by

Heidy Sofiyantri: Stop Film Perusak Generasi

Heidy Sofiyantri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKART – Sungguh sangat miris,dari hari ke hari seakan tidak pernah berhenti.Apakah itu…? Film-film layar lebar yang tayang dibioskop-bioskop merusak umat khususnya generasi muda sebagai penerus.
Bukan yang pertama,film dilan menghebohkan para remaja,mengapa..?karena film dilan mengisahkan anak-anak remaja SMA,diperankan oleh pelajar remaja,ia menjadi ketua geng motor, tak lepas dari aksi  tawuran dengan teman SMA lainnya, tetapi juga sangat romatis dan puitis(katanya…)  itu membuat para remaja wanita mengaguminya.Dalam kisah film ini tentunya tidak ada nilai pendidikan yang disampaikan,padahal diperankan  oleh anak sekolah dan lokasi nya pun di sekolah.,apalagi dari segi nilai agama tidak sama sekali,sebab dalam islam pacaran diharamkan.,begitu pun tawuran.
Film dilan selain menarik perhatian remaja,ternyata menginspirasi salah satu pejabat untuk memberi nama sebuah taman dengan nama taman dilan,entah apa tujuannya.
Belum selesai masalah film dilan,sekarang muncul film baru lagi, film yang menghebohkan jagat raya.
Hingga walikota Depok ambil sikap memboikot film tersebut tidak ditayangkan,mengapa demikian? pasti ada sesuatu yang memang tidak layak untuk ditonton,tayangan trailer yang beredar sangat memprihatinkan yang dari judul filmnya saja sudah dipastikan tidak ada nilai-nilai yang positif,walaupun film tersebut mengisahkan seorang penari,tetapi
Film yang berjudul ‘kucumbu tubuh indahku’ mengandung penyimpangan seksual dan pornografi ,ada adegan yang diperankan oleh seorang anak kecil , adegan tersebut tidak seharusnya ia lakukan.
Film-film yang tidak layak untuk dikonsumsi umat bukan hanya kedua film itu saja,tetapi masih banyak lagi film-film yang lainnya yang ditayangkan dibioskop-bioskop.Mangapa film-film tersebut bisa diproduksi dan ditayangkan.Dan bagaimana agar film-film tersebut tidak lagi bermunculan kembali,agar generasi muda tidak semakin rusak,karena dampak dari tontotan tersebut sangatlah fatal,banyak para remaja mencontoh apa yang dilakukan dalam adegan-adegan film-film tersebut.
Film-film layar lebar diproduksi,tujuannya hanya ingin meraih keuntungan yang sangat besar,tanpa memperhatikan pesan moral didalamnya,tanpa memikirkan layak atau tidak untuk ditonton oleh masyarakat.Tidak lagi bersandarkan pada hukum syara,yaitu halal haram.Yang penting menghasilkan keuntungan.
Beginilah jika hukun islam tidak diterapkan didalam kehidupan.Maka yang terjadi pada umat saat ini adalah memisahkan agama dari kehidupan ,sekulerisme.Agama tidak dilibatkan dalam aktivitasnya,agama bukan lagi pengatur dalam hidupnya.Yang akhirnya menjadikannya mereka kapitalisme,yaitu selalu berpikir  bagaimana caranya agar bisa mengambil keuntungan yang besar tanpa memikirkan dampaknya apa.
Jangan jadikan tontonan menjadi salah satu perusak generasi muda,menjauhkan mereka dari aqidah dan akhlak,tetapi seharusnya menyuguhkan mereka tontonan yang mendorong semangat dalam menuntut ilmu,berjuang dan aktif dijalan da’wah dan juga jihad fi sabilillah.
Padahal islam mengatur seluruh aspek kehidupan,begitupun halnya tayangan yang layak ditonton  ataupun tidak oleh umat.
Dalam hal ini ada peran negara yang bertugas,seperti  departemen penerangan atau lembaga sensor, memberikan wewenang atau keputusan,apakah film itu benar – benar tidak bertentangan dengan hukum syara dan layak tayang.
Negara menerapkan hukum islam secara kaffah,menerapkan hukum-hukum islam,bukan hukum yang lain,maka  dijamin tidak akan ada lagi tayangan seperti saat ini.Karena hanya islamlah solusi tuntas dalam menyelesaikan berbagai masalah. Wallahu alam bi showab.[]
Penulis adalah ibu rumah tangga, tinggal di Jember

Comment

Rekomendasi Berita