Oleh: Yulia Hastuti, SE, M.Si, Pegiat Literasi
_________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Pergantian tahun masehi telah kita tinggalkan dengan segala peristiwa dan segudang permasalahan yang dihadapi. Berbagai resolusi-resolusi digaungkan baik oleh masyarakat hingga pejabat pemerintah. Termasuk Jokowi yang mengajak lapisan masyarakat Indonesia untuk menyongsong harapan dan peluang yang baru, menuju Indonesia maju di 2023.
“Apa yang patut kita kenang dari 2022 yang segera kita tinggalkan? Banyak. Ada yang menggembirakan, tidak sedikit pula yang kurang menyenangkan, “ tulis Jokowi di akun Twitter resminya @jokowi pada 1/1/2023.
Jokowi mengakui berbagai masalah yang dihadapi oleh Pemerintah maupun masyarakat menjadi penguat untuk melewati segala persoalan. Pandemi Covid 19, ancaman resesi mampu dilewati, perekonomian tumbuh positif, situasi politik dan keamanan positif, pembangunan berjalan sesuai rencana. Sementara itu beberapa kawasan negeri kita dilanda bencana alam banjir hingga gempa bumi di sepanjang tahun 2022.
Namun, seperti ditulis medisindonesia.com (1/1/2023), Jokowi optimistis untuk menghadapi 2023 dengan segudang pengalaman di 2022.
Dalam upaya menghadapi 2023, Indonesia menyisakan banyak problem yang belum terselesaikan secara tuntas di tahun 2022. Krisis demi krisis kian mengkhawatirkan dan rasanya tidak kunjung usai. Terlebih dengan kondisi generasi muda. Sistem demokrasi dan kapitalisme telah melahirkan generasi apatis, apolitis, loyo, melambai, dan malas berjuang. Parahnya lagi, paham kebebasan berekspresi kian merebak. Ide sesat LBTQ kian merajalela.
Generasi muda marak terjerat pinjaman dan judi online. Ditambah derasnya islamofobia, sekularisasi dan liberalisasi serta moderasi beragama semakin mengukuhkan krisis generasi sekarang. Sungguh miris!
Begitu juga dengan persoalan negeri. Dimulai dengan menghadapi puncak Omicron, masyarakat dihantui inflasi energi berwujud kenaikan harga BBM. Ditambah beragam kebijakan penerbitan segala jenis pajak yang tampak lebih memberi prioritas dan keberpihakan kepada pengusaha dan oligarki.
Ditambah dengan isu yang lebih deras dan berbahaya di seputar pemikiran. Karut-marut dunia pendidikan yang berbasis sekuler dan liberal. Sementara di bidang hukum begitu banyak pelaku korupsi yang justru dilakukan oleh penegak hukum. Pemberantasan narkoba belum menampakkan solusi tuntas terhadap para bandar, pengedar maupun pemain besar narkoba.
Laman republika.co.id (30/12/2022) dan (1/1/2023) menulis, sepanjang tahun 2022 jumlah kejahatan tindak pidana narkoba sebanyak 39.709 perkara. Sementara jumlah penyelesaian kasus sepanjang 2022 sebanyak 33.169 perkara.
Menurut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, angka ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Sementara itu Badan Narkotika Nasional (BNN), telah menyita 1.902 ton sabu-sabu, 1.06 ton ganja, 262.789 butir ekstasi, dan 16,5 kg ekstasi berbentuk serbuk sepanjang 2022.
Begitupun angka kejahatan tahun 2022 sebanyak 276.507, naik 7,3 persen dibanding pada tahun 2021. Belum lagi, angka kerugian negara dan perekonomian negara akibat kasus korupsi, mencapai Rp142 triliun. Begitu juga dengan kasus investasi ilegal, Polri telah menangani sebanyak 28 kasus senilai Rp. 31,4 triliun, yang sangat berdampak kepada masyarakat.
Dengan berbagai persoalan tersebut harapan perbaikan kondisi pada tahun 2023 sangat berat. Apalagi saat ini menjadi tren tahun politik karena agenda Pemilu 2024 sudah di depan mata. Fokus para pejabat dan politisi maupun pemangku kebijakan justru lebih sibuk bersiap demi mengamankan posisi masing-masing pada pertarungan akbar nanti. Alih-alih memikirkan umat yang semakin terbengkalai.
Wajah demokrasi kapitalisme liberal hanya menyisakan tumpukan masalah dan krisis tanpa solusi. Penerapan aturan buatan manusia yang menyingkirkan aturan Sang Pencipta tidak akan membawa kemaslahatan, malah sebaliknya akan menghasilkan kemudaratan dalam semua sendi kehidupan.
Resolusi-resolusi yang digaungkan masih sangat jauh dari cita-cita besar dan tujuan hidup hakiki. Resolusi yang masih kental dengan paradigma kapitalisme sekulerisme. Berfokus hanya seputar individu dan materi semata. Jauh dari harapan dan cita-cita besar umat Islam dalam upaya mengokohkan jati dirinya.
Sejatinya, negeri muslim menolak resolusi yang batil dan berupaya melawan ide dan cita-cita sekuler kapitalisme liberal. Negeri muslim di dunia, saat ini – masih sangat jauh dari Islam sebagai pedoman hidupnya. Kehidupan umat teracuni pemikiran kapitalis sekuler. Belum lagi banyaknya negeri yang terjajah, problem kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, dsb.
Jangan putus harap. Islam menjadi sebuah oase dan harapan perubahan ke arah perbaikan ril bila diimplementasikan secara proporsional dan sempurna.
Tanamkan revolusi keyakinan akan pertolongan Allah dengan terus melangkah dan berdakwah memperjuangkan syariat-Nya. Segala kebaikan dan keberkahan akan terlimpah di negeri tercinta ini.
Sudah selayaknya menyongsong resolusi 2023
Bekal menyongsong resolusi 2023 ini adalah dengan berharap keridhoan Allah semata yang menjadi kunci sekaligus solusi tuntas agar terlepas dari berbagai permasalahan.
Allah Swt berfirman: ”Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-A’raf: 96).
Semoga Allah menganugerahkan kita negeri yang membawa kemaslahatan dengan kesempurnaan Islam. Tentu hanya dengan aturan yang bersumber dari Allah, yakti aturan Islam secara kafah.[]














Comment