirkan nilai-nilai keislaman itu sendiri. Yang dikejar hanya rating tak peduli sesuai dengan nilai Islam atau tidak. Yang penting memenuhi selera penonton yang notabene sekuler juga.
Ramadhan tahun lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berulangkali menegur sejumlah televisi swasta yang melanggar etika penyiaran. Dilansir oleh suara.com pada 5 Juni 2018. Komisioner Bidang Pengawasan Isi Siaran KPI, Nuning Rodiyah menjelaskan, KPI telah melayangkan peringatan kepada beberapa stasiun televisi yang menayangkan konten-konten yang dianggap melanggar peraturan. “KPI mengeluarkan peringatan tertulis tiga teguran dan teguran tertulis 21,” sebut Nuning.
Acara-acara banyolan di saat santap sahur, dengan konten hiburan ditambah dengan nyanyian dan joget apalagi campur baur antara laki-laki dan perempuan sungguh hal tesebut jauh dari nilai Islam. Bahkan ada juru dakwah yang ikut berpartisipasi dalam acara-acara seperti itu. Bila demikian, maka apa artinya Ramadhan?
Dalam pemerintahan, para pejabat tersangkut kasus korupsi, bahkan semakin menggila. Baru-baru ini terbongkar kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementrian Agama. Kementrian Agama yang harusnya menjadi contoh baik bagi yang lain nyatanya diisi oleh orang-orang yang gila harta dan kekuasaan hingga menghalalkan segala cara.
Menurut data dari Transparency International, Indonesia masih jauh dari kategori “negara bersih” dan bebas korupsi. Tingkat korupsi di negeri ini masih sangat tinggi meskipun pemerintah dan lembaga-lembaga terkait yang menangani masalah korupsi seperti kepolisian, KPK, atau Pengadilan Tipikor sudah melakukan berbagai cara dan upaya untuk menangkap dan memenjarakan para koruptor serta mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan korupsi.
Selain kasus korupsi, pergaulan bebas di kalangan remaja sudah parah. Akibat dari pergaulan bebas tersebut banyak kehamilan tak diinginkan. Alhasil kasus aborsi dan pembuangan bayi meningkat. Dilansir oleh panjimas.com pada 2/1/18. Ind Police Watch (IPW) mencatat, di sepanjang 2017 ada 178 bayi yang baru dilahirkan dibuang di jalan. Jumlah ini naik 90 kasus dibanding tahun 2016, yang ada 88 bayi yang dibuang. Dari 178 bayi itu, sebanyak 79 bayi di antaranya ditemukan tewas dan 10 bayi (janin) yang belum masanya lahir dipaksakan untuk dikeluarkan atau digugurkan dan dibuang di jalanan. Sementara bayi yang hidup karena diselamatkan warga, aparat desa, puskesmas dan pihak kepolisian ada sebanyak 89 bayi. Padahal, bukankah remaja Indonesia mayoritas beragama Islam? 
Itulah di antara wajah sekuler negeri ini. Meski negeri ini mayoritas muslim, namun kehidupan diatur berlandaskan sekularisme, yakni agama dipisahkan dari kehidupan. Ajaran Islam hanya menjadi urusan ibadah yang sifatnya individual, tidak berpengaruh pada kehidupan masyarakat dan negara. Sekularisme menghasilkan orang-orang yang bermental hipokrit; lain di ruang ibadah, lain di ruang publik.
Kokohkan Iman, Tegakkan Syariah Islam
Dengan berpuasa semestinya kaum muslimin akan terbimbing menjadi pribadi yang agung. Gemar beramar ma’ruf nahi mungkar dan bersemangat menjalankan semua perintah Allah Swt tanpa pilah-pilih. Dan akan meninggalkan apa yang dilarang Allah Swt tanpa ditunda-tunda.
Allah Swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 183)
Dengan ibadah puasa, orang yang beriman diperintahkan untuk memproses dirinya agar menjadi orang yang bertakwa. Sebagai pangkal mewujudkan ketakwaan itu, tentu saja iman harus dikokohkan dan tauhid harus dimurnikan dari segala kesyirikan, apalagi kesyirikan sistematis yang dilakukan Bani Israel. Allah Swt berfirman: 
Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah… (QS At-Tawbah : 31)
Tatkala Nabi membaca ayat tersebut, Adi Bin Hatim menimpali: “Ya Rasulullah mereka tidak menyembah para alim dan rahib mereka”. Nabi menjawab:
Ya, mereka (orang-orang alim dan para rahib) mengharamkan apa yang halal dan menghalalkan yang haram lalu mereka mengikuti mereka, maka itulah ibadah (penyembahan) mereka kepada orang-orang alim dan para rahib. (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Kesyirikan Bani Israel yang dilakukan yaitu menyerahkan penentuan halal dan haram kepada orang-orang alim dan para rahib sesuai dengan akal dan hawa nafsu mereka. Dan kesyirikan itu juga, sama yang diajarkan dalam demokrasi. Dalam demokrasi di negeri ini yang mempunyai hak membuat hukum adalah badan legislatif (DPR). Hukum yang diterapkan buatan manusia, tak heran hukum-hukum Allah yang jelas-jelas haram, dalam demokrasi berubah menjadi halal seperti Khamr (minuman keras), dalam Islam hukumnya haram namun dalam demokrasi berubah menjadi halal bahkan Pemprov DKI Jakarta mempunyai saham di PT Delta. 
Untuk diketahui, PT Delta Djakarta Tbk. memegang lisensi produksi dan distribusi beberapa merek bir internasional. Dalam laporan kepemilikan saham PT Delta Djakarta di laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), www.idx.co.id, saham Pemprov DKI tercatat bertambah hampir 3 persen, dari 23,33 persen dari tahun 1970 menjadi 26,25 persen per 25 Februari 2019, dengan keuntungan sekitar Rp 37 miliar hingga Rp 50 miliar.
Riba jelas hukumnya haram namun di negeri ini riba difasilitasi negara, bank-bank konvensional terdapat praktik ribawi, perzinahan dilokalisasi, dan sebagainya.
Untuk itu, sudah saatnya Ramadhan kali ini dijadikan bulan mengokohkan iman dan memurnikan tauhid, mencampakkan sekularisme dan membuang kesyirikan yang menjadi inti demokrasi itu. Sekaligus, jadikan Ramadhan sebagai momentum mewujudkan hikmah puasa, yaitu takwa. Dan hakikat ketakwaan adalah melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. 
Bukan hanya taat dalam hal ibadah saja melainkan harus menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Baik dalam ranah individu, keluarga atau kemasyarakatan dan negara,  dalam masalah akidah, ibadah, makanan, pakaian, akhlak, ekonomi, pendidikan, pemerintahan, tata pergaulan, politik di dalam dan luar negeri dan sebagainya.
Semua itu termaktub dalam syariah Islam. Karena itu mewujudkan ketakwaan secara sempurna tidak lain adalah menerapkan syariah Islam secara utuh dan total. Hal itu tentu saja tidak bisa terwujud kecuali dalam sistem Pemerintahan Islam yang menerapkan syariah Islam kaffah yaitu al-khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallahu a’lam bishshowab.[]
*Anggota komunitas AkademiMenulisKreatif

Comment

Rekomendasi Berita