by

Irwansyah*: Adegan Ranjang’ Yang Menyimpang

Irwansyah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belum lama ini warga kecamatan Kadipaten, kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dihebohkan dengan kelakuan pasangan suami-istri (pasutri). Bagaimana tidak, pasutri yang berinisial ES dan LA ini mempertontonkan adegan ranjangnya kepada sejumlah anak-anak. Tidak hanya sampai disitu, pasangan tersebut juga memberlakukan tarif yang berkisaran 5000-10000 ribu rupiah bagi anak-anak yang ingin menyaksikan ‘live sex’ mereka.
Dilansir dari Tribunnews.com, aksi pasutri yang mempertontonkan adegan ranjangnya kepada anak-anak itu bukanlah kali pertama, melainkan sudah berkali-kali. Bahkan, aksi tersebut juga terjadi pada saat bulan suci Ramadhan kemarin.
Bila mencermati fakta diatas, pasutri tersebut melakukan hal demikian kemungkinan disebabkan dua faktor: Pertama, faktor ekonomi yang sedang krisis,  terbukti mereka memasang tarif. Kedua, mereka mengalami kelainan seksual yang dinamakan troilisme.
Troilisme merupakan prilaku seksual yang merasa mendapatkan kepuasan apabila aktivitas ranjang pada pasutri disaksikan oleh pihak ketiga atau orang lain. Prilaku seperti ini biasanya dilakukan oleh orang-orang barat yang berpaham kapitalisme. Bahkan, tak jarang aktivitas ranjang mereka, mereka jadikan lahan bisnis untuk meraup keuntungan materi dengan cara, merekam lalu diperjual-belikan. 
Begitulah tabiat kapitalisme, sandarannya untung-rugi. Asal untung, sikat. Bila dirasa merugikan, tinggalkan. Baik-buruk dan halal-haram tidak lagi menjadi perhatian.
Berbeda dengan Islam. Islam hadir tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual semata tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan. Termasuk urusan kasur. 
Islam memandang, urusan kasur atau aktivitas ranjang bukanlah konsumsi publik. Maka haram untuk dipertontonkan. Disebarluaskan. Apalagi dijadikan lahan bisnis untuk meraup keuntungan.
“Orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang menggauli istrinya atau istri yang bergaul dengan suaminya, kemudian ia menyebarluaskannya” (HR. Muslim).
Begitulah Islam mengatur umatnya, agar kemuliaan dan kehormatan umatnya terjaga. Maka, sudah seharusnya kita sebagai umat muslim menerapkan aturan (syariat) Islam dalam kehidupan dan tidak lagi menjadikan kapitalisme sebagai kiblat dalam berprilaku.[]

*Mahasiswa Universitas Lakidende, Konawe

Comment

Rekomendasi Berita