Fitriani S.Pd: Uyghur Menjerit, Siapa Bisa Menolong?

Berita1435 Views
Fitriani S.Pd
RADARINDONESIANEWS.CO, JAKARTA – Akhir-akhir ini, penderitaan masyarakat etnis Uyghur tengah menjadi sorotan dunia. Mereka mengalami penindasan, persekusi, diskriminasi, serta perlakuan tidak adil oleh pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Uyghur adalah etnis masyarakat yang mayoritas beragama Islam yang berasal dari daerah Xinjiang, RRT. Mereka diperlakukan dengan kejam karena pilihannya untuk memeluk dan mengamalkan agama Islam dalam setiap kehidupannya. Seperti shalat, berpuasa, tidak minum alkohol, tidak makan babi, menumbuhkan jenggot, mengucapkan nama Allah, mengenakan pakaian tertutup dan lain-lainnya yang berhubungan dengan agama. (merdeka.com, 12/9/2018). 
Perlakuan tersebut bahkan dipusatkan dalam kamp konsentrasi yang berkapasitas jutaan jiwa dengan dikelilingi tembok tinggi, menara pengawas, kamera CCTV dan penjaga bersenjata.
Ketika memperoleh informasi yang dihimpun dari berbagai media massa internasional dan pengakuan dari beberapa warga Uighur yang mengungsi/melarikan diri, beberapa tindakan diskriminatif yang mereka alami antara lain ialah pelarangan memberi nama bayi dengan nama-nama Islami, dengan ancaman tidak akan mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan. Pelarangan orang tua Muslim menyelenggarakan kegiatan/ritual agama untuk anak mereka. Memerintahkan seluruh Muslim Uighur untuk menyerahkan sajadah, mushaf Al-Qur’an dan barang-barang yang berkaitan 3dengan Islam. Pelarangan laki-laki Muslim memanjangkan jenggot. Pemaksaan warga Muslim untuk memakan babi dan meminum alkohol, dan harus meninggalkan agamanya serta menyanyikan lagu-lagu Partai Komunis dan lain sebagainya. Mereka ingin melucuti segala yang berbau Islam dari Uighur.
Mandulnya Peran Militer 
Setelah penderitaan yang di alami etnis Uyghur merebak, berbagai macam kecaman datang menyambangi. Sayangnya, kecaman hanyalah tinggal kecaman. Gencatan senjatapun hanyalah kiasan. Bahkan ada juga negeri yang diam seolah tak terjadi apa-apa. Hal ini terjadi karena sekat-sekat nasionalisme telah menjadi batu penghalang. Belum lagi diamnya negeri-negeri itu karena ada yang memiliki utang kepada negara China, sehingga tak ada yang dapat mereka lakukan, serta hanya membiarkan kebrutalan yang dilakukan oleh China. Diam seribu bahasa dan tak bisa berbuat apa-apa. Seperti Indonesia contohnya, negeri dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. 
“Ketergantungan ekonomi yang tinggi atas China di bidang perdagangan dan investasi, dalam konteks bilateral dan CAFTA, memaksa RI berpikir amat panjang dan mendalam sebelum membuat sebuah kebijakan atas praktik pelanggaran HAM yang terjadi di Xinjiang,” ucap pengamat politik internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/12).
Padahal, semestinya negeri-negeri kaum muslim dunia, termaksud Indonesia harusnya menggerakkan militernya untuk mencegah dan menghukum pemerintah Tiongkok yang telah dzolim kepada etnis Uighur. Hal ini disebabkan militer bagi suatu negara memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Diantaranya adalah untuk menangkal setiap bentuk ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah serta keselamatan rakyat dan negara. 
Dalam sejarahnya yang panjangpun, khilafah Islamiyah telah menjadikan militer sebagai salah satu penopang utama aktivitas dakwah Islam ke seluruh dunia. Karena itu sangat terkenal pada masa itu bahwa politik luar negeri negara Khilafah adalah dakwah dan Jihad. Namun, kondisi umat Islam sejak keruntuhan Khilafah terus mengalami degradasi hingga saat ini. Umat ini terpuruk hampir di segala bidang, termasuk di bidang keamanan. Militer yang dulu diarahkan untuk menjaga keamanan dan keselamatan umat Islam, kini justru digunakan oleh rezim sekuler komunis untuk menangkap dan membunuh umat Islam sendiri. 
Padahal, seharusnya keberadaan militer di dunia Islam dapat melindungi nasib umat Islam dari berbagai bahaya yang mengancam mereka. sayang, kondisi saat ini justru bertolak belakang dengan hal tersebut. 
Potensi Kekuatan Militer di Dunia Islam
Jika kita telaah lebih dalam, militer di negeri-negeri Islam saat ini sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar, sehingga sangat memungkinkan untuk melawan ancaman militer dari negara-negara penjajah. Militer gabungan negeri-negeri Islam sangat berpotensi untuk menjadi suatu negara adidaya yakni Khilafah Islamiyah, dengan kekuatan militer yang sangat besar. 
Berdasarkan data the Military Balance yang dipublikasikan oleh the International Institute for Strategic Studies (2014), gabungan 5 negara Islam yang terkuat militernya saja yakni Pakistan, Iran, Turki, Mesir, dan Indonesia sudah memiliki jumlah militer aktif sebanyak 22.51 juta personil. Hal ini sudah melebihi jumlah militer aktif berbagai negara kuat di dunia seperti Cina yang memiliki jumlah militer aktif sebanyak 2.33 juta, Amerika Serikat 1.49 juta dan 0,85 juta. Bahkan Israel yang saat ini masih menjajah bumi Islam Palestina hanya memiliki militer aktif 0.18 juta personal.
Jadi, apabila umat Islam berhasil membangun negara Khilafah dengan menyatukan sekitar 50 negara Islam yang saat ini terpecah belah, maka akan ada kekuatan militer terbesar di dunia. Sebagai gambarannya, jika berhasil menggabungkan 22 negeri Islam saja yang cukup besar personal militernya yakni Pakistan, Iran, Turki, dan seterusnya hingga Kuwait akan diperoleh kekuatan militer yang sangat dahsyat yakni 5.18 juta militer aktif, 2.9 3 juta militer cadangan, dan 2.6 satu juta paramiliter, sehingga totalnya 10.7 3 juta personil. Angka ini sudah melebihi kekuatan militer gabungan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yakni China, AS, Rusia, Inggris, dan Perancis.
Sehingga, dari sini kita bisa melihat bahwa kemandulan militer di dunia Islam saat ini sebenarnya lebih diakibatkan oleh kebijakan para penguasa di dunia Islam, bukan karena potensinya yang lemah. Berdasarkan fakta diatas, dapat diketahui bahwa gabungan dari negeri-negeri Islam memiliki potensi kekuatan militer dan yang memungkinkan untuk menjadi militer terkuat di dunia, yang tentu ketika mereka disatukan dalam satu payung institusi negara Khilafah Islamiyah. 
Bahkan, tidak hanya potensi kekuatan personil militer dan persenjataannya negeri-negeri Islam yang kelak akan disatukan dalam negara Khilafah Islamiyah. Namun juga menempati posisi strategis misalnya Benua Afrika, Timur Tengah, Laut Mediterania, Teluk Persia, Semenanjung India, Selat Gibraltar, Terusan Suez dan Selat Malaka berada dalam wilayah negeri Islam kawasan tersebut memiliki nilai-nilai politik yang sangat penting di dunia baik sebagai rute perdagangan dan perekonomian maupun sebagai basis pertahanan dan keamanan. Alhasil begitu Khilafah Islamiyah tegak, takkan ada lagi suara jeritan etnis Uyghur, muslim Rohingnya, Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya yang saat ini terjajah. Wallahu A’lam Bishawab.[]

Comment