by

Fitriani S.Pd*: Ramadhan Bulan Kebangkitan Umat

 Fitriani S.Pd
RADARINDONESIANES.COM, JAKARTA – Tak terasa sebentar lagi kita akan menghadapi bulan Ramadhan. Bulan yang lebih baik daripada seribu bulan, yang belum tentu setiap insan bisa mendapatkannya. Ialah bulan diturunkannya Al-Qur’an, yang tidak hanya menjawab persoalan pribadi semata melainkan seluruh solusi kehidupan Allah tuangkan didalamnya. 
Jika kita coba cermati, bulan ramadhan tahun ini merupakan bulan ramadhan ke ke 98 tanpa Khilafah sejak diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Ataturk pada 27 Rajab 1342 H. Setelah Khilafah dihapuskan, sketsa kehidupan umat Islam saat menjalani Ramadhan hampir seratus tahun lamanya heterogen ( berbeda-beda). Seperti biasa, kedatangannya disambut dengan kenaikan harga bahan-bahan makanan, perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan mengakhirinya dengan perbedaan penetapan 1 Syawal. 
Seperti yang dilansir dari kompas.com, 03/05/2019, Warga di Desa Wakal, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Pulau Ambon) mulai menggelar shalat tarawih di Masjid Nurul Awal di desa tersebut, usai shalat isya berjemaah, Jumat malam (3/5/2019). Warga di desa tersebut mulai melaksanakan shalat tarawih perdana di masjid tersebut, sebab pada Sabtu (4/5/2019) besok, warga sudah mulai melaksanakan ibadah puasa.
Atau dikutip dari Viva.com, 04/04/2019, ratusan jemaah Tarekat Naqsabandiyah Sumatera Barat, Jumat malam, 3 Mei 2019, melaksanakan Salat Tarawih. Itu artinya, Sabtu, 4 Mei 2019, jemaah Naqsabandiyah di Ranah Minang mulai menjalani ibadah puasa pertama di bulan suci Ramadan 1440 Hijriah.
Sungguh, jika kita coba evaluasi, makna ramadhan seperti ini sangat jauh panggang dari api. Ramadhan, bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT atas sebelas bulan lainnya, adalah bulan pelaksanaan ibadah puasa ( syahrush-shiyam), bulan Al-Qur’an ( syahrush Qur’an ), bulan melatih kesabaran ( syahrush sabr), bulan penuh ampunan ( syahrush taubah wal maghfiroh) dan masih banyak keagungan lainnya yang seyogyanya sangat istimewa bagi umat Islam. Sejatinya, kedatangannya dinanti dengan segenap hati. Kehadirannya ditunggu dengan sepenuh jiwa. Menyongsongnya dengan suka cita tanpa harus dibingungkan dengan perbedaan awal ramadhan atau dipusingkan dengan harga-harga yang melambung tinggi.
Namun, yang terjadi saat ini tidaklah demikian. Hal ini terjadi karena dicampakkannya syariat Islam sejak runtuhnya khilafah, dan mengambil sistem Barat dalam mengatur kehidupan. Inilah pula yang kemudian membuat umat Islam tidak menampakkan dirinya sebagai umat terbaik. Seperti pelaksanaan puasa yang tidak bersatu dan sembrawut. Pada saat suatu kaum berpuasa ternyata masih ada kaum yang belum berpuasa. Perbedaan penetapan 1 Ramadan penyebabnya. 
Celakanya lagi terdapat sejumlah orang yang terang-terangan enggan berpuasa atas nama kebebasan HAM dan tanpa takut dikenakan sanksi. Alquran yang isinya mengatur segala linik kehidupan hanya diambil sebagian saja kemudian mencampakkan sebagian yang lain. Kesabaran yang seharusnya dilatih, hanya mampu menundukkan hawa nafsu menahan diri dari makan dan minum tetapi pada saat yang sama masih berkholwat ( berdua-duaan dengan yang bukan mahrom ), campur baur ( ikhtilat), maksiat, tidak mampu menundukkan hawa nafsunya untuk mencampakan riba serta muamalah kapitalistik lainnya. 
Tetap membunuh tanpa alasan yang benar. Durhaka kepada kedua orang tua dan tetap merebaknya perbuatan syirik ditengah-tengah masyarakat. Parahnya lagi, legislasi undang-undang racikan akal manusia tetap berjalan, memutilasi undang-undang rancangan sang pemilik semesta dan isinya, Allah SWT. 
Maka solusi untuk memutus semua kecarutmarutan yang ada, tidak ada cara lain selain daripada kebangkitan umat yang dimana mensyaratkan perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran umat. Islam (aqidah dan Syariah) mutlak menjadi sudut pandang berpikir dan standar perbuatan umat. Realitas adalah objek berpikir yang harus diubah dengan Islam, dan bukan dalil untuk melabeli baik-buruk, terpuji-tercela dan halal-haram. 
Realitas-realitaslah yang harus disesuaikan dengan Islam, bukan sebaliknya. Dengan demikian kesadaran dan gerakan politik umat akan menjembatani kelangsungan kehidupan Islami melalui penegakan Khilafah Islamiyah. Sebab hanya dengan tegaknya Khilafah Rasyidah ala minhajin nubuwwah maka syariat Islam bisa diterapkan secara Kaffah, dan umat Islam akan bersatu di bawah kepemimpinan tunggal khalifah. Penetapan 1 Ramadhan tidak akan berbeda lagi. Bahan-bahan makanan tidak akan mahal lagi, sebab khalifah akan mengaturnya dengan baik menggunakan sistem ekonomi dan muamalah berbasis Islam. Alquran akan dijadikan pedoman tertinggi dan direalisasikan secara sempurna. 
Sehingga dengan demikian, puasa Ramadan akan menjadi benteng (junnah) bagi individu, sementara Khilafah akan menjadi benteng (junnah) bagi masyarakat. Jadi mari jadikan Ramadhan momentum kebangkitan umat untuk mempercepat datangnya pertolongan Allah. Wallahu A’lam Bissawab.[]
*Anggota Komunitas Back to Muslim Identity, Baubau

Comment

Rekomendasi Berita