Haji Menyadarkan Kemanusiaan Universal 

Opini1477 Views

Penulis: Dr. Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD | Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation, New York

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Saat ini jutaan umat Islam di seluruh dunia bersiap-siap menyambut datangnya hari-hari penting di bulan haji (Dzulhijjah) ini. Bahkan di saat yang dikenal dengan musim haji ini hiruk pikuk itu telah mulai terasa. Dari persiapan sarana haji, hingga penerbangan jamaah haji dari berbagai belahan dunia sudah dilakukan sejak beberapa waktu terakhir.

Haji memang adalah ibadah yang unik dan seringkali menghebohkan. Tentu selain karena merupakan kewajiban sekali se-umur hidup, juga karena untuk menunaikannya memerlukan persiapan yang banyak dan matang. Apalagi dalam konteks sebagian dunia Islam yang antriannya saat ini terasa tidak normal, mencapai bahkan puluhan tahun. Sementara sebagian besar pendaftar haji adalah mereka yang telah berumur lebih tua.

Maka sangat wajar ketika seseorang terpilih melaksanakan ibadah haji akan menjadi kebahagiaan sekaligus kehormatan komunal yang besar baginya. Di berbagai daerah bahkan diekspresikan dengan berbagai perayaan dan tradisi yang berbeda.

Representasi kemanusiaan universal

Hal yang menarik juga dari ibadah haji ini adalah bahwa ibadah ini secara dekat mewakili wajah kemanusiaan yang universal. Hal itu sangat terlihat ketika Allah memerintahkan rasulNya, baik Ibrahim AS maupun Muhammad SAW untuk menyampaikan kewajjban haji kepada umatnya (orang-orang beriman) dengan ekspresi “kemanusiaan”, bukan spesifik “orang-orang beriman”, atau “umat Islam”.

Kesimpulan ini dapat kita lihat pada ayat-ayat berikut:

“Dan kumandangkan kepada ‘manusia’ untuk menunaikan ibadah haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu berjalan kaki atau dengan onta-onta jinak. Mereka datang dari tempat-tempat yang jauh”. (S. Al-Haj: 28).

“Dan bagi Allah atas ‘manusia’ untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu melakukannya” (S. Ali Imran: 97).

Penyebutan “an-naas” dalam ayat-ayat haji di atas merupakan indikasi jelas dan tegas jika haji merupakan ibadah yang mewakili kemanusiaan universal. Hal yang sesungguhnya telah diprediksi sejak awal kewajiban haji bahkan sejak Nabi Ibrahim, di mana Allah menyampaikan: “mereka akan kepadamu dari berbagai penjuru yang jauh”.

Karenanya di musim hajilah merupakan pertemuan manusia paling universal, dari semua latar belakang. Mereka yang hadir untuk melaksanakan ibadah haji memiliki latar belakang etnik, ras, kebangsaan, budaya dan bahasa, bahkan prilaku yang ragam.

Universalitas Islam dan pemeluknya.

Panggilan universal kemanusiaan untuk haji juga merupakan penggambaran tentang agama Islam yang universal dan pengikutnya yang tidak dibatasi oleh dinding-dinding pembatas sempit manusia.

Manusia kerap kali membatasi diri dengan batasan-batasan ras, etnis, kultur dan kebangsaan. Islam hadir membawa ajaran yang merangkul tanpa batas. Islam adalah agama yang tidak dibatasi oleh batas timur (syarqiyah) dan barat (gharbiyah). Islam untuk seluruh manusia (kaafatan Lin-naas) dan seluruh alam (rahmatan lil-alamin).

Di sinilah panggilan universal kemanusiaan ini juga menjadi sangat relevan dalam menggambarkan persaudaraan universalitas dalam Islam. Bahwa dalam Islam semua manusia itu bersaudara secara universal (universal brotherhood).

Semua berasal dari Adam dan Hawa, dan Adam berasal dari tanah. Ini pula yang menjadi salah satu penekanan Rasulullah dalam khutbah monumental yang dikenal dengan “khutbah wada’” (Khutbah perpisahan) di saat beliau melakukan haji wada’, haji pertama dan terakhir beliau:

“Sesungguhnya Tuhanmu satu, dan ayahmu satu. Semua kalian berasal dari Adam, dan Adam tercipta dari tanah. Tiada kelebihan orang Arab di atas non-Arab, dan Sebaliknya kecuali karena Ketakwaan. Tiada kelebihan orang putih di atas orang hitam, dan Sebaliknya kecuali karena Ketakwaan….”

Realita ini mengingatkan saya tentang rasisme dan tendensi meningginya “White Supremacy” di Amerika dan dunia Barat akhir-akhir ini. Arogansi ras dan kebangsaan sebagian warga Amerika dan Eropa menjadikan manusia terkotak-kotak bahkan saling merendahkan dan membenci sesama anggota keluarga kemanusiaan (human family).

Permusuhan tidak jarang membawa kepada kekerasan ras. Bahkan kebijakan imigrasi Amerika kali ini dinilai oleh sebagian tidak terlepas dari kecenderungan rasis Presiden Amerika ini.

Di sinilah Islam hadir, melalui panggilan kemanusiaan universal untuk haji, mengingatkan universalitas “kesetaraan manusia” (human equality” yang pernah dideklarasikan Rasul Allah, Muhammad SAW, di Padang Arafah itu. Deklarasi yang terjadi jauh sebelum Komisi HAM Genewa melakukan hal sama kurang seabad yang lalu.

Melalui ibadah haji umat Islam akan terus disadarkan sekaligus diingatkan akan kewajiban untuk membela kesetaraan kemanusiaan itu. Untuk bangkit dan melawan arogansi rasis manusia. Islam menolak konsep white supremacy atau black supremacy maupun pengakuan supremacy yang lain. Dalam Islam yang ada hanya “God Supremacy” yang diikrarkan di setiap gerakan sholat: Allahu Akbar.

Melalui panggilan universal kemanusiaan untuk ibadah haji umat Islam juga disadarkan bahwa semua orang dalam agama ini memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sekaligus memilii peluang yang sama untuk menjadi “the best” (terbaik).

Jika di Amerika ada slogan “equal opportunity” atau peluang yang sama dalam urusan dunia, maka di agama ini peluang sama itu juga ada dalam segala hal. Termasuk peluang menjadi yang terbaik dan termulia di mata Tuhan (iman dan Islam):

“sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (Al-Hujurat: 13).

Pesan-pesan haji kembali mengingatkan sekaligus membangun kesadaran umat, bahwa iman dan Islam tidak ditentukan oleh kebangsaan dan rasmu. Bukan karena anda Arab, atau sebaliknya Indonesia (Nusantara) anda otomatis menjadi lebih baik. Kemuliaan dan keutamaan anda ditentukan oleh iman, karakter dan karyamu, yang kesemuanya menyatu dalam satu kata: TAQWA.

Sebuah terminologi yang tidak didefenisikan oleh apapun, kecuali hati (iman), karya (amal) dan karakter kepribadian (akhlak) manusia dalam kenyataan.

Karena pada akhirnya haji yang diterima dengan sebutan “mabrur” itu ditandai oleh hadirnya perubahan positif hidup manusia dalam iman, amal, dan akhlaknya. Itulah haji yang dijanjikan oleh baginda Rasulullah: “Haji mabrur tidak ada balasan lainnya kecuali syurga”. []

Comment