by

Fitri Hidayati, S.Pd: Idul Fitri, Sudahkah Kita Raih Kemenangan Hakiki?

Fitri Hidayati, S.Pd, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Euphoria di hari raya Idul Fitri? So pasti. berbicara tentang hari raya Idul Fitri di negeri ini, otomatis berseliweran dalam benak kita pemandangan aneka kue, opor ayam, ketupat, rendang, baju baru. Tentunya, tak ketinggalan budaya mudik yang tak kalah seru untuk bisa pulang ke kampung halaman, bertemu sanak keluarga dengan sejumlah cerita menarik yang mengikutinya. Entah berapa kali pemandangan lebaran demikian sudah biasa dirasakan umat ini khususnya di Indonesia.
Benar adanya, bahwa masih melekat dalam ingatan akan kesyahduan bulan Ramadhan tidak ada yang menandingi dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Tentu saja hal demikian adalah salah satu barokah tersendiri atas bulan yang dipilih Allah SWT sebagai bulan suci. 
Bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri adalah satu paket narasi yang punya cerita berkesan tahun demi tahun bagi pribadi seorang muslim. Maka dari itu kedatangan bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri selalu di hati kaum muslim yang kedatangannya selalu dirindukan umat Islam..
Panggilan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu seruan Allah SWT di dalam salah satu syariatNya. Dengan maksud agar ibadah ini mampu menghantarkan umat Islam dalam posisi derajat kemuliaan tertinggi  di hadapan TuhanNya yaitu “taqwa”, sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS Al Baqoroh : 183
( يَا آيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْن )) (سورة البقرة: 183)
“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian untuk berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, semoga kalian menjadi orang yang bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah: 183).
Akhir (Ending) dari ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah untuk mencapai derajat taqwa di hadapan Allah SWT. Taqwa adalah posisi mulia seorang hamba di mata Tuhannya, sang Kholiq, tempat kembali kepadaNya setelah akhir dari kehidupan di mana kita akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan di hadapan Allah SWT..
Yang menjadi bahan renungan sekarang ini adalah sudah berapa kalikah kita melalui bulan Ramadhan dan hari raya Idul fitri?Lalu mengapa kaum muslim masih saja mempunyai banyak persoalan? Kemaksiatan masih terjadi di mana-mana, kejahatan, kemiskinan, perzinaan, korupsi, belum lagi kaum muslim masih saja terus dianggap umat pinggiran, ajarannya dikriminalisasi, di banyak negara kaum muslim di jajah orang kafir yang tak kunjung ada penyelesaian. Di manakah kemenangan itu?, di manakan buah taqwa yang berhasil diraih di setiap tahunnya?Bukankah Islam adalah Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang seharusnya mampu memimpin pribadi muslim secara individu bahkan seluruh umat di dunia menuju keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat?
Sungguh sebuah realita yang paradok dalam fenomena tersebut. Apa yang salah? Yang jelas agama ini adalah agama benar, syariatnya mengandung hikmah, Islam adalah rahmat untuk umat di segala penjuru dunia. Fenomena berbeda dalam masa Rasullullah SAW dan kejayaan Islam. Ketika Islam diterapkan secara sempurna dalam sistem Islam. Sebut saja, Islam mengalami kemenangan besar dalam banyak peristiwa di bulan Ramadhan seperti perang Badar, Fathul Makkah, pembebasan Andalusia, perang Zallaqah, dll. 
Kisah berbeda bahwa di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz sampai-sampai mengalami kesulitan untuk mncari orang yang berkategori fakir dan miskin, karena dengan sistem Islam, tidak hanya umat Islam bahkan seluruh masyarakat hidup dalam keadaan sejahtera dan berkecukupan. Belum lagi, tingkat kejahatan atau kriminalitas yang sangat minim dalam pemerintahan Islam, sehingga bisa dibayangkan buah ketaqwaan dan diterapkannya Islam adalah hal yang nyata dalam kehidupan umat.
Terdapat perbedaan benang merah ketaqwaan antara zaman generasi Islam terdahulu dan zaman sekarang. Ketaqwaan mereka adalah sebenar-benarnya taqwa. Ketaqwaan itu adalah ketaqwaan yang mengkristal yang didasari pada kekuatan aqidah umat. Ramadhan tidak sekedar bulan suci yang menumpang lewat begitu saja. 
Di zaman sekarang euphoria “hijrah” (perubahan sikap menjadi taqwa) hanya singgah sesaat di bulan Ramadhan saja, kemudian serta-merta lepaslah ketaqwaan itu siring kepergian bulan Ramadhan. Kita melihat banyak wanita gemar menutup aurat selama di bulan Ramadhan kemudian kembali terbuka setelah bulan Ramadhan berlalu. 
Banyak rumah maksiat ditutup di bulan Ramadhan, kemudian beroperasi kembali setelah bulan Ramadhan berlalu. Hiburan “tidak sopan” yang berseliweran di media masa dikurangi dan diganti dengan tayangan yang lebih Islami dan mendidik tapi akan menjadi kembali “normal”  paska bulan Ramadhan. Begitulah yang dialami kaum muslim setiap tahun. Bulan Ramadhan hanya sebuah pengalaman spiritual yang kurang berbekas dan bermakna dalam kehidupan kaum muslim. Seperti daur spiral yang berulang kembali, dia tak pernah bertemu pada titik puncak taqwa yang harusnya diraih. 
Belum lagi pemikiran Islam sekuler (pemisahan agama dengan kehidupan) telah menguasai pikiran kaum muslim, yang telah berhasil memasung ajaran agama Islam yang kaffah menjadi kerdil dengan dibatasi pada sisi ibadah ritual saja seperti sholat, puasa, haji, sementara aturan yang lain seperti ekonomi, sosial, politik, dan budaya yang kesemuanya sudah diatur oleh Islam diabaikan begitu saja dan lebih suka mengadopsi dari aturan Barat. Walhasil, kebebasan berperilaku, kemaksiatan, kemiskinan, korupsi telah menjadi penyakit masyarakat yang tidak mudah diselesaikan. Setiap aturan Islam selalu ada hikmah kecuali bagi orang yang mendustakan.
Kesimpulnnya, agar ibadah Ramadhan bemakna dan sukses dengan menghasilkan taqwa dan kemenangan hakiki pada kaum muslimin maka yang pertama, kita jadikan taqwa (mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya) dalam kehidupan kita hingga Allah SWT memanggil kita. Perintah taqwa tidak hanya di bulan Ramadhan melainkan dalam seluruh kehidupan manusia. Kedua, kita harus kembali kepada Islam secara keseluruhan, tidak hanya ketaqwaan individunya tapi juga ketaqwaan masyarakat dalam sistem Islam. Karena jika ketaqwaan individu saja tentu tidaklah cukup, karena sebut saja menyelesaikan perzinaan, korupsi, kemiskinan, kemaksiatan, narkoba hanya bisa dilakukan secara sistemik bukan secara individual. Itulah kemenangan secara hakiki berupa ketaqwaan paripurna,
Hidup ini sangat singkat untuk trial dan error (mencoba-coba dan salah), hidup ini telalu singkat untuk menjadi tidak mulia tanpa Islam. Sebetulnya kebangkitan ini sudah mulai nampak hanya cahayanya belum begitu sempurna. Kebangkitan ini membutuhkan energi dan pemikiran yang lebih banyak dari pribadi-pribadi dan jiwa-jiwa kaum muslim. 
Sudah saatnya kita kembali pada syariat Islam sebagai way of life  dan mencampakkan aturan kufur yang telah menguasai dan menghinakan umat ini. Semua harus dibangun dengan tekad, semangat, ilmu, dan ukhuwah, karena sudah saatnya Islam bersatu menuju kemenanganNya. Dengan ilmu, amal, dan mendakwahkannya disertai dengan semangat ukhuwah, maka kemenangan dan taqwa secara hakiki itu akan diraih secara nyata, Insya Allahu Ta’ala.[].

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 5 =

Rekomendasi Berita