Guru Sebagai Pahlawan dan Realita dalam Kapitalisme Pendidikan

 

 

Penulis: Moni Mutia Liza, S,Pd | Pegiat Literasi Aceh

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Guru adalah pahlawan. Itulah ungkapan yang sering dilontarkan baik oleh siswa maupun masyarakat pada umumnya. Benar, guru adalah pahlawan yang sudah seharusnya dihormati, disegani, diteladani, dan disayangi.

Perayaan hari guru yang dilaksanakan setiap tahun terbilang begitu meriah. Mulai dari persiapan upacara, kue, kado bahkan persembahan berbagai tampilan dari siswa kepada gurunya. Seolah di hari itu, guru adalah sosok yang begitu disayangi dan dihormati.

Namun fakta di lapangan jauh sekali dari apa yang terlihat di hari perayaan guru nasional tersebut. Buktinya masih banyak siswa yang tidak hormat kepada gurunya. Bahkan berani melawan gurunya saat guru menegur tindakannya yang melanggar aturan kelas atau sekolah.

Sepanjang tahun 2023 saja, terjadi sejumlah kasus tindakan kekerasan kepada guru baik oleh murid itu sendiri maupun wali murid. Guru yang sudah seharusnya mendisiplinkan siswa malah direspon dengan brutal.

Bahkan ada guru yang diserang oleh murid hingga kritis, guru dipidana hanya karena mendisiplinkan siswa yang malas shalat. Masih banyak kasus serupa lainnya yang terjadi di satuan pendidikan seluruh wilayah Indonesia.

Dari tahun ke tahun kasus kekerasan terhadap guru terus saja terjadi, padahal undang-undang perlindungan guru sudah ada, bahkan guru boleh menghukum siswa dengan sanksi yang mendidik. Namun tampaknya guru belum juga bisa bernapas lega mengingat generasi abad 21 saat ini sangat jauh dari karakter yang mulia.

Jadi apa gunanya perayaan hari guru, bila hari-hari guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik justru diabaikan dan tidak dihormati? Hari-harinya dipenuhi dengan emosi dan air mata karena sikap siswa yang sudah di luar batas. Masih layakkah kita merayakan hari guru jika faktanya guru masih dilema dan kecewa?

Belum lagi berkaitan dengan urusan gaji yang tidak memenuhi standar kehidupan dengan kebutuhan pokok dan kebutuhan lain yang kian meroket. Sehingga tak jarang guru mengambil profesi tambahan agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Beginilah gambaran hidup guru dalam sistem kapitalisme. Tidak sejahtera, dililit hutang riba, adminismtrasi pendidikan yang melelahkan, moral siswa yang berantakan, guru dipusingkan dengan proyek kurikulum yang semakin membingungkan dan menjauhkan peserta didik dari akhlak yang mulia.

Jika kita mau membandingkan hidup guru di era kekuatan sistem kapitalisme seperti saat ini dengan sistem Islam, sungguh sangat berbeda. Dalam Islam, guru mendapatkan kehormatan yang begitu tinggi, bukan hanya siswa, bahkan kepala negarapun segan terhadap guru karena keilmuannya.

Selain itu, dalam sistem Islam, gaji guru dibayar oleh negara sebesar 15 dinar emas atau setara dengan 60.000.000 rupiah. Hal ini pernah terjadi pada masa kehilafahan Umar bin Khattab dan masa kekhilafah sesudahnya.

Bisa kita bayangkan bukan? Bagaimana sejahteranya guru hidup dalam naungan sistem Islam? Ditambah dengan karakter peserta didik yang bertaqwa dan berakhlak mulia membuat guru begitu dihargai dan dimuliakan.

Semua ini disebabkan oleh sistem pendidikan yang berlandaskan aqidah serta aturan negara yang juga berasaskan Al-Quran dan hadits sehingga terwujudlah peradaban gemilang.

Bukti peradaban gemilang itu dapat kita lihat dari berapa banyak para ilmuan muslim, berapa banyak ahli fikih yang mengabdikan diri menjadi guru.  Mereka sangat dihormati dan disayangi oleh peserta didik.

Begitulah Islam. Ia mampu menciptakan iklim pendidikan yang harmonis dan sejahtera, berbeda 1800 dengan sistem kapitalisme yang lebih berorientasi pada profit segelintir orang.

Kapitalisne memproyeksasikan segala bidang tidak terkecuali pendidikan untuk meraih satu tujuan yaitu materi. Sehingga yang terlahir bukannya guru yang sejahtera, siswa yang berakhlak mulia. Wallahu’alam biashawab.[]

Comment