RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers akhirnya berada di tangan Haedar Nashir. Bagi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, kartu tersebut bukan sekadar tanda pengakuan profesi. Ada perjalanan panjang selama 42 tahun yang menyertainya.
Haedar menerima kartu itu dalam peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (13/8/2026). Dewan Pers menyetujui pemberian kartu tersebut pada Maret 2026 sebagai pengakuan atas kiprah Haedar di dunia pers sejak masih menjadi mahasiswa hingga kini.
Profesi wartawan bagi Haedar bukan cerita yang baru muncul setelah ia dikenal sebagai intelektual, guru besar, atau pemimpin Muhammadiyah. Ia justru menempa dirinya dari ruang redaksi dan liputan lapangan. Pada 1984, ketika masih muda, Haedar mulai bergabung dengan Suara Muhammadiyah.
Masa awal itu jauh dari kesan nyaman. Ia menjadi wartawan lepas atau wartawan pocokan yang harus mengikuti wartawan senior untuk belajar mencari berita. Ia bepergian menggunakan bus, kereta, angkutan umum, bahkan berjalan kaki untuk mengejar bahan berita di berbagai daerah.
Pada masa itu, teknologi jurnalistik juga belum seperti sekarang. Haedar menulis menggunakan mesin tik. Setelah lelah menyusun tulisan, ia belum tentu melihat hasil kerjanya dimuat. Naskahnya bisa dikoreksi dengan tinta merah, dicoret, dikembalikan, bahkan disobek oleh redaktur.
Pengalaman itu membekas. Namun, alih-alih meninggalkan dunia jurnalistik, Haedar justru menjadikannya sebagai proses belajar.
“Rasanya tidak eksis jika tidak gondrong,” ujar Haedar mengenang masa mudanya sebagai mahasiswa sekaligus wartawan. Rambut gondrong menjadi bagian dari penampilannya ketika memulai perjalanan jurnalistik pada era 1980-an.
Salah satu liputan yang terus ia ingat adalah ketika mewawancarai Prof. Mitsuo Nakamura, peneliti asal Jepang yang menaruh perhatian terhadap Muhammadiyah dan Islam di Indonesia.
Pertemuan itu menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan jurnalistiknya. Puluhan tahun kemudian, Haedar masih mengingat peristiwa tersebut.
Dari wartawan muda yang masih mengikuti wartawan senior, Haedar kemudian berkembang menjadi penulis tetap dan akhirnya dipercaya memimpin redaksi Suara Muhammadiyah. Pengalaman panjang itu membuat dunia pers tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Bahkan ketika karier organisasinya di Muhammadiyah terus menanjak, tradisi menulis tetap melekat. Haedar pernah menjadi Ketua I Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah pada 1983-1986, kemudian memegang sejumlah posisi di lingkungan Muhammadiyah sebelum dipercaya menjadi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah pada 2000-2005. Ia kemudian menjadi salah seorang Ketua PP Muhammadiyah pada 2005-2015.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 2015, Haedar terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah menggantikan Din Syamsuddin. Lima tahun kemudian, ia kembali mendapat amanah untuk memimpin organisasi tersebut pada periode 2022-2027.
Di luar aktivitas organisasinya, Haedar dikenal sebagai akademisi. Ia menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan magister serta doktoral bidang sosiologi di Universitas Gadjah Mada. Ia kemudian dikukuhkan sebagai guru besar bidang sosiologi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 2019.
Namun, jabatan akademik dan kepemimpinan organisasi tidak menghapus identitasnya sebagai orang pers. Haedar tetap terlibat dalam Suara Muhammadiyah. Dalam sejumlah kesempatan, ia masih berbicara mengenai masa depan media tersebut dan pentingnya regenerasi di tengah perubahan lanskap jurnalistik.
Baginya, keberlangsungan Suara Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan pembacanya.
Media yang berdiri sejak 1915 itu, menurut Haedar, memiliki akar kuat di kalangan warga Muhammadiyah. Akar tersebut menjadi salah satu alasan media itu mampu bertahan melewati perubahan zaman.
Karena itu, pemberian Kartu Wartawan Utama Khusus terasa seperti sebuah lingkaran yang kembali ke titik awal. Haedar pernah menjadi wartawan muda yang menulis dengan mesin tik, mengejar berita menggunakan angkutan umum, dan menerima naskah yang dicoret redaktur.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, ia berada di posisi berbeda – memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia sekaligus tetap berada di dunia tulis-menulis.
Haedar mengakui bahwa kartu wartawan tersebut memang pernah menjadi sesuatu yang ia inginkan. Ketika rekan-rekannya mengikuti tes untuk memperoleh kartu wartawan pada masa lalu, ia memilih tidak ikut. Saat itu, menjadi wartawan sudah dianggap cukup.
Tetapi keinginan itu rupanya tidak pernah benar-benar hilang. Setelah 42 tahun, kartu tersebut akhirnya ia terima.
Perjalanan itu sekaligus menunjukkan bahwa bagi Haedar, wartawan bukan sekadar pekerjaan pada masa muda. Ia menjadi bagian dari cara berpikir dan cara melihat perubahan. Dari ruang redaksi Suara Muhammadiyah, pengalaman jurnalistik itu ikut membentuk sosok Haedar yang kemudian dikenal sebagai akademisi, penulis, intelektual, dan pemimpin Muhammadiyah.
Kartu Wartawan Utama Khusus itu, dengan demikian, bukan hanya sebuah kartu. Ia menjadi penanda bahwa perjalanan panjang seorang wartawan dapat berlanjut ke berbagai ruang—kampus, organisasi, ruang publik—tanpa harus kehilangan akar dari mana perjalanan itu bermula.














Comment