by

Hanan Al-Hroub, Guru Terbaik Dunia Gantikan Senjata dengan Permainan

Hanan Al-Hroub, guru terbaik dunia 2016 (Xinhua)
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Semangat untuk membantu anak-anak mengatasi pengalaman traumatis
menyebabkan Hanan Al-Hroub, seorang Muslimah guru terbaik dunia 2016
menggantikan situasi penuh senjata dengan permainan yang mendidik.
Metode pengajaran Hanan, yang dibesarkan di sebuah kamp pengungsi di
Dheisheh selatan Kota Bethlehem, Tepi Barat, mengedepankan pendidikan
non-kekerasan melalui game untuk meredakan situasi konflik dan
melonggarkan ketegangan.


“Kekerasan di Palestina adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan
yang sangat mempengaruhi anak-anak. Mereka menyerap segala sesuatu yang
mereka lihat di jalan-jalan dan menjadi kekerasan dan tidak percaya,”
kata Hroub dalam sebuah wawancara EFE di Santiago, Chili, seperti
dilaporkan Latino Foxnews Ahad (31/7).


Dalam kunjungan pertamanya ke Chili, untuk berbagi pengalamannya
dengan akademisi dan pemerintah setempat, penerima Global Theacer Prize
2016 itu mengatakan dia menyiapkan kelas “masa depan yang damai” bagi
dunia yang bergejolak.


Hanan memulai hubungannya dengan pendidikan sejak 16 tahun lalu
selama Intifada Kedua, ketika suatu hari, dai dan beberapa warga keluar
dari sekolah, anak-anaknya menyaksikan beberapa tentara Israel menembaki
ayah mereka.


“Itu sangat sulit bagi anak-anak. Mereka melihat bagaimana pasukan
Israel tertawa setelah menembak warga. Sejak hari itu, rumah kami adalah
neraka. Anak-anak tidak akan pergi ke luar, dan mereka menangis dan
menjerit sepanjang malam. Mereka bahkan terisolasi diri dari satu sama
lain. Itu kemudian mengnspirasi saya dengan berkata pada diri sendiri,
bahwa saya harus melakukan sesuatu.”


Ia pun kemudian memutuskan untuk mulai menciptakan game yang akan
memberi kepercayaan diri anak-anak kembali setelah hilang, dan mendorong
hampir semua anak-anak di lingkungan untuk datang bermain di rumah
mereka.


“Sedikit demi sedikit perilaku negatif anak-anaknya mulai berubah,
kepercayaan diri mereka meningkat dan akhirnya mereka mampu kembali ke
sekolah,” paparnya.


Ia menambahkan, setelah membantu anak-anaknya sendiri, ia pun
memikirkan untuk bisa membantu anak-anak lainnya yang telah melalui
pengalaman sama. Ia memutuskan untuk memulai dari anak-anak pendidikan
dasar.


“Yang paling penting adalah bahwa game membuat anak rileks dan mereka
mulai merasa lebih nyaman dan aman di kelas. Perasaan keselamatan
segera tercermin dalam perilaku mereka,” imbuhnya. (Mina)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + two =

Rekomendasi Berita