by

Anisha Junietta Shahnaz Maharani: Sholat Duha Dan Dorongan Orang Tua Membuatku Optimis

Anisha Junietta Shanaz Maharani.[Dok/pribadi]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Nama lengkapnya Anisha Junietta Shahnaz Maharani. Icha adalah panggilan akrab sehari-hari di dalam keluarga tetapi di tempat kuliah sekarang, Anisha Junietta Maharani kerap disapa Tsuki sapaan dirinya yang gemar dengan karakter Tsukishima Kei sejak SMA.
Anisha Junietta Shahnaz Maharani, mahasiswi kelahiran Jakarta, 1999 mendalami disiplin ilmu Psikologi di universitas Negeri Jakarta. Tidak mudah bagi Icha untuk masuk dan menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi yang diinginkannya itu.
Proses mendapatkan kelulusan dan masuk sebuah Perguruan Tinggi dambaannya itu begitu berliku. Icha tidak pernah mau menyerah untuk meraih kesempatan berlomba dengan banyak peserta yang ikut ujian.
“Ketika saya akan menempuh ujian masuk Perguruan Tinggi, yang saya lakukan adalah belajar, baik mengerjakan contoh-contoh soal baru atau latihan soal tahun sebelumnya, banyak berdoa dan meyakini bahwa saya bisa masuk .” Ujar Icha saat wawancara via Whatsapp, Ahad (24/12).
Meski kuliah jurusan psikologi, Icha pandai menggambar. Ini hasil karyanya.[Pribadi]
Setiap hari, lanjut Icha, dirinya bangun pukul 03 pagi untuk Tahajud, lalu diteruskan belajar sampai pukul 5, yang dilanjutkan dengan sholat Subuh. Usai subuh, kemudian belajar lagi sampai pukul 08.
Icha hanya tidur kurang lebih dua jam saja karena harus bangun untuk mandi sekitar pukul 10 dan melanjutkan sholat duha memohon doa kepada sang Khaliq. Usai sholat duha, Icha melanjutkan belajar kembali. Istirahat sejenak, kemudian sholat lagi. Ini dilakukanya hingga ujian penerimaan mahasiswa di Perguruan Tinggi yang didambakannya.
Meski masih remaja, Icha yang hobi menggambar ini hidupdalam keprihatinan. Namun justeru keprihatinan itulah yang membuat dorongan dan motivasi dalam dirinya untuk bangkit dan melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya.
“Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu, maka dari itu saya sangat ingin meneruskan pendidikan setinggi-tingginya untuk mengubah kehidupan keluarga saya. Banyak kendala ketika saya ingin mengikuti ujian, tetapi kedua orang tua saya berperan sangat baik dalam kemajuan saya. Mereka terus memberi dorongan pada saya, meyakinkan bahwa saya akan mengubah dan menaikkan derajat orang tua saya. Dengan itu saya pun menjadi yakin bahwa saya adalah pintu menuju kesuksesan keluarga saya.” Ujar Icha.
Icha adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai anak sulung, tentu dirinya menjadi harapan kedua orang tua di kemudian hari. Dengan alasan ini pula Icha bertekad merampungkan pendidikan dan bisa menjadi tulang punggung keluarga nantinya.
Selain menggambar kartun Jepang sejak SD, mahasiswi psikologi Universitas Jakarta ini juga suka menulis cerita pendek dan mengisi waktu senggang dengan bernyanyi.
Soal warna, Icha gandrung dengan abu-abu. Menurutnya, abu-abu itu seperti kehidupan, belum jelas dan tidak satupun orang yang bisa meramal secara tepat. Abu abu katanya, ada di antara hitam dan putih. Terkesan seperti berada di antara kebaikan dan keburukan.
“Hidup itu bagai roda, Icha belum pernah ngerasain ada di atas, tapi berusaha percaya bahwa akan ada saatnya untuk Icha dan keluarga berada di atas nanti. Imbuh Icha berharap. Dengan duha dan dorongan orang tua, harapa itu pastiu terkabulkan. Aamiin.[GF]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 3 =

Rekomendasi Berita