Hanya Dengan Islam Perempuan Akan Bahagia

Opini30 Views

 

 

Penulis:  Fitriani, S.H.I | Staff Pengajar Ma`had Al-Izzah Deli Serdang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Perempuan adalah topik hangat yang tidak akan pernah basi untuk dibicarakan. Karena apapun yang berkaitan dengan perempuan menjadi sesuatu yang menarik untuk dibicarakan.

Kaum perempuan dianggap semakin berdaya karena meningkatnya indeks pembangunan gender. Sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bahwa selama tahun 2023 perempuan semakin berdaya seiring meningkatnya Indeks Pembangunan Gender.

Dilansir dari antaranews.com, (06/01/2024) Deputi bidang Kesetaraan Gender KemenPPPA Lenny N.Rosalin menyebutkan bahwa Perempuan semakin berdaya karena mampu memberikan sumbangan pendapatan signifikan bagi keluarga, menduduki posisi strategis di tempat kerja, terlibat dalam bidang politik dengan adanya keterwakilan di legislatif dan meningkatnya Indeks Pembangunan Gender.

Dengan perempuan berdaya ini akan menjadi landasan kuat dalam pembangunan bangsa serta mendorong kesetaraan gender yang semakin setara.
Apa yang diungkapkan oleh Deputi Bidang Kesetaraan Gender ini semakin menegaskan kepada kita bagaimana pandangan sistem hari ini ketika memandang peran utama perempuan. Meningkatnya Indeks Pembangunan Gender kenyataannya tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan yang dialami oleh kaum perempuan hari ini.

Karena faktanya banyak kaum perempuan di negeri ini masih merasakan hidup dalam serba kesulitan dan kesusahan. Berbagai masalah justru silih berganti dialami oleh hampir mayoritas kaum perempuan di negeri ini.

Kaum perempuan masih dihadapkan dengan permasalahan yang sangat kompleks, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, tidak adanya kesejahteraan, sulitnya mewujudkan keadilan, KDRT, kekerasan seksual dan berbagai masalah lainnya. Bahkan bisa dikatakan masalah yang dihadapi setiap hari makin beragam dan tidak kunjung ada penyelesaian. Bahkan pelecehan yang kadang terjadi dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya punya kewajiban untuk memberikan perlindungan.

Catatan tahunan yang diberikan oleh Komnas Perempuan menyebutkan di tahun 2023 secara umum walaupun kasus pengaduan menurun pada tahun 2022 ada sebanyak 459.094 kasus menjadi 457.895 di tahun 2023 namun pengaduan ke Komnas Perempuan justru meningkat menjadi 4.371 dari 4.322 dan jika dirata-ratakan komnas perempuan setiap hari menerima aduan sekitar 17 kasus. Kekerasan berbasis gender merupakan kasus yang terbanyak.

Dari data yang ditunjukkan oleh komnas perempuan ini justru menunjukkan bahwa kondisi perempuan di negeri ini tidak baik-baik saja. Kekerasan seksual, KDRT dan yang lainnya menunjukkan bahwa kaum perempuan saat ini dalam kondisi tidak bahagia alias menderita.

Belum lagi persoalan generasi yang saat ini juga mengalami nasib yang sama. Ketika para wanitanya tidak bahagia maka bisa dipastikan generasi-generasi yang menjadi tanggung jawab mereka untuk dididik juga menderita dan tidak merasakan bahagia.

Narkoba, seks bebas, tawuran, generasi bullying, generasi strawberry adalah salah satu dampak dari tidak bahagianya para ibu sehingga mempengaruhi dalam pola didik yang diberikan kepada generasi-generasi mereka.

Semua ini terjadi karena da pandangan yang salah tentang perempuan saat ini. Ketika system hidup yang diterapkan adalah system kapitalis sekuler, maka arah pandang yang dibangun dalam memandang kaum perempuan juga sesuai dengan pandangan kaum sekuler.

Dalam pandangan sistem kapitalis perempuan berdaya itu adalah yang bisa menghasilkan materi/uang. Sehingga mereka dituntut untuk lebih banyak beraktivitas dalam kehidupan publik dalam rangka mewujudkan slogan berdaya tersebut.

Salah satunya adalah dengan bekerja diluar rumah. Maka para perempuan hari ini lebih menyibukkan diri mereka diluar rumah dengan alasan bekerja demi mendapatkan pengakuan sebagai wanita berdaya.

Walaupun ada juga yang terpaksa karena keadaan ekonomi yang sulit sehingga memaksa kaum perempuan untuk bekerja keluar rumah membantu perekonomian suaminya dengan mereka juga mencari nafkah.

Namun yng terjadi akhirnya mereka tidak lagi menjadikan peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga adalah aktivitas utama yang wajib mereka lakukan.

Karena kehidupan ranah domestic itu tidak menjanjikan, bahkan perempuan-perempuan itu malu mereka jika hanya mengerjakan pekerjaan rumah karena dianggap itu tidak berdaya dan tidak menghasilkan. Maka demi gelar wanita berdaya mereka rela meninggalkan anak-anak mereka hanya kepada pembantu dan baby sitter saja.

Walhasil anak-anak menjadi kurang perhatian dan kasih sayang dari ibunya. Belum lagi perannya sebagai istri juga terpinggirkan. Hal ini justru menimbulkan permasalahan baru.

Kasus-kasus perselingkuhan menjadi tidak terelakkan. Suami selingkuh dengan pembantu, istri selingkuh dengan rekan kerja. Hasilnya rumah tangga hancur berantakan. Maka inilah yang dihasilkan dari penerapan system kapitali hari ini. Rumah tangga yang kacau balau karena masing-masing anggota keluarganya tidak menjalankan perannya.

Maka berbeda dengan Kapitalisme, dalam Islam Perempuan adalah sosok yang sangat mulia. Karena perempuan begitu dimuliakan dalam Islam, maka kehormatan dan kemuliaannya harus benar-benar dijaga. Fitrahnya sebagai seorang istri, ibu dan manager rumah tangga adalah yang utama.

Jikapun harus bekerja dan beraktifitas diluar rumah, maka jangan sampai menjadikannya lupa dengan kodratnya. Apalagi hanya dengan iming-iming wanita berdaya akhirnya para wanita lupa dengan tugas utama mereka.

Begitu besar perhatian Islam terhadap kaum perempuan sehingga tidak membebankan dipundak mereka kewajiban mencari nafkah. Islam menjadikan kaum perempuan adalah tulang rusuk yang harus senantiasa dirawat dan dijaga. Maka posisi tulang rusuk itu jangan sampai berubah menjadi tulang punggung.

Dalam Islam yang wajib bekerja dan mencari nafkah itu adalah kaum lelakinya. Mereka berkewajiban memenuhi nafkah kepada istri-istri mereka sesuai dengan yang dibutuhkan secara ma`ruf. Sebagaimana Firman Allah SWT : Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf (QS. Al-Baqarah [2]: 233).

Islam juga menetapkan bahwa bagaimana agar para suami bisa bertanggung jawab memenuhi nafkah kepada istri dan anak-anaknya maka kewajiban bagi negara untuk menyediakan lapangan pekerjaan sehingga para suami bisa dengan sempurna menjalankan kewajiban menafkahi keluarganya.

Selain itu pemimpin negara dalam konsep islam adalah pelayan bagi rakyat yang punya kewajiban memenuhi semua kebutuhan rakyatnya mulai dari sandang, pangan , papan serta kebutuhan kolektifnya yaitu kesehatan, pendidikan dan keamanan.

Penguasa sebagai pelaksana negara akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT atas pelaksanaan pengaturan ini. Karena penguasa adalah Junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Rasulullah Saw bersabda, “Imam (penguasa) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhari ).

Maka Sejatinya perempuan hanya butuh syariat Islam yang diterapkan secara kaffah dalam kehidupannya. Sudah saatnya kaum perempuan memperjuangkan tegaknya Islam. Karena hanya Islam yang terbukti satu-satunya sistem yang akan menjadikan kaum perempuan bahagia, yang akan menjaga iffah dan izzah mereka.

Islam akan memberikan perlindungan sempurna kepada mereka, Jadi bukan karena Indeks Pembangunan Gender yang menjadikan kaum perempuan bahagia tapi Perempuan akan berbahagia ketika diterapkan Islam Kaffah saja .Wallahu`alam bisshawab.[]

Comment