by

Iga Latif,S.Pd: Titik Aman Yang Tak Nyaman

 Iga latif,S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sudah menjadi rahasia umum jika negeri yang masyur dengan sebutan zamrud khatulistiwa ini hingga akhir 2018 kemarin tercatat sebagai negara yang jumlah Utang Luar Negeri nya  kian fantastis. Bagaimana tidak pada September tahun lalu saja nominal Utang Luar Negeri yang dimiliki Indonesia mencapai nominal Rp.4.416 triliun. Yang dimana jumlah itu mengalami kenaikan signifikan yakni sebesar Rp.53 triliun di bulan Agustus pada tahun yang sama.(tribunwow.com) Jelas hal ini membuat banyak pihak mulai mengkhawatirkan jumlah besaran utang yang kian kembengkak. Tak terkecuali Rizal Taufikurahman selaku peneliti INDEF (Institute for Development of Economic and Finance).
Namun hal yang mulai meresahkan banyak pihak tersebut disangkal dengan adanya pernyataan dari Menkeu Sri Mulyani. Ia menyebutkan bahwa tidak perlu mengkhawatirkan dengan adanya jumlah Utang Luar Negeri yang kian melonjak signifikan,sebab rasio ULN masih dibawah batas aman sesuai UU no 17 tahun 2003 yang menyebutkan bahwa batas maksimal rasio utang pemerintah maksimal 60 persen dari PDB.
Di luar konteks dari apa yang disampaikan oleh Menkeu, Indonesia agaknya perlu berkaca dari catatan sejarah kelam negara-negara yang berakhir dengan keterpurukan di berbagai lini dikarenakan tak sanggup melunasi jumlah Utang Luar Negeri yang kian membengkak. Sebagaimana informasi yang dilansir oleh MuslimahNews.com beberapa negara mengalami kebangkrutan disebabkan Utang Luar negeri seperti Angola, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan,dan Sri Lanka. 
Bahkan Zimbabwe harus rela mengubah mata uang negaranya menjadi Yuan setelah gagal melunasi ULN sebesar 40 juta dollar AS pada Cina, di mana pergantian mata uang itu berlaku sejak 1 Januari 2016, setelah di bulan sebelumnya Zimbabwe tak mampu membayar besaran utang yang jatuh tempo pada Desember 2015. Nasib Sri Lanka pun tak jauh beda, negeri ini harus rela melepaskan Pelabuhan Hambabota yang bernilai Rp.1,1 triliun kepada BUMN Cina karena tak mampu melunasi Utang Luar Negeri demi pembangunan infrastruktur.
Jika melihat kemiripan fenomena yang juga tengah terjadi di Indonesia, tahun 2018 menjadi momen banyaknya infrastruktur yang sudah rampung digarap. Di sektor transportasi saja,10 bandara sudah dihasilkan dalam proyek infrastruktur yang tercatat dimulai sejak 5 tahun silam. Termasuk Bandara Internasional Kertajati yang terletak di Kabupaten Majalengka Jabar yang baru saja diresmikan 25 Mei 2018 lalu. Dan itu baru di satu sektor infrastruktur, belum di sektor-sektor lain yang pastinya membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Jika kita melihat pada banyaknya infrastruktur yang dibangun di Indonesia, tak ayal perhatian kian mengerucut pada besaran jumlah Utang Luar Negeri Indonesia  yang hampir menembus angka Rp.5000 triliun.Terlebih lagi banyak pihak yang menyangsikan pernyataan Menkeu dan Gubernur BI terkait indikator aman Utang Luar negeri Indonesia. Bahkan Rizal Taufikurahman selaku peneliti INDEF (Institute for Development of Economic and Finance) menegaskan,dengan adanya bad story dari negeri pendahulu Indonesia dalam hal utang untuk membiayai pembangunan infrastruktur negeri, pemerintah Indonesia tidak bisa mengabaikan hal tersebut. Dan sudah seharusnya lebih cermat dan hati-hati dalam mengelola Utang Luar Negeri.
Namun benarkah jumlah utang yang nominalnya semakin meresahkan ini masih dalam indeks aman? Bagaimana seharusnya sikap kita dalam hal ini? Bagaimana syariat Islam memandang utang terutama yang berbasis ribawi?
Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Berhati-hatilah kamu dalam berhutang. Sesungguhnya utang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan mendatangkan kehinaan di siang hari. (HR Al-Baihaqi)
Begitu dahsyatnya kekhawatiran rasulullah akan keterlibatan dengan utang, secara khusus Rasulullah memohon pada Allah dalam doanya:
الّلهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرّجَالِ

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesusahan dan kedukaan, aku berlindung kepadaMu dari lemah dan malas, dan aku berlindung kepadaMu dari takut (miskin) dan kikir, aku berlindung kepadaMu dari banyaknya utang dan paksaan orang-orang.”
Di mana makna kata “aku berlindung” menunjukkan kepasrahan sekaligus keutamaan mendekati hal-hal yang bisa mengarahkan kepada kemudharatan utang yang membelenggu. Meski Islam tidak pernah melarang untuk berhutang tanpa riba, namun efek utang yang menjadikan penghutang jauh dari kata tenang, membuat Islam mengarahkan setiap pemeluknya untuk sebisa mungkin menghindari utang kecuali dalam keadaan terpaksa.
Terlebih lagi jika utang yang dilakukan berbasis riba yang jelas akan mendatangkan kemudharatan bagi pelakunya. Seperti yang dijelaskan dalam kutipan firman Allah dalam Qs Al Baqarah:275
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 
Artinya:
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
Segala sesuatu yang haram niscaya akan mendatangkan keharaman. Begitu pula keharaman utang riba yang akan mendatangkan keharaman yang akan merusak tatanan. Dengan demikian sudah seharusnya utang yang berbasis riba sebisa mungkin dihindari baik itu dalam tataran perseorangan ataupun negara. 
Terlebih lagi jika negeri yang diinginkan adalah negeri yang aman, gemah ripah loh jinawi. Bayangan negeri yang tenteram akan semakin terasa bagai jauh panggang  dari api jika negeri masih terjerat belenggu utang riba yang siap melenyapkan apapun yang ada di dalamnya kapan saja.
Abdurrahman al Maliki dalam bukunya yang berjudul “Politik Ekonomi Islam” beliau memaparkan setidaknya terdapat 4 hal yang menjadikan utang luar negeri yang berbasis ribawi sangat membahayakan negeri penghutang.
1. Pembiayaan proyek-proyek milik negara oleh asing sangat membahayakan eksistensi suatu negara.banyak negara yang telah menjadi korban jeratan Utang Luar Negeri. Pinjaman Utang yang diberikan menjelma menjadi mesin penjajah yang sejak awal diatur dengan rapi oleh negeri pemberi utang. Bahkan Inggris menjajah Mesir pun melalui pinjaman Utang yang semakin lama semakin berjumlah fantastis. Hingga akhirnya Mesir bernasib sama dengan Zimbabwe dan Sri Lanka. 
2. Utang luar negeri sangat membahayakan dan melemahkan sektor keuangan negara penghutang. Utang jangka pendek, berbahaya karena akan dapat memukul mata uang domestik dan memicu kekacauan sosial.juga utang jangka panjang, yang tak kalah berbahaya karena makin lama jumlahnya semakin mencengkeram,yang berujung pada perbudakan negara penghutang oleh negara pemberi utang. Rakyatlah yang paling dini merasakan imbasnya.
3.Rakyat yang seharusnya disejahterakan dengan kebijakan-kebijakan yang kondusif justru akan menjadi pesakitan ketika pengurangan subsidi dilakukan di beberapa sektor umum demi menambah anggaran guna melunasi Utang Luar Negeri yang kian menumpuk.
4. Utang luar negeri dijadikan senjata politik strategis negeri penghutang. Dengan adanya pinjaman yang diberikan,negeri penghutang memiliki banyak kesempatan untuk mempelajari dam mengetahui titik lemah suatu negara.
Adanya upaya masif untuk menyadarkan masyarakat, terutama umat islam bahwa utang bukanlah sumber pertolongan apalagi pendapatan, sebaliknya utang merupakan awal dari cara asing untuk semakin menghilangkan kata kesejahteraan dan keamanan di Indonesia. 
Sebab jeratnya akan memusnahkan rasa aman,bahkan mengancam kedaulatan bangsa yang sudah seharusnya menjadi pelindung utama masyarakat yang bernaung di bawahnya dari segala bentuk pesakitan. Tidak hanya di dunia namun di akhirat kelak karena mengundang azab Allah SWT.  Jika sudah demikian, masihkah merasa nyaman di bawah indeks aman?[]

Pendulis adalah seorang pendidik.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − 2 =

Rekomendasi Berita