Jeritan Gaza di Tengah Pekaknya Telinga Dunia

Opini188 Views

 

Penulis: Jumratul Sakdiah, S.Pd. | Pendidik Generasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Derita rakyat Gaza belum juga menemukan ujungnya. Korban terus berjatuhan, sementara penyiksaan demi penyiksaan berlangsung tanpa jeda. Entitas Zionis terus melancarkan serangan brutal terhadap warga Palestina, bahkan melegitimasi tindakan tersebut melalui berbagai instrumen hukum dan kebijakan.

Kesepakatan gencatan senjata yang digaungkan dunia internasional nyatanya belum mampu menghentikan gelombang kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa.

Sebagaimana dilansir berbagai media internasional sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa di Gaza telah mencapai puluhan ribu orang, sementara ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka. Anak-anak Palestina menjadi korban paling memilukan.

Banyak dari mereka kehilangan anggota tubuh akibat ledakan bom yang menghancurkan permukiman warga. Rumah-rumah rata dengan tanah, menyisakan puing, debu, dan duka yang membekas di setiap sudut Gaza.

Sejumlah lembaga kemanusiaan internasional melaporkan, warga yang selamat kini bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi memprihatinkan. Sanitasi buruk, keterbatasan air bersih, dan minimnya layanan kesehatan memicu merebaknya berbagai penyakit, terutama pada anak-anak.

Di sisi lain, bantuan kemanusiaan tersendat akibat pembatasan distribusi logistik melalui jalur Rafah.

Tak hanya serangan fisik, ekspansi wilayah pendudukan juga terus dilakukan secara sistematis. Bahkan, makam para syuhada dilaporkan turut mengalami penistaan dengan penggalian dan pemindahan paksa.

Situasi ini semakin memperlihatkan bagaimana rakyat Palestina dipaksa hidup dalam tekanan di tanah kelahirannya sendiri demi ambisi penguasaan penuh atas wilayah Palestina.

Berbagai cara dilakukan untuk menundukkan rakyat Gaza, termasuk melalui operasi militer besar-besaran yang dinilai banyak pihak sebagai bentuk genosida modern.

Pelanggaran terhadap hukum internasional dan aturan perang terus terjadi, mulai dari serangan terhadap fasilitas sipil hingga pembunuhan jurnalis yang berupaya menyampaikan fakta di lapangan. Semua itu seakan menjadi upaya sistematis untuk membungkam suara kebenaran dari Gaza.

Ironisnya, di tengah penderitaan yang terpampang nyata, dunia internasional tampak kehilangan ketegasan. Puluhan negeri muslim belum menunjukkan langkah konkret yang mampu menghentikan penjajahan.

Sekat nasionalisme dan lemahnya persatuan politik umat menjadikan dunia Islam berjalan sendiri-sendiri, sementara rakyat Palestina terus menghadapi penderitaan tanpa perlindungan nyata.

Padahal, akar persoalan Palestina terletak pada pendudukan yang terus berlangsung. Karena itu, penyelesaian masalah tidak cukup hanya dengan bantuan kemanusiaan atau wacana solusi dua negara (two-state solution). Yang dibutuhkan adalah langkah nyata untuk menghentikan penjajahan dan mengembalikan hak rakyat Palestina atas tanah mereka.

Pembebasan Palestina sejatinya memerlukan persatuan umat Islam dalam kekuatan politik dan kepemimpinan global yang kokoh.

Sejarah membuktikan bahwa umat Islam pernah tampil sebagai kekuatan besar ketika bersatu di bawah visi perjuangan yang sama. Persatuan itu pula yang dibutuhkan hari ini untuk menghadapi dominasi kekuatan global yang terus menopang penjajahan.

Karena itu, upaya menyatukan visi dan kepedulian umat Islam menjadi agenda yang mendesak. Dakwah yang masif, kesadaran politik umat, serta keteguhan dalam memperjuangkan keadilan harus terus dibangun, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam yang kuat dan berpengaruh. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment