by

Hanif Kristianto: Pilpres Aroma April Mop

 Hanif Kristianto
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ada yang sudah menunggu sejak tahun lalu (2018) kehadiran 2019 untuk ganti kepemimpinan. 17 April 2019 bak bom waktu yang siap meledak. Kalut, deg-degan, dan panik. Satu hal yang dikhawatirkan dari persoalan pilpres ialah kecurangan dan kebohongan. Apakah ini bertepatan dengan sikap kelucuan April mop? April Fools Day (bhs Inggris) diperingati dengan cara orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah.
Jika dikaitkan dalam percaturan politik demokrasi liberal, berbohong atau membohongi bukanlah suatu kesalahan. Curang pun dianggap tidak berdosa dalam setiap pemilu sistem demokrasi. Kalau boleh, setiap pemilihan bisa direvisi sesuai dengan keinginan aktor-aktor partisan politik. Ya, politik demokrasi memang tidak bisa diharapkan memberikan keadilan dan kejujuran. Apa yang tampak di permukaan sejatinya topeng. Justru terlihat bengis dan sadis di balik topeng jujur, adil, bebas, dan rahasia. Netralitas yang diharapkan dan diserukan tampaknya minus penerapan. Fakta di lapangan terlihat sebaliknya. Kemasifan dan upaya penggerakkan untuk memenangkan salah satu paslon melalui jalur-jalur resmi pemerintahan.
Aroma April Mop
Publik pun dibuat bertanya-tanya, apakah benar penyelenggara pemilu 2019 serius mengadakan suksesi kepemimpinan? Ataukah justru sekadar pesta pora menghabiskan uang negara? Ataukah justru menjadi ajang petahana mendigdaya kekuasaanya?
Mayoritas penduduk Indonesia tampaknya mengalami nasib buruk dalam berpolitik. Hal ini lebih disebabkan tidak hanya pemisahan politik dari agama, tapi juga pemisahan politik dari kehidupan. Tipologi rakyat dalam memahami politik terbagi menjadi dua:
Pertama, apatis dan buta politik. Kondisi ini diperparah dengan pendidikan politik yang nihil. Sebaliknya politisi kerap memainkan politik demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Rakyat pun malas untuk berbincang politik.
Kedua, berpolitik ujungnya pragmatis. Kondisi ini ditujukan dengan mengais rejeki dari politik. Pelakunya bisa diidentifikasi yang memang berpolitik untuk meraih prestise dan sumber pendapatan. Jauh dari sikap berfikir untuk kepentingan rakyat banyak. Selain itu, bagi rakyat awam politik dimaknai dengan dapat uang berapa untuk menyoblos siapa?
Kebohongan yang tampak dalam info hoax di masa kampanye pemilu pun memenuhi seluruh saluran media. Lebih-lebih di dunia maya (media sosial). Ada yang harga mati dan mati-matian mendukung petahana dengan mengabaikan logika dan akal sehat. Entah melalui akun robot atau memang termakan propaganda. Di sisi lain, masifitas untuk mengakhiri petahana tampak digdaya. Sampai-sampai respon petahana begitu membabi buta.
Netizen yang aktif pun kerap membongkar ragam ketidaknetralan dan kecurangan selama kampanye. Content video, meme, gambar, dan tulisan opini membongkar secara nyata dan blak-blakan. Harus dipahami memang pilpres kali ini terkesan brutal. Tampak pada dua kondisi memperturutkan petahana berkuasa atau keinginan mayoritas rakyat mengganti petahana?
Rakyat Harus Sigap
Jangan mau lagi dibohongi kedua kali. Hal ini perlu direnungkan kembali oleh rakyat yang ingin menentukan kepemimpinan Indonesia ke depan. Jangan mau lagi dibohongi dengan kelucuan politik demokrasi. Jika pada akhirnya rakyat akan menelan pil pahit kembali.
Rakyat juga harus paham, mana pemimpin yang sekadar berjanji lalu ingkari? Mana pemimpin yang benar-benar amanah dan menaati Allah dan Rasul-Nya? Jika pemimpin yang terpilih kembali berbuat ingkar, menindas rakyat dengan kebijakannya, dan menyengsarakan rakyat, maka ini bencana terbesar dalam politik. Kesigapan rakyat dalam berpolitik seharusnya mampu diwujudkan dengan membentuk kesadaran politik yaitu mengoreksi penguasa jika melenceng dari aturan Allah Yang Maha Kuasa. Kemudian menyerunya ketika berkuasa untuk menerapkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Jika itu bisa terwujud, maka baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur bukan lagi isapan jempol.
Rakyat pun harus mengakhiri segala kebohongan politik di April ini. Jangan sampai politik April mop menjadi budaya yang diulang setiap tahunnya. Rakyat butuh suasana baru yang diridhoi Allah Swt. Kun fayakun. Kalau Allah sudah berkehendak, sehebat apa pun makar manusia tak akan kuasa menahan ketetapan Allah. Yakin![]

Penulis adalah analis politik dan media

Comment

Rekomendasi Berita