Hari Raya Idul Fitri dan Realitas Kehidupan Muslim Gaza

Opini1684 Views

Penulis: Wulan Shavira Nopa | Mahasiswi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Hari Raya Idul Fitri sejatinya menjadi momentum kemenangan, kebahagiaan, dan ungkapan syukur bagi umat Islam setelah menunaikan ibadah Ramadan. Namun, suasana penuh suka cita itu belum sepenuhnya dirasakan oleh kaum Muslim di Gaza.

Di tengah reruntuhan bangunan, keterbatasan pangan, serta ancaman serangan yang belum mereda, jutaan warga Palestina kembali menyambut Idul Fitri dalam suasana duka. Bagi mereka, hari raya bukan sekadar perayaan, melainkan pengingat bahwa penderitaan masih terus membayangi kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana dilansir MINA News Agency, lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Gaza merayakan Idul Fitri dalam kondisi pembatasan ketat, hancurnya infrastruktur, serta minimnya akses terhadap kebutuhan pokok seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan.

Kantor Media Pemerintah Gaza juga menyebutkan bahwa sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Di saat yang sama, pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata terus terjadi, ditandai dengan ribuan insiden penembakan, serangan udara, hingga operasi darat yang menelan korban jiwa dari kalangan sipil.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penderitaan warga Gaza belum menjadi prioritas utama dunia internasional. Perhatian global bahkan kerap bergeser pada konflik geopolitik lain, seperti ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Akibatnya, isu kemerdekaan dan perdamaian Palestina seolah tertutup oleh kepentingan hegemoni kekuatan global.

Ironi juga tampak dari sikap sebagian negara-negara Arab yang belum menunjukkan langkah politik yang tegas untuk menghentikan penderitaan tersebut. Sebagian justru menjalin hubungan strategis dengan kekuatan besar dunia, sementara luka rakyat Gaza terus berlangsung tanpa kepastian akhir.

Padahal, penderitaan Gaza semestinya dirasakan sebagai luka bersama seluruh kaum Muslimin. Ibarat satu tubuh, ketika satu bagian terluka, maka bagian lain turut merasakan sakit yang sama.

Dalam perspektif Islam, ikatan keimanan menuntut adanya kepedulian nyata terhadap sesama Muslim. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fath ayat 29 bahwa kaum mukmin memiliki sifat saling berkasih sayang dan tegas terhadap pihak yang memusuhi Islam.

Ayat ini menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah bukan sekadar ikatan emosional, melainkan dorongan untuk menghadirkan perlindungan dan kekuatan bagi umat.

Selain itu, dalam Surah At-Taubah ayat 123, Allah SWT juga memerintahkan kaum mukmin untuk bersungguh-sungguh menghadapi pihak yang memerangi mereka. Jihad dalam konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai perjuangan fisik, tetapi juga sebagai upaya kolektif dalam membela kaum tertindas dan menjaga kehormatan umat.

Oleh karena itu, solusi atas penderitaan Gaza tidak cukup hanya melalui bantuan kemanusiaan semata. Diperlukan persatuan politik umat Islam yang kokoh agar perlindungan terhadap kaum Muslim dapat diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan.

Ukhuwah Islamiyah semestinya menjadi pengikat seluruh negeri Muslim untuk bergerak dalam satu visi, yaitu mengakhiri penderitaan dan menghadirkan keadilan bagi saudara-saudara mereka di Gaza.

Dalam perspektif politik Islam, persatuan kepemimpinan umat yang berlandaskan penerapan nilai-nilai syariat secara menyeluruh diyakini dapat menjadi kekuatan strategis dalam membela wilayah-wilayah Muslim yang tertindas.[]

Comment