by

INES: 67,3% Responden Ingin Presiden Baru Pemilu 2019.

Direktur Indonesia Network Election Survei (INES), Oskar Vitriano, SE, M.PubPol, SO [Nicholas/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Direktur Indonesia Network Election Survei (INES), Oskar Vitriano, SE, M.PubPol, CSO menyampaikan bahwa,”Sedari 2.180 responden hanya 19,5% menyatakan janji Jokowi-JK dipenuhi. Sedangkan 68,2% mengatakan Jokowi tidak menepati janji. Lalu sisanya 12,3% tidak menjawab,” sampainya saat sesi jumpa pers hasil survei terbaru  Indoensia Network Election Survei (INES) terkait kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi dan peta kekuatan politik, di bilangan Gondangdia, Jakarta Pusat. Minggu (6/5).
Adapun survey INES berdasarkan hasil jajak pendapat masyarakat mengukur terhadap pemilu 2019 dengan responden sebanyak 2.180 orang yang tersebar secara proporsional di 33 propinsi meliputi 408 kabupaten / kota menggunakan metode penarikan sampel multistage random sampling pada 12 hingga 28 April 2018 lalu.
Kemudian, kemuka Oskar Vitriano, swasembada pangan yang merupakan salah satu program unggulan janji Jokowi-JK di mata responden, malahan 79,6% gagal menciptakan swasembada pangan.”Sedangkan hanya 12,3% responden katakan Pemerintah Jokowi-JK sudah lakukan upaya itu, lalu 8,1% tidak menjawab,” ungkapnya.
Ditambahkannya, dari impor beras dan beberapa komoditi lainnya dimana responden belum mampu menurunkan harga sembako di pasaran, pernyataan in disampaikan sebanyak 75,7% responden.”Sedangkan 14,9% katakan Pemerintahan telah mampu stabilkan harga sembako, sisanya 9,4% tidak menjawab,” ungkapnya.
Maka itulah, menurut Oscar, kinerja pemerintahan Jokowi-JK sudah barang tentu akan punya pengaruh dengan pilihan masyarakat terhadap parpol yang akan berlaga di pileg 2019 dan tingkat keterpilihan Jokowi mencalonkan diri kembali sebagai capres di Pilpres 2019 
“Dengan adanya Hastag Ganti Presiden 2019 di media sosial menurut jawaban dari 2.180 responden adalah 67,3% responden menginginkan Presiden Baru pada 2019. 21,3% responden menjawab dilanjutkan kepemimpinan sekarang dan sisanya sebesar 11,4% tidak tahu,” ulasnya.
Kemudian, Direktur INES melanjutkan pandangannya, menarik kesimpulan bahwa anjloknya tingkat keterpilihan (elektabilitas) Joko Widodo oleh masyarakat hingga di bawah (30 %) atau hanya (27,7%).
“Tingkat elektabilitas Joko Widodo hanya (26,1%) hasil jawaban responden terkait pilihan pada Joko Widodo yang hanya dibawah (30%) ini menunjukkan jawaban responden tidak berubah terkait pertanyaan dengan adanya Hastag Ganti Presiden 2019 yang akhir-akhir ini ramai di media sosial,” paparnya.
“Sebanyak 67,3% responden menginginkan Presiden Baru pada 2019, 21,3% responden menjawab dilanjutkan kepemimpinan sekarang dan sisanya sebesar 11,4% menjawab Tidak Tahu,” ujarnya.
Dimana indikasi anjloknya tingkat elektabilitas Joko Widodo juga sejalan dengan pandangan responden, pemerintahan Jokowi-JK dianggap tidak memenuhi janji- janjinya semasa kampanye. 
“Padahal salah satu alasan responden memilih loko Widodo adalah janji-janji kampanyenya. Dalam hal pemenuhan janji, Joko Widodo dianggap gagal,” paparnya.
Alih-alih menaikan tingkat kesejahteraan masyarakat yang terjadi justru sebaliknya , trend menurutnya daya beli masyaralat akan dirasakan masyaraka seiring dengan laju kenaikan harga tidak terbendung menjelang bulan puasa dan lebaran.”Sedangkan penghasilan masyarakat justru menurun ditengah tekanan akan kenaikan TDL dan BBM sehingga masyarakat konsumsi untuk kebutuhan hidup sehari-harinya,” paparnya.
Proyek-proyek infrastruktur pemerintahan Jokowi-JK tidak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Justru yang ada keresahan membanjirnya tenaga kerja asing (TKA).”Masyarakat mengeluhkan karena tak ada imbas langsung terhadap kehidupan mereka,” ungkapnya.
“Buruknya kinerja pemerintah membuat masyarakat berpaling, dimana bila hari ini diadakan pemilihan presiden digelar, maka Prabowo Subianto yang dipilih oleh mayarakat secara Top of Mind sebanyak 50,2 persen,” tukasnya.
Adapun, tingkat Eltabilitas Prabowo Subanto justru meningkat hingga 54,5% dan memiliki hubunganyang kuat dengan kenaikan Elektablitas partai Gerindra hingga 26.2%.
Sedangkan, menurut Direktur INES  bahwa elektabilitas PDI Perjuangan mengalami penurunan sebanyak 5% dibandingkan dengan Pemilu 2014 lalu, atau hanya 14,3 persen sejalan kinerja pemerintahan Joko Widodo yang tidak berpihak pada masyarakat, khusus wong yang basis pendulang suara PDI Perjuangan selama ini.
Sementara, tingkat Elektabilitas Gatot Nurmantyo sebagai Capres lebih rendah sebagai cawapres dimana Jika sebagai capres hanya memiliki tingkat elektabilitas sebanyak 9,1% sedangkan sebagai Cawapres mencapai 18,1%>
“Cawapres yang memiliki tingkat Elektabilitas paling tinggi adalah Muhaimin Iskandar yaitu 21,4% dimana pilihan tersebut dikarenakan menurut responden sosok Muhaimin Iskandar yang merupakan satu satunya tokoh Muda dari kaum Nadliyin yang paling punya pengalaman dalam pemerintahan,” tutupnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + twenty =

Rekomendasi Berita