by

Hamsia*: Liberalisasi Gender Dalam Bungkusan Harganas

Hamsia
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pada tanggal 20 September 1993, Majelis Umum PBB memutuskan, bahwa tanggal 15 Mei setiap tahun diperingati sebagai Hari Keluarga Internasional atau International Day of Families melalui Resolusi A/RES/47/237, demi mempertimbangkan kepentingan hubungan komunitas internasional dan keluarganya. Perayaan hari tersebut bertujuan untuk mempromosikan kesadaran tentang pentingnya berhubungan dengan keluarga dan meningkatkan pengetahuan terhadap proses sosial, ekonomi, dan demografi terhadap keluarga.
Acara utama akan berlansung di Markas Besar PBB, New York yang diselenggarakan oleh Divisi untuk Pembangunan Sosial inklusif dari Departemen Ekonomi dan sosial bersama dengan masyarakat Sipil Komunikasi Global.
Orang-orang di seluruh dunia akan merayakan hari itu dengan berkumpul bersama keluarga. Mereka bersatu kembali dengan anggota keluarga untuk saling mengenal. Dala melanjutkan hari bersejarah itu juga akan dirayakan dengan menyelenggarakan presentasi, acara, dan program untuk menunjukan pentingnya keluarga di era modern.
 Di Indonesia juga akan merayakan hari tersebut, disinyalir dari FAJAR.Co.ID – tanggal 29 Juni mendatang bangsa Indonesia akan kembali memperingati Hari Keluarga Nasional atau Harganas. Ini merupakan peringatan yang ke-26 kali sejak Harganas diselenggarakan pertama kali tahun 1993.
Mengambil lokasi di kota Banjarbaru Kalimantan Selatan, puncak peringatan Harganas XXVI tahun 2019 secara nasional akan digelar pada awal Juli 2019. Yang bertema “Hari Keluarga, Hari Kita Semua”, dengan slogan “Cinta Keluarga, Cinta Terencana”.
Kalimantan Selatan sudah menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah di akhir tahun 2018. Gubernur (Kalsel ) Sahbirin Noor mengajak seluruh masyarakat Kalimantan Selatan untuk bergerak dan tidak lengah dalam menyukseskan perhelatan Harganas.
Berbagai kegiatan akan digelar dalam mewarnai peringatan Harganas, baik puncak peringatan maupun pasca acara. Di antaranya Festival  Penggalang Ceria, Genru Edu Camp, One Stop Service pelayanan untuk anak-anak, One Day For Children untuk anak-anak terlantar.
Dan beberapa kegiatan seminar di antaranya tentang kependudukan dan perkawinan anak yang mencapai 30 persen di Kalimantan Selatan hingga lomba pencegahan perkawinan anak. Dan untuk meningkatkan kesertaan peserta Kb jangka panjang , diadakan pelayanan KB gratis untuk pasangan usia subur.
Dibalik Harganas
Sesungguhnya peringatan Harganas internasional seringkali dijadikan sebagai momentum untuk menderaskan ide keseteraan gender. Dalam situs theconversaton.com (15/5/2017) “International Day of  Families is a good moment to reflect on this question to become agents of  gender equality and female empowerment”. Berbagai persoalan keluarga yang berujung pada hancurnya rumah tangga, selalu memunculkan alasan bahwa pemicunya adalah ketidak seteraan gender antara suami dan istri.
Seperti yang diungkapkan oleh Sekretarias Jenderal PBB Ban Ki-moon, menekankan pentingnya kesetaraan gender dan hak anak dikeluarga kontemporer. “di seluruh dunia, makin banyak perempuan kian diakui sebagai mitra yang setara dan pengambil keputusan dalam keluarga sebagaimana mereka mestinya, oleh karena itu membantu menjamin suasana yang kondusif bagi perkembangan anak secara penuh dan harmonis”, New York, Jumat (15/5).
Saat ini kesadaran akan kesetaraan gender semakin meningkat, sehingga membuat para aktifis sosial khususnya perempuan semakin gencar menyerukan agar persamaan hak perempuan terpenuhi layaknya hak laki-laki, bahwa perempuan bisa hidup secara bebas dan terhormat, serta bebas dalam menentukan pilihannya.
Sejatinya ide kesetaraan gender ini yang selalu di gembar-gemborkan oleh kaum feminisme, sehingga banyak wanita muslimah terikut arus tersebut, dan akhirnya jauh dari tugas penting utama mereka sebagai ummu wa rabah al-bayt (sebagai ibu dan pengatur rumah tangga).
Seperti yang kita ketahui, di zaman yang serba bebas ini, peran sebagai istri dan ibu yang selama ini telah melekat pada sosok perempuan telah berubah haluan, tidak hanya sebagai pengatur urusan rumah tangga, melainkan juga menjelma menjadi wanita karir. Peran dalam mencari nafkah yang menjadi tugas utama laki-laki, kini telah diambil alih oleh kaum perempuan.
Gerakan ini berhasil memotivasi kaum perempuan berlomba-lomba untuk meninggalkan rumah mereka guna bekerja di luar rumah. Sehingga karena pemikiran inilah yang membuat rusaknya rumah tangga, banyaknya suami selingkuh karena merasa kurangnya kasih sayang dari seorang istri yang lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Dan rusaknya pergaulan anak, seperti banyak anak yang melakukan kenakalan remaja seks bebas, memakai narkoba, tawuran dan sebagainya. Sesungguhnya keseteraan gender adalah jargon kosong kapitalisme.
Sistem Islam Mengatur
Dalam Islam peran wanita adalah sebagai seorang istri dan ibu pendidik anak-anaknya sangatlah penting dalam sebuah keluarga. seperti yang dijelaskan dalam sebuah kaidah, bahwa Al-ashlu fil mar’ati annahaa ummum wa rabbatul bayti. Wa hiya’irdhun an yusho-na (hukum asal seorang perempuan adalah ibu dan pengatur rumah tangga. Perempuan merupakan kehormatan yang wajib dijaga).
Kewajiban perempuan dan laki-laki ditentukan oleh Allah sesuai fitrah masing-masing, bukan berdasarkan konsep “kesetaraan gender”, ala negara barat. Karena baik laki-laki dan perempuan sama-sama meraih kedudukan tertinggi dengan jalan menaati aturan-aturan Allah. 
Seperti sabda Rasulullah “setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir (kepala pemerintahan) adalah pemimpin bagi rakyatnya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya; seorang laki-laki adalah pemimpin rumah tangga, yang akan dimitai pertanggungjawaban atsa kepemimpinannya; seorang perempuan pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertangungjawaban atas kepemimpinannya” (HR Bukhari-Muslim) 
Keharmonisan keluarga versi Islam tidaklah dilihat dari materi melainkan dari keshalihah keluarga tersebut terhadap hukum Allah. Seorang suami harus melakukan tangungjawabnya sebagai pemberi nafkah, dia memenuhi segala kebutuhan keluarganya dengan bekerja diluar rumah, bukan hanya itu saja diapun memeliki tangungjawab mendidik istri dan anak-anaknya ke jalan ketakwaan. Seorang istri, keberhasilan seorang istri, diukur dari keberhasilan akhlak anak-anaknya, bagaimana dia mampu mengatur rumah tangganya dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang mulia dan berdaya guna di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, keluarga harmonis versi Islam, tidak memikirkan materi semata, melainkan keridhoan terhadap aturan Allah Swt. 
Namun, keharmonisan keluarga pun didorong oleh keberadaan negara, dimana negara juga menyediakan lapangan pekerjaan terhadap para suami-suami dalam menafkahi keluarga mereka. Seorang Istripun boleh menjadi patner bagi suaminya untuk terjun di ranah publik, tetapi tidak meningalkan peran utamanya sebagai ummu wa ra batulbait. Sehingga hanya dengan Islam akan tercipta keluarga harmonis.  Wallahu a’lam bis shawwab.[]
*Ibu rumah tangga

Comment

Rekomendasi Berita