by

Haris Rusly: Kabinet Oplosan Cermin Terkuburnya Baju Kotak Kotak

Haris Rusly.[Nicholas]

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kita
tentu masih ingat kemeja bermotif kotak-kotak yang dikenakan oleh PYM
Joko Widodo di saat menjadi calon Gubernur DKI. Kemeja motif
“kotak-kotak” yang legendaris itu adalah kemeja yang gandrung dikenakan
oleh anak anak muda.


Karena
itu, kemeja motif kotak-kotak yang dikenakan tersebut sesungguhnya
dimaksudkan sebagai simbol kebangkitan politik kaum muda, untuk meng
antitesa politik kaum tua yang berlumuran masalah dan mewariskan kepada
kita berbagai dosa sejarah, baik masalah korupsi, kemunafikan maupun
penyakit mentalitas inlander.

Terlalu
banyaknya masalah hukum yang melilit sejumlah tokoh  kunci kaum tua
yang memegang kendali politik negara tersebut, telah menempatkan mereka
untuk saling menyadera satu dengan yang lainnya. Akibatnya, orang-orang
bermasalah tersebut bersatu, bahu membahu, untuk saling membantu
menutupi kejahatan yang mereka perbuat.

Pada
gilirannya nasib bangsa dan negara pun turut tersandera oleh masalah
yang menyandera kekuatan tua yang mengendalikan institusi pemerintahan
tersebut. Sedikit sekali kekuatan tua yang berpikir dan bertindak
sebagai pelatih, seperti Alex Ferguson (MU), yang membentuk dan
melahirkan pemain yang berkaliber dan berkarakter seperti Christiano
Ronaldo.

Sulit
sekali menemukan orang-orang tua di dalam dunia politik, yang bersikap
dan bermoral seperti Cokroaminoto yang ikhlas menjadi guru bangsa, yang
menempa dan melahirkan seorang proklamator seperti Ir. Soekarno. Yang
menyedihkan, bahkan ada sejumlah tokoh tua yang berambisi merangkap
sebagai pelatih sekaligus sebagai pemain.

Oleh
karena itu, simbol baju kotak-kotak yang mengantarkan oleh Joko Widodo
menjadi Gubernur DKI sesungguhnya membawa misi regenerasi, untuk
membangkitan spirit politik pemuda dalam  membangun “trase”  baru
kehidupan bernegara yang disandera oleh jejaring kartel, mafia dan
sindikat kekuatan tua.

Demikian
juga simbol baju warna putih yang dikenakan oleh Joko Widodo di saat
kampanye Pilpres 2014, tentu dimaksudkan sebagai simbol kesucian jiwa,
anti tesa terhadap pemerintahan sebelumnya yang kotor dan berlumuran
dengan berbagai kejahatan korupsi,  kemunafikan dan kebijakan menjual
negara.

Baju
warna putih kini bahkan telah menjadi seragam resmi yang wajib
dikenakan oleh para menteri di saat acara resmi kenegaraan. Seluruh
pegawai negeri sipil dari pusat hingga daerah juga diwajibkan mengenakan
kemeja warna putih pada hari-hari tertentu, misalnya pada hari senin
dan selasa.

Kemeja
warna putih tersebut membawa kita pada memori ketika masih duduk di
bangku sekolah dasar (SD). Kita diajarkan oleh guru kita tentang makna
dari warna bendera merah putih yang oleh guru kita. Merah bermakna
berani, putih bermakna suci. Dwi warna, merah putih, sesungguhnya
bermakna “jiwa yang bernai, berkobar dan berkorban untuk membela dan
menegakan kesucian kebenaran dan keadilan”.

Karena
itu, simbol kemeja warna putih yang dikenakan oleh Presiden Joko Widodo
dan wajib juga dikenakan oleh para menteri, pejabat pemerintahan dan
seluruh pegawai negeri adalah sebuah kebijakan yang dimaksudkan untuk
menjiwai revolusi mental yang diusung oleh Presiden Joko Widodo.

Revolusi
mental adalah untuk membangun kembali jiwa dan mental yang bersih dan
suci dari korupsi, bersih dan suci dari kemunafikan dan bersih dari
virus mental inlander yang bangga menjadi marsose kepentingan asing.

Namun
kenyataannya kini, Presiden Joko Widodo, justru telah secara sadar
bertindak sebagai malaikat pencabut nyawa. Presiden Joko Widodo dengan
tangan dan mulutnya sendiri telah  mencabut roh yang menghidupkan simbol
kemeja bermotif kotak-kotak dan kemeja warna putih, yang telah berjasa
mengantarkan dirinya terpilih baik sebagai Gubernur DKI maupun sebagai
Presiden RI.

Dua
kemeja herois tersebut telah menjadi almarhum, di-kafani dan dikubur
sendiri secara sadar melalui tangannya Presiden Joko Widodo. Langkah
Presiden Joko tersebut juga diamini seluruh parasit pendukungnya yang
dulunya adalah orang-orang yang sangat kritis terhadap keadaan bangsa.

Dua
fakta politik berikut dapat menjelaskan terkait telah dicabutnya roh
atau nyawa dari kemeja bermotif kotak-kotak dan kemeja warna putih:

Pertama,
fakta tentang perintah Presiden Joko Widodo kepada seluruh penegak
hukum untuk tidak mempidanakan diskresi atau kebijakan pemerintah.
Padahal fakta perampokan terbesar terhadap asset negara justru dilakukan
melalui kebijakan yang dijabarkan melalui peraturan. Satu ayat dari
sebuah UU atau kebijakan pemerintah pusat dan daerah dapat merugikan
negara hingga puluhan triliun.

Perintah
Presiden Joko Widodo tersebut juga telah menjadi pembenaran bagi
seluruh pejabat pemerintah di pusat hingga tingkat daerah untuk membuat
kebijakan menjual negara dan merampok asset kekayaan negara. Salah satu
tugas Polri dan Kejaksaan Agung untuk memberantas korupsi secara de
fakto telah dilumpuhkan oleh Presiden Joko Widodo.

Kedua,
fakta politik terkait kebijakan pemerintahan Joko Widodo melalui UU Tax
Amnesty yang telah memberikan landasan hukum atau karpet merah untuk
money laundry terhadap hasil kejahatan korupsi, pelacuran, perjudian dan
narkoba.

Dengan
disahkannya UU Tax Amnesty tersebut maka kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa Pemerintahan Joko Widodo saat ini  sesungguhnya telah
dikuasai sepenuhnya oleh sindikat kejahatan nasional dan international.

Demikian
juga kebijakan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada BUMN sesungguhnya
adalah sebuah modus baru merampok kekayaan negara dengan memperalat
BUMN. Skandal PMN kepada BUMN sebesar Rp. 70 triliun bukanlah uang yang
nilainya kecil jika dibandingkan dengan skandal Bank Century sebesar Rp.
6,7 triliun yang hingga kini masih menjadi masalah hukum dan politik.

Ketiga,
sebagai bukti bahwa pemerintahan Joko Widodo telah dikuasai oleh
sindikat kejahatan nasionl dan international adalah masuknya sejumlah
tokoh politik yang  bermasalah secara hukum dalam resuffle kabinet jilid
dua. Masuknya Wiranto, Sri Mulyani, Enggartiasto Lukito di dalam
kabinet, telah menambah barisan orang orang bermasalah yang menguasai
kabinet Kerja yang dipimpin oleh Joko Widodo.

Sebelum
resuffle jilid dua, kabinet Kerja sesungguhnya telah dikuasai oleh
barisan orang-orang bermasalah seperti Rini Soemarno, Luhut Binsar
Panjaitan, Sutiyoso, dll. Sebetulnya, baik Presiden Joko Widodo maupun
Wapres Jusuf Kalla juga tak bersih dari dugaan masalah hukum. Presiden
Joko Widido sendiri diduga kuat terlibat dalam kasus impor bus karatan
dari China dan skandal NJOP Rumah Sakit Sumber Waras. Sementara Wapres
Jusuf Kalla sendiri diduga kuat terlibat skandal projek pembangkit
listrik 10.000 MW.

Tak
salah jika banyak kalangan mengatakan bahwa Kabinet Kerja hasil
resuffle jilid dua sebagai “Kabinet Oplosan”. Sebuah kabinet yang
dibentuk dari mengoplos cita cita mulia menegakan Trisakti dan
pemerintahan yang bersih dari korupsi, tapi dijalankan oleh para menteri
yang terlibat korupsi dan mafia kejahatan, sebagian Menteri menjadi
marsose kapitalis barat,  sebagian lagi bertindak menjadi kacungnya
kapitalis China.

Persis
seperti kejahatan mencari untung dengan mengoplos Bahan Bakar Minyak,
premium dioplos dengan minyak tanah, lalu dijual dengan harga premium.
Karena, kabinetnya adalah hasil oplosan, maka nasib dari kabinet Kerja
yang dibentuk oleh Joko Widodo juga tak jauh berbeda dengan mobil yang
mengkonsumsi bahan bakar oplosan, pasti merusak mesin dan tak lama lagi
akan mogok di tengah jalan.

Berdasarkan
fakta tersebut, maka kami menyarankan agar Presiden Joko Widodo, para
menteri, pejabat pemerintahan dan pegawai negeri, untuk tidak lagi
mengenakan kemeja warna putih, simbol kejujuran dan anti korupsi. Untuk
apa mengenakan seragam kemeja warna putih, tapi di saat yang sama
 sambil merampok dan menjual negara kepada asing.

Untuk
apa mengenakan seragam kemeja warna putih jika di saat yang sama
menjadi orang yang munafik, ingkar janji serta merampok dan menjual
negara kepada asing.

Kenyataan
di atas juga menegaskan bahwa hanya satu satunya prestasi yang patut
dibanggakan oleh Presiden Joko Widodo, yaitu berhasil menipu kita semua
sebagai rakyat Indonesia. Mari luruskan niat tegakan kembali Pancasila
dan Trisakti.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + three =

Rekomendasi Berita