Penulis: Khansa Alma, S.Pd. | Pembina Muslimah Tangguh
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sebagaimana diberitakan sejumlah media nasional dalam beberapa waktu terakhir, publik kembali dikejutkan oleh berbagai kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret figur agama.
Salah satunya kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri yang menyeret AAM dan kini ditangani Bareskrim Polri. Kasus lain juga mencuat di Pati, Jawa Tengah, ketika seorang pengasuh pondok pesantren dilaporkan terkait dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati. Rentetan kasus ini kembali membuka luka sekaligus kegelisahan umat tentang runtuhnya keteladanan figur agama di tengah masyarakat.
Fenomena tersebut tentu menyesakkan hati umat Islam. Sebab yang runtuh bukan sekadar nama seorang figur, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap dakwah dan pendidikan agama. Banyak muslimah merasa kecewa, sebagian generasi muda mulai sinis terhadap majelis ilmu, bahkan ada yang perlahan menjauh dari agama karena melihat ketidaksesuaian antara ilmu dan perilaku.
Padahal, Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa fitnah terbesar manusia bukan hanya harta atau jabatan, melainkan syahwat yang tidak dikendalikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits tersebut bukanlah bentuk merendahkan perempuan, melainkan peringatan bahwa syahwat adalah ujian besar yang dapat meruntuhkan siapa saja ketika hati tidak dijaga dengan iman dan ketakwaan. Tidak sedikit manusia yang tampak saleh di hadapan publik, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan hawa nafsunya sendiri.
Fitnah syahwat pun jarang datang secara tiba-tiba. Ia masuk perlahan melalui celah-celah yang dianggap biasa. Bermula dari komunikasi pribadi yang terlalu intens, curhat dengan lawan jenis, perhatian emosional yang tidak dijaga, candaan tanpa batas, hingga hubungan tersembunyi yang dibungkus dalih dakwah, mentoring, maupun profesionalitas.
Syahwat tumbuh diam-diam, melemahkan rasa takut kepada Allah SWT, hingga akhirnya manusia terjatuh dalam dosa yang lebih besar.
Karena itu, Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga menutup seluruh jalan menuju zina. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).
Islam memerintahkan umatnya menjaga pandangan, menutup aurat, melarang khalwat, mengatur interaksi lelaki dan perempuan, serta membangun budaya malu di tengah masyarakat. Semua itu bukan bentuk pengekangan, melainkan penjagaan Allah SWT terhadap kehormatan manusia.
Namun sayangnya, sistem kehidupan hari ini justru bergerak ke arah yang berlawanan. Sekularisme kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan sehingga standar perilaku tidak lagi diukur dengan halal dan haram, melainkan kebebasan individu. Selama dianggap suka sama suka dan tidak merugikan secara materi, maka semuanya dianggap wajar.
Budaya sekuler akhirnya melahirkan normalisasi interaksi tanpa batas antara lelaki dan perempuan. Konten romantisasi hubungan nonmahram diproduksi secara masif. Media sosial dipenuhi pencarian validasi, perhatian, dan pengakuan yang perlahan menggerogoti hati manusia. Bahkan figur agama pun tidak luput dari jebakan popularitas dan pencitraan.
Dalam sistem kapitalisme, manusia dibentuk untuk mengejar eksistensi dan kepuasan diri. Popularitas menjadi komoditas. Dakwah tidak jarang berubah menjadi panggung pencarian pengaruh. Ketika ruh ketakwaan melemah dan syariat tidak lagi dijadikan standar kehidupan, maka keruntuhan moral hanya tinggal menunggu waktu.
Inilah akar persoalan sesungguhnya. Kerusakan moral bukan lahir semata karena lemahnya individu, melainkan karena sistem sekuler telah membentuk lingkungan yang permisif terhadap syahwat.
Masyarakat dibiasakan melihat ikhtilat tanpa batas sebagai sesuatu yang lumrah. Khalwat digital dianggap biasa. Konten sensual dinormalisasi. Bahkan rasa malu perlahan dicabut dari kehidupan manusia.
Akibatnya, manusia kehilangan penjagaan iman. Hati menjadi keras, pandangan liar, dan syahwat dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Tidak mengherankan jika hari ini banyak orang runtuh bukan karena kurang ilmu, melainkan karena kehilangan ketakwaan.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3).
Ayat tersebut menjadi peringatan keras bahwa ilmu tanpa rasa takut kepada Allah SWT dapat berubah menjadi fitnah. Karena itu, umat Islam juga tidak boleh mengkultuskan manusia. Ustadz, guru, dan tokoh agama tetaplah manusia biasa yang bisa tergelincir. Islamlah yang sempurna, bukan individu-individunya.
Meski demikian, solusi Islam tidak berhenti pada nasihat moral individual. Islam hadir sebagai sistem kehidupan yang menjaga manusia secara menyeluruh.
Islam membangun masyarakat dengan kontrol sosial melalui amar ma’ruf nahi munkar. Islam mengatur pendidikan berbasis akidah sehingga generasi dibentuk dengan ketakwaan sejak dini. Islam juga menutup industri hiburan dan media yang merusak moral masyarakat.
Lebih dari itu, dalam Islam, negara berfungsi sebagai penjaga akidah dan pelindung moral umat. Negara tidak membiarkan pornografi, pergaulan bebas, serta budaya seksual merajalela atas nama kebebasan.
Negara menerapkan aturan syariat secara menyeluruh demi menjaga kehormatan lelaki dan perempuan serta melindungi generasi dari kerusakan moral.
Inilah yang tidak dimiliki sistem sekuler kapitalisme hari ini. Negara lebih sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi dibanding menjaga kesehatan moral masyarakat. Akibatnya, kerusakan terus berulang dan umat hanya disuguhi penyesalan demi penyesalan.
Karena itu, solusi hakiki atas runtuhnya keteladanan bukan sekadar memperbaiki individu, melainkan mengembalikan kehidupan agar diatur dengan syariat Islam secara kaffah. Sebab hanya Islam yang mampu menjaga hati manusia, kehormatan keluarga, dan keselamatan peradaban.
Di akhir zaman seperti hari ini, yang paling mahal bukanlah popularitas, melainkan istiqamah dan ketakwaan. Maka jangan hanya sibuk membangun citra saleh di hadapan manusia, tetapi sibuklah menjaga hati agar tetap hidup di hadapan Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.[]










Comment